Kolom Sosial Politik

Rahasia TEMPO Bertahan dalam Segala Cuaca Politik

141views

 

Oleh:  Ridhazia

KELUARGA  saya pelanggan Majalah Berita Tempo, selain Harian Kompas, Jakarta dan Pikiran Rakyat, Bandung.

Saya sudah mengenal ketiga media cetak itu sejak masih sekolah menengah pertama tahun 1970-an.

Dan, hingga ini masih membaca majalah berita ini hingga giliran saya menjadi jurnalis dan “guru” keilmuan jurnalistik di perguruan tinggi.

Padahal tahun 2026, usia terbit majalah Tempo sudah lebih setengah abad, tepatnya 55 tahun, sejak didirikan 6 Maret 1971 oleh Goenawan Mohamad dkk dengan slogan “Enak Dibaca dan Perlu”.

Tangguh!

Majalah Tempo pernah teruji eksistensinya ketika dibredel pertama kali tahun 1982 karena dianggap terlalu tajam mengkritik rezim Orde Baru dan partai Golkar.

Pemberedelan kedua pada tanggal 21 Juni 1994 bersamaan pemberedelan ini terjadi bersamaan Editor dan Detik.

Namun alih-alih hancur justru Tempo kembali terbit memperkuat reputasinya sebagai media yang berintegritas tanpa menunggu perubahan.

Tempo terbit kembali pada 12 Oktober 1998 dengan mempertahankan kepercayaan publik di tengah perubahan lanskap dan cuaca politik Indonesia yang kerap berubah-ubah.

Kebisingan Disrupsi

Di tengah kebisingan disrupsi, Tempo menolak langkah mundur tetapi memilih tetap bertahan. Malah semakin terobsesif melayani pembacanya.

Menghadapi disrupsi besar yakni kombinasi teknologi dan politik, Majalah Tempo memilih antara ketahanan (resiliensi), adaptasi cepat, dan inovasi strategis.

Disrupsi bagi Tempo bukan sekadar ancaman, melainkan bagaimana mampu melepaskan cara lama (unlearn) dan mempelajari hal baru (relearn) dengan cepat.

Laporan Mendalam

Untuk memperkuat reputasinya, Tempo bertahan menyajikan laporan mendalam mengenai isu-isu skandal politik yang krusial yang lolos dari pemberitaan media lain.

Majalah ini mengartikulasikan apa yang benar-benar penting para jurnalis Tempo fokus agar menciptakan cerita baru dan berani melakukan eksplorasi meskipun ada ancaman risiko.

Sebagaimana diketahui, teror terakhir berupa pengiriman paket kepala babi ke kantor redaksi Tempo terjadi pada Rabu, 19 Maret 2025 untuk wartawan desk- politik dan pembawa acara siniar “Bocor Alus Politik”.

Tajam Analisis

Dengan mempertahankan prinsip “jernih melihat, tajam menganalisis ” majalah Tempo mempertahankan fondasi jurnalisme investigatif paling berani dan kritis di Indonesia.

Konsistensi inilah yang melanggengkan Tempo tetap diakui sebagai salah satu standar media tanpa intervesi dari luar. Independensi adalah harga mati di Tempo.

Beradaptasi

Tempo juga berhasil beradaptasi dengan perubahan. Memilih bisnis yang agresif dari model bisnis tradisional menuju ekosistem digital yang kokoh.

Di tengah disrupsi media, Tempo melakukan transformasi digital untuk memastikan jurnalisme berkualitas tetap dapat diakses publik.

Disrupsi bagi majalah sekaliber Tempo tidak lagi dipandang sebagai ancaman. Tapi peluang besar untuk bertransformasi dan memimpin pasar media nasional. Dan, terbukti benar. Ketangguhannya bertahan nyata.

Demikian juga dengan bisnis. Tempo sebagai perusahaan media tidak hanya terpaku pada tulisan, tetapi merambah ke podcast, video, dan kekuatan konten (data journalism) menghadapi banjir informasi (infodemic) dan hoaks.

Berlangganan

Malah Tempo mengartikulasikan apa yang benar-benar penting di era perubahan besar untuk mempertahankan bisnisnya.

Ide baru untuk memperlebar pelanggan dan pembaca, manajemen bisnis Tempo menerapkan sistem paywall (berlangganan) untuk konten-konten premium dan investigasi.

Pilihan ini membuktikan bahwa publik pelanggan dan pembaca Tempo bersedia membayar untuk kualitas jurnalistik sekaligus menjadi salah satu sumber pendapatan penting di luar iklan yang sudah menipis dan terkuras.*

* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response