Metro Bandung

Wartawan Tersinggung : Gubernur Jawa Barat Diskriditkan Tugas Jurnalistik

292views

Sikap Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi Diskriditkan Tugas Jurnalistik, Wartawan Kecewa dan Tersinggung

KOTA BANDUNG, BANDUNGPOS – Ucapan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi di kanal YouTube telah menyinggung dan menimbulkan kekecewaan terhadap para wartawan. Bahkan dianggap akan menimbulkan konflik serta berakibat terhadap ancaman kehidupan manusia.

Para wartawan yang bertugas di wilayah Kota Bandung, termasuk di lingkungan instansi Pemkot atau Pemprov dan DPRD Jawa Barat mengungkapkan, bahwa ucapan seorang Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi itu, tidak pantas diucapkan. Mengingat, dirinya adalah sosok panutan dan figur publik.

Pertemuan dengan DPR RI dan Para Gubernur:

Terlebih lagi, ucapan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi itu diunggah dikanal YouTube yang ditonton oleh jutaan ribu pengguna gadget. Sebelumnya beredar dialog Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat menghadiri rapat komisi II DPR RI dan para gubernur, termasuk Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud.

Pada pertemuan itu Rudy Mas’ud menyebut, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi sebagai “Gubernur Konten”. Disampaikan saat menghadiri rapat antara sejumlah gubernur dan Komisi II DPR di Gedung DPR, Senayan Jakarta, Selasa 29 April 2025.

Sebut Gubernur Konten:

Di akhir pemaparannya, Dedi Mulyadi menanggapi ucapan Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud. Menurut Dedi, meski dirinya sering mengonten, namun kegiatannya ternyata berdampak pada belanja rutin iklan. “Dan terakhir tadi Pak Gubernur Kaltim mengatakan Gubernur Konten.”

Diakui dari konten yang dimilikinya bisa menurunkan belanja rutin iklan. Pemprov Jabar biasanya mengeluarkan uang belanja iklan sebesar 50 miliar untuk iklan.
Namun, karena kontennya viral terus, sayangnya bisa menghemat biaya iklan menjadi 3 miliar saja.

“Alhamdulilah dari konten yang saya miliki bisa menurunkan rutinitas belanja. Biaya rutin Pemprov Jabar kerjasama dengan media 50 miliar, sekarang cukup 3 miliar saja tapi viral terus,” kata Dedi Mulyadi.

Momen itu diunggah di kanal YouTube Warta Kota Production, dengan judul Respon Menohok Dedi Mulyadi Disebut Gubernur Konten Oleh Gubernur Kalitim, dipublih 29 April 2025.

Tugas Wartawan Dilindungi UU:

Menyanggapi ucapan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi di kanal YouTube tersebut, wartawan yang bertugas di wilayah Kota Bandung langsung merespons. Menurut awak media, bahwa ucapan itu tak pantas dilontarkan, terlebih ia sosok Dedi Mulyadi sebagai figur publik dan pejabat tinggi di Jawa Barat bahkan menjadi panutan masyarakat.

“Itu artinya sudah tidak menghargai media yang menugaskan para wartawannya untuk menjalankan tugas jurnalistiknya,” kata Akbar seorang wartawan online Republikan.com di sela sela peliputan rapat Paripurna DPRD Provinsi Jabar, Jumat 16 Mei 2025.

Dijelaskannya, wartawan yang melakukan liputan, dipastikan memiliki PT dan dilindungi oleh undang-undang. Anehnya mereka ini seolah tidak diperkenankan untuk melakukan tugas dan menjalin hubungan baik dengan hubungannya masing-masing.

“Media bisa punya PT yang menaungi onlinenya, supaya kita dipercaya oleh relasi atau narasumber. Lah ini, ucapan seorang gubernur seperti itu tidak memberikan narasi untuk membangun hubungan dengan baik, tapi sebaliknya malah mengundang terciptanya konflik dengan relasi berkedok efisiensi,” tandasnya.

Keuntungan Lipat Ganda :

Hal senada disampaikam Ombik wartawan media online desk Jabar.com. Menurutnya, Gubernur Dedi Mulyadi jika diibaratkan, ia adalah seorang pedagang yang menjual barang berupa jasa kepada masyarakat.

“Ini sangat jelas, ketika Gubernur Dedi Mulyadi memberikan sumbangan kepada masyarakat dengan jumlah 1 juta orangnya dan dibuatkan konten serta viral, maka ia akan mendapat keuntungan berlipat ganda dari uang yang dikeluarkannya itu,” tandas Ombik.

Keuntungan ini didapat, tegasnya lagi, dari jumlah penonton dan subscribe, like serta komen juga share yang mencapai jutaan ribu. Hal senadapun disampaikan Bagus, seorang wartawan yang meliput kegiatan DPRD Provinsi Jabar.

Picu Konflik :

Menurut Bagus, ucapan gubernur tersebut seolah menggambarkan bahwa tim media yang dimiliki dan berada dalam lingkarannya, lebih hebat dari media media lainnya.

“Sikap inilah yang akan memicu konflik. Apakah benar dengan media yang dimilikinya mampu memberikan informasi, bisa mengcover semua peristiwa di Jabar?,” jelas Bagus.** (Adem/BNN)

Leave a Response