Musik & Budaya

Ngopi Sewarung: Politik Kebodohan

Pahami

169views

Ngopi Sewarung:

Politik Kebodohan

KELOMPOK — orang yang senang menjualnya menjadi alat kepentingan politik praktis. Praktek komersial yang diperlihatkan dan dikemas sedemikian rupa supaya laku dijual ke publik. Kendaraan yang dikeluarkan untuk penjualan politik macam-macam bentuknya. Setidaknya ada dua jenis kendaraan yang belakangan ini sering dipake oleh praktik politik kekerasan kelompok tersebut.

Pertama kendaraan agama. Idiom-idiom agama paling mudah digunakan oleh pemain politik pembusukan karena terkait langsung dengan emosi dan keyakinan pribadi seseorang. Masih ingat beberapa waktu lalu, ketika ada politisi dan tokoh masyarakat bahkan calon presiden yang sangat rajin menggunakan identitas agama sebagai modal utama kampanye politik. Sampai-sampai ia rela menerima lebel tertentu oleh agama lain. Ketika para pendukungnya menyebut dirinya sebagai Imam Mahdi dan Imam Besar, ia terlihat sangat menyukai dan bangga. Saat umat terancam konflik gara-gara ulahnya memainkan identitas agama dan pendukungnya senang sebar kebencian dan hoaks , ia seolah menyetujui, mungkin dengan asumsi asal bisa mengantarkan dirinya bisa naik ke atas kursi kekuasaan meskipun rakyat pendukungnya semakin bodoh.

Kendaraan kedua yang sering digunakan adalah ringkasan. Praktek dikemas sedemikian rupa dalam aneka bentuk: hoaks, framing, playing Victim, dan lain-lain. Kebohongan pun menjadi tampak seperti benar. Yang terpopuler sekarang misalnya membangun narasi secara masif melalui kasus tuduhan ijasah.Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba kelompok ini menuduh mantan presiden telah menggunakan ijasah palsu. Terus dibuatlah pembenaran logika, dicari bukti dan fakta yang mendukung logika tersebut, seolah-olah mereka sedang dan sudah melakukan penelitian yang benar. Mereka juga menerbitkan buku yang halamannya banyak, tebal, seolah-olah hasil “riset” mereka bernilai akademis tinggi dan layak dibaca dan dipercaya. Selanjutnya disebarkan sambil dibumbui dengan narasi fitnah serta kebencian agar rakyat semakin yakin, setuju, dan membenarkan bahwa ijasah itu memang palsu meskipun mereka hanya melihat, meriset lembaran poto copy dan tidak pernah melihat dan menyentuh ijasah aslinya.

Begitulah cara-cara berpolitik pencurian yang kini telah menelan banyak korban termasuk kaum akademisi, politisi, budayawan, seniman, intelektual yang sebelumnya mereka terlihat cerdas dan pintar, tapi seketika berubah menjadi terlihat sangat bodoh setelah ikut terjerat arus gelombang politik dan mendokumentasikan, hal yang sangat membekukan perasaannya, Pahami  ** Uten Sutendy/ rm   Tuan Sepuluh.

Leave a Response