
الحمدلله على كل حال
Memaknai Ungkapan kalimat diatas adalah: ‘alā kulli ḥāl) berarti: “Segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan.”
Ungkapan ini mengandung ajaran ridha, syukur, dan tawakkal kepada Allah, baik ketika memperoleh sesuatu yang menyenangkan maupun ketika menghadapi sesuatu yang tidak disukai.
1. Makna “على كل حال” كُلِّ حَالٍ berarti setiap keadaan. Jadi seorang mukmin tidak hanya memuji Allah ketika mendapat nikmat, tetapi juga tetap memuji-Nya ketika mendapat ujian.
Allah berfirman:
وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)
2. Bukan berarti semua keadaan harus dianggap menyenangkan
Ini penting. Mengucapkan الحمد لله على كل حال bukan berarti kita tidak boleh sedih, menangis, atau berusaha menghilangkan kesulitan.
Maksudnya adalah: Nikmat → bersyukur. Ujian → bersabar. Kesalahan → segera bertobat. Musibah → memohon pertolongan Allah. Keberhasilan → tidak sombong. Kegagalan → tidak berputus asa. Jadi yang tetap adalah pujian kepada Allah, sementara sikap kita menyesuaikan keadaan.
3. Hubungannya dengan hadits Nabi ﷺ Nabi ﷺ bersabda: عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ… “Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya…” Kemudian Nabi ﷺ menjelaskan: apabila mendapatkan kesenangan ia bersyukur, dan itu baik baginya; apabila mendapatkan kesusahan ia bersabar, dan itu juga baik baginya. (HR. Muslim) Ini sangat dekat dengan makna الحمد لله على كل حال.
4. Tingkatan yang lebih dalam Kalau direnungkan, kalimat ini mengajarkan: الحمد لله عند النعمة، والحمد لله عند البلاء، والحمد لله في السراء والضراء. “Segala puji bagi Allah ketika mendapat nikmat, ketika mendapat ujian, dalam keadaan lapang maupun sempit.”
Karena seorang mukmin yakin bahwa Allah tidak pernah sia-sia dalam menetapkan sesuatu. Sesuatu yang kita anggap buruk belum tentu buruk dalam ilmu Allah.
Maka الحمد لله على كل حال bukan sekadar ucapan lisan, tetapi latihan hati agar: tidak lupa kepada Allah ketika senang, dan tidak berburuk sangka kepada Allah ketika susah.





