IN MEMORIAM

Nasirun Sang Pelukis Jiwa

14views

 

Oleh: Ridhazia

Dunia kesenimanan Indonesia berduka.
Nasirun (1965-2026), maestro lukis kontemporer meninggal dunia di Jogyakarta pada Sabtu (1/8/2026).

Hingga sekarang, ketiadaannya masih sulit dipercaya. Bagaimana mungkin, pria periang yang kerap tertawa lepas, humble, sederhana dan grapyak itu harus meninggal dunia fana yang sedang dipuncaki.

Mencari Tuhan

Di berbagai podcast, Nasirun mengaku ‘terpana’ dengan kebudayaan Ngayogyakarta. Dan, ia memilih jalan itu. Terbukti dari karyanya yang prestisius dan kontemporer. Ia menggabungkan kearifan lokal, mitologi, dan spiritualitas.

Dengan kata lain perjalanan hidup Nasirun dibentuk oleh kekaguman mendalam pada budaya Jawa dan mistisisme Islam sebagaimana embentuk ciri khas karya lukisnya.

Melalui kanvas, Nasirun juga tergila-gila dalam mencari Tuhan. Ia mengaku semua itu pengaruh ayahnya yang merupakan seorang guru tarekat.

Tak berlebihan kalau lukisan Nasirun memberi makna spiritual dalam lukisan merujuk pada pesan batin, rohani, atau transendental yang dituangkan seniman melalui simbol, warna, dan objek melalui saluran kuas.

Deposito

Diberbagai podcast, pria gondrong kerap bercerita masa lalunya di Cilacap yang miskin alih-alih disebut sebagai penderitaan malah ia menyebutnya sebagai “deposito” . Tabungan berjangka panjang yang bunganya yang mengubah hidupnya.

Zakat Kebudayaan

Ketika saya ke studio Nasirun di Bantul, Yogyakarta (2025) ruang pamer yang sekaligus ruang kreatifnya itu tenyata tidak hanya memajang karya pribadi.

Tapi disekat-sekat untuk menyimpan berbagai benda kebudayaan tradisional, artefak, dan barang antik yang sering menjadi inspirasi atau objek eksplorasi seni yang digumulinya.

Yang paling menarik dan mengagumkan studio kesenimanan Nasirun — yang dipopulerkan sebagai “Istana Nasirun” — ternyata dibuat untuk berbagi koleksi karya seniman lain

Ia mengistilahkan sebagai “zakat kebudayaan” untuk merawat sejarah seni rupa Indonesia. Sekaligus sebagai bentuk laku budaya. Terutama karya-karya pendahulu yang terpinggirkan dan terlupakan.

Beberapa diantaranya arsip dari karya perupa terkenal S. Sudjojono, Hendra Gunawan, Emiria Soenassa, Ki Hadjar Dewantara, Fadjar Sidik, Danarto Affandi dan karya perupa dari Sanggar Bambu. *

  * Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response