Oleh Ridhazia
Walimatussafar tradisi baik dan indah yang terancam punah. Acara khusus sebelum berangkat ke Tanah Suci itu secukupnya digantikan pernyataan di media sosial untuk minta maaf dan mohon doa keselamatan.
Padahal momen berpamitan itu sejak 1970-an sangat semarak di Indonesia. Mengundang kerabat dan tetangga terdekat. Ibarat hajatan nikahan atau khitanan saja dalam bentuk acara syukuran yang meriah.
Asal usul
Tradisi Walimatussafar — menurut etimologi bahasa Arab, kata (وَلِيْمَةٌ) ‘walimah’ adalah perjamuan, sementara kata (سَفَرٌ) ‘saffar’ artinya adalah perjalanan– yang berarti perjamuan untuk keberangkatan atau kepergian (perjalanan). Tradisi ini tidak ditemukan dan tidak dikenal dalam literatur Islam.
Tapi hal ini tidak dipersoalkan para ahli hukum Islam sebatas diniati baik. Apalagi menunaikan ibadah haji sebagaimana dicatat dalam sejarah dianggap sebagai perjalanan khusus. Berkendaraan sampan hingga kapal laut berbulan-bulan perjalanan. Tak semudah menggunakan pesawat terbang sekarang hanya beberapa jam saja.
Menurut catatan Martin van Bruinessen, dalam buku “Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat: Tradisi Islam di Indonesia” dilukiskan melaksanakan ibadah haji dari Tanah Air ke Tanah Suci itu ibarat perjalanan spekulasi antara hidup dan mati karena menumpang kapal VOC demi sampai ke negeri Arab.
Tradisi campuran
Tradisi ini ditandai dengan percampuran kebiasaan lokal. Satu daerah dengan daerah lain berbeda. Bahkan tertanam dalam kepercayaan, siapa saja yang menghadiri acara pengajian dan berdoa bersama hingga pengantaran seseorang yang berhaji bakal mendapat kesempatan disegerakan ke Tanah Suci. Demikian penjemputannya.
Di Jakarta
Dalam ensiklopedi Islam istilah walimatussafar baru muncul kembali pada tahun 1970-an. Sebelumnya lebih akrab dan dikenal sebagai selamatan atau syukuran. Suatu kelaziman yang dilakukan oleh kalangan masyarakat perkotaan di Jakarta.
Lalu tradisi ini berkembang ke kota lain dan pedesaan di Tanah Air. Bahkan menjadi adab dan kesunnahan secara khusus bagi yang akan melaksanakan safar hingga penjemputan kembali ke Tanah Air. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Vila Bumi Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.





