Opini

Perpustakaan Sebagai Kuil Universal

Perpustakaan sebagai Kuil Universal

398views

 

Oleh Bambang Prakoso Dosen Ilmu Perpustakaan FISIP UWKS, Pegiat Literasi

 

Perpustakaan adalah kuil universal sekaligus firdaus agung bagi paca cindekia yang merawat akal budi dan kejernihan ruhani” setiap bacaan meninggalkan bekas pada memori kita, endapan pengetahuan itu harus ditambang diolah menjadi kata penuh manka. Saya merekonstruksi mantra literasi tersebut hasil dari olah pikiran, olah batin, menyerap energi dari alam semesta yang termanivestasi dalam magnum opus (buku) yang berjajar di perpustakaan.

KATA-– seorang filsuf, manusia itu dibekali kecerdasan majemuk dan multi dimensi, siapa saja yang mau menggali pemandatan alam semesta ini maka akan menemukan potensi dalam dirinya. Salah satu cara menggali potensi kita adalah dengan bertapa di kuil universal yang disebut perpustakaan. Perpustakaan adalah Firdaus agung yang menempati puncak mahzab universal yaitu mahzab cinta.

Universalitas perpustakaan tidak bisa disangkal oleh agama, suku, ras apapun. Kasta Sudra, Waisya, Ksatria, Brahmana, kaum proletar, borjuis, aliran kepercayaan, ateisme, monoteisme, faham fasisme, komunis dan golongan apapun, semua boleh bersimpuh, melingkar, menekut lutut, mengakrab’i deposit peradaban yang tersusun dirak-rak buku, dan lorong-lorong Cakrawala Pengetahuan dalam Perpustakaan.

Perpustakaan sebagai rumah yang penuh cinta, tidak sinnis, tidak sumbang, tidak mengobarkan api kebencian, semua pemustaka bisa menemukan cermin dirinya pada setiap buku yang dibaca. Perjalanan tiada tepi, pengetahuan tiada batas, lautan metafor, hamparan panjang kata-kata, bacaan menjadi perahu mengarungi gelombang makna, yang dipancangkan oleh waktu samudera yang tak bertepi sebagai mercusuar peradaban.

Dialog Imajiner diperpustakaan; Suatu ketika ada laki-laki yang duduk di sudut ruang perpustakaan setelah membaca bukunya Rumi, dan menemukan kalimat yang membuat sosok itu hayut “Aku hanya ingin menjadi debu yang menempel di bawah terompah” laki-laki itu ingin mewujudkan apa yang diinginkanya lalu berkelahi denga isi pikiranya, terseretnya ia oleh arus kalimat itu melahirkan eksotisme bahasa “Wahai rembulan walau tercapai tak mampu menjangkaumu namun temaramnya cahayamu mampu mencapai gulata malam jiwaku, wahai matahari walau mencapai tak mampu menjangkaumu namun panas api cintamu menghangatkan sedalam kalbuku.

Sosok pembaca lain yang duduk dikursi kayu warna coklat dekat jendela perpustakaan, sesekali mendengarkan desingan angin menggosokan punggunya di daun jendela, ia membaca kidung tentang kematian Tuhan, ia menciptakan Tuhan dari pikiranya sendiri lalu kira-kira orang-orang yang mabuk agama. Ia melanjutkan bacaan tentang kampung sejuta kubah Masjid yang hampir seluruh pengurus kampung korupsi, pengelola kampung jualan agama dan dalil untuk kepentingan politik dan kelompok tertentu, kini kampung itu terpuruk hampir bangkrut, mungkin 50 tahun lagi tinggal cerita saja karena kampung ini sibuk membangun isu, pencitraan , dan ornamen bukan tata nilai kehidupan.

Membaca dan perpustakaan tidak bisa dipisahkan, siapa yang bertapa dengan sungguh-sunguh bahkah menghikmati tiap kata maka akan mendapatkan keberkahan hiangga tiap aksara, akan melahirkan sosok-sosok yang mengagumkan. “Aku tak bisa hidup tanpa buku” Thomas Jefferson merekonstruksi kalimat penuh makna yang lahir dari pengalaman yang matang dan panjang.

Dalam ilmu perpustakaan ada kajian klasifikasi, saya akan mengklasifikasi tokoh-tokoh dunia yang besar karena membaca di antaranya, sosok negarawan; Sukarno, Hatta, Tan Malaka, Sutan Syahrir, Gusdur, sampai Obama. Para idiolog; Hasan al-Banna, Gandhi, Hitler, Stalin, Mao, Khomaeni, Karl Marx. Para budayawan; EMHA Ainun Najib, Pri GS, Ajib Rosdi. Para Teknokrat ; Steve Jobs, Elon Musk, Larry Page. Para penyair; W.S Rendra, D Zawawi Imron , Jalaludin Rumi, Kahlil Gibran, EE Cumming, Emily Dickinson, Pablo Neruda. Mereka semua lahir kedunia seperti halilintar membelah langit, semesta bergemuruh, menggetarkan. Ketika mereka bertindak dan berbicara semesta merayakan, Masyarakat menyambut, mengikutinya.

Sejarah adalah medium peng’abadian biografi sosok-sosok luhur, mereka adalah jiwa dari seluruh umat manusia, keluasan pengetahuan ke dalam ilmu, kehebatan mereka dikaji oleh banyak penulis, peneliti, akademisi lintas disiplin, dikaji dengan ragam sudut pandang yang menjadi cikal bakal lahirnya teori tentang orang -orang besar. Perpustakaan adalah tempat menemukan fakta sejarah bahwa sesungguhya bukulah yang menghantarkan mereka menjadi orang besar ”kalau shalat tiangnya agama maka membaca adalah tiangnya masyarakat”. **Bambang Prakoso Dosen Ilmu Perpustakaan FISIP UWKS, Pegiat Literasi.

Leave a Response