
Ku: Ridhazia
SECARA skala kemanusiaan dan dampak traumatismenya akibat tragedi 1965 di Indonesia disetarakan Holakaus oleh tentara Nazi di Jerman.
Para sejarawan sependapat kedua kekerasan politik yang merenggut jutaan nyawa manusia itu tercatat paling kejam pada abad ke-20. Hanya saja kedua tragedi bermotif politik kekuasaan sedikit berbeda.
Jika Holokaus berbasis genosida yakni pemusnahan total kelompok ras, etnis, atau agama Yahudi oleh militer. Sedangkan tragedi 1965 sebagai kekerasan kolektif oleh militer berbasis ideologi dan afiliasi politik komunisme.
Jejak Kekerasan Politik Tersingkat
Tragedi 1965 sebagaimana diulas dalam buku “Musim Menjagal” karya Geoffrey B. Robinson yang terbit tahun 2108 sebagai jejak sejarah pemusnahan massal paling singkat dan intensif.
Padahal tragedi yang kemudian menutup babak Orde Lama dan kemudian menjadi Orde Baru bukan merupakan perang saudara konvensional. Melainkan bentuk kekerasan politik satu arah (one-sided violence).
Jika tragedi Holokaus yang terjadi dalam rentang panjang antara 1933–1945 mengakibatkan pembunuhan massal terhadap sekitar enam juta orang Yahudi Eropa, yang mencakup dua pertiga dari populasi Yahudi di benua Eropa sebagai kelompok sipil tak bersenjata.
Sedangkan Tragedi 1965 terjadi dalam rentang enam bulan antara Oktober 1965 hingga Maret 1966 dengan perkiraan resmi korban tewas mencapai 2 hingga 3 juta jiwa, serta sekitar 1 hingga 1,5 juta orang kelompok sipil tak bersenjata ditahan paksa tanpa proses peradilan.
Dikutuk Mengulangi
Menulis kembali peristiwa sejarah mengingatkan pernyataan seorang filsuf, penyair, dan kritikus budaya asal Spanyol-Amerika George Santayana.
Kalimat asli dalam bukunya, The Life of Reason (1905), berbunyi: “Those who cannot remember the past are condemned to repeat it.”
Artinya, “Mereka yang tidak dapat mengingat masa lalu dikutuk untuk mengulanginya”.*
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.

