President Dilans: Literasi dan Ajakan Kolaborasi Lintas Batas Negara Segera Menggelinding
Literasi dan Ajakan Kolaborasi Lintas Batas Negara Segera Menggelinding

KOTA BANDUNG, BANDUNGPOS– Kota-kota di seluruh dunia, aksesibilitas seringkali dibingkai melalui lensa desain universal. Ramp, lift, paving taktil, dan jalur pejalan kaki yang lebar merupakan hal yang tidak penting—yang tidak dapat membuktikan krusial bagi inklusi fisik. Namun, itu bukanlah keseluruhan cerita.
Terlalu sering, desain universal menjadi check list, kotak yang harus dicentang, alih-alih pemahaman tentang bagaimana orang yang berbeda sesungguhnya mengalami ruang.
Demikian diungkapkan President Dilans Indonesia, Farhan Helmy, di ruang kerjanya kepada awak media, hari ini.
Menurut Farhan, bagi banyak individu neuro-divergen (autis, ADHD, disleksia, dispraksia, dan lainnya), hambatan sebenarnya bukanlah fisik melainkan sensorik dan kognitif: intensitas cahaya yang tinggi dan berlebihan, akustik yang menggema, bau yang menyengat, kemacetan yang tak terduga, dan papan tanda yang membingungkan.
Ditambahkannya, sebuah museum/galeri mungkin sudah dilengkapi infrastruktur yang bisa diakses, namun belum sepenuhnya mengakomodasi kepentingan warga ini yang tidak kasat mata.
“Saya bukan ahli “neuro-divergen”. Pengalaman profesional dalam berfikir sistem, inovasi sosial, serta interaksi yang intens dengan para relawan “neuro-divergen” di DILANS Indonesia menginspirasinya di LinkedIn: Designing for Every Mind: Beyond the Limits of Universal Design, ” kata Farhan.
Harapannya, literasi dan ajakan kolaborasi lintas batas negara menggelinding. Warga ini diperkirakan lebih dari 10% penduduk dunia, jumlah yang luar biasa besar. **( FH/BNN)





