Kolom Sosial Politik

Penguasa “Bawang”

31views

 

Oleh: Ridhazia

UNGKAPAN  Presiden Prabowo tentang pengupas bawang menghebohkan jagat Nusantara.

Setidaknya kata bawang meluas menjadi frasa “berada di awang-awang” karena nominal yang disebutkan presiden tersebut tidak sesuai kenyataan.

Lalu, apa itu “bawang”?

Dalam tafsir politik, frasa “berada di awang-awang” mengisyaratkan bahwa negara ini sedang dibawa pada situasi yang bersifat abstrak. Sulit diraba atau dibuktikan wujudnya.

Hanya bersifat angan-angan, atau tidak berpijak pada kenyataan. Bukan realitas konkret yang benar ada dalam kehidupan nyata. Tapi hanya bersifat khayalan atau teori belaka.

Hampa dan Kosong

Dalam khazanah filsafat Sunda, istilah “awang-awang” merujuk pada ruang hampa, kekosongan mutlak, atau ketiadaan.

Dengan kata lain, awang awang yang diserupakan “melayang-layang di angan-angan” tidak lagi membumi. Atau lazim disebut juga sebagai overthinking yakni melamun tanpa arah.

Kondisi ini membuat sang penguasa sulit mengambil tindakan nyata karena terlalu sibuk dengan bayangan di dalam pikirannya sendiri melalui pidato.*

 * Ridhazia, dosen senior Fidko UIN Sunan Gunung Djati, kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik., bermukim di Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response