Kabupaten/Kota

Milad 54 Tahun PKK Maros dan Kado Buku “Cahaya Literasi dari Desa”

MAROS — Puncak peringatan Hari Kesatuan Gerak (HKG) ke-54 PKK Kabupaten Maros tak hanya menjadi momentum evaluasi program pemberdayaan keluarga. Tahun ini, gerakan literasi ikut mendapat sorotan melalui peluncuran buku Menyalakan Cahaya Literasi dari Desa, karya Ketua TP PKK Kabupaten Maros, Ulfiah Nur Yusuf Chaidir, bersama para bunda literasi dari 14 kecamatan dan 103 desa serta kelurahan. Buku tersebut menghimpun pengalaman para kader PKK dalam menggerakkan literasi di tengah masyarakat. Sebanyak sekitar 49 penulis turut menuangkan pengalaman mereka dalam buku setebal sekitar 258 halaman, di luar halaman romawi. Bupati Maros Chaidir Syam mengapresiasi kiprah kader PKK yang dinilainya memiliki posisi penting dalam pembangunan daerah. Menurutnya, PKK merupakan mitra strategis pemerintah karena bekerja langsung menyentuh unit terkecil masyarakat, yakni keluarga. Bacaan Lainnya Bupati Maros Kunjungi Sentra Garam Ampekale, Produksi 60 Are Tembus 15 TonChaidir Syam Kembali Nahkodai PMI Maros, Relawan Diminta Siap Hadapi BencanaDPRD Maros Desak PDAM Upgrade Mesin, Tapi Terkendala Penganggaran dan Perda “PKK memiliki peran yang sangat mendasar dan vital. Melalui peringatan HKG ke-54 ini, saya berharap sinergi dan kolaborasi antara Pemkab Maros dan TP PKK semakin diperkuat, terutama dalam mengawal program-program prioritas seperti penanganan stunting, pengentasan kemiskinan ekstrem, serta peningkatan kualitas pendidikan dan ekonomi keluarga,” ujar Chaidir. Chaidir juga menilai PKK memiliki peran penting dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap lingkungan. Menurutnya, gerakan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya mewujudkan lingkungan yang lebih asri sekaligus meningkatkan kesadaran warga menjaga kebersihan. “Pemerintah wujudkan Indonesia asri. Ibu-ibu PKK membantu kita mensosialisasikan agar masyarakat bisa mencintai lingkungan serta sadar dalam menjaga kebersihan dengan menghidupkan literasi lingkungan,” katanya. Ia menegaskan, literasi tidak cukup dipahami sebatas kemampuan membaca dan menulis. Literasi harus menjadi gerakan yang hidup dan hadir di tengah masyarakat, termasuk melalui peran kader PKK. Chaidir juga menyampaikan apresiasi kepada para pegiat literasi, termasuk Bachtiar Adnan Kusuma, yang dinilainya konsisten mendorong gerakan literasi di Kabupaten Maros. “Terima kasih kepada Bapak Bachtiar Adnan Kusuma serta seluruh penggiat-penggiat literasi yang terus mendorong gerakan-gerakan literasi,” ucapnya. Menurut Chaidir, menjaga pengetahuan, ilmu, dan kapasitas masyarakat, terutama anak muda dan generasi penerus, merupakan bagian penting dari gerakan literasi. Namun, upaya tersebut tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri. “Tidak mungkin PKK desa akan berhasil kalau tidak disupport oleh kepala desanya. Demikian juga tidak mungkin PKK kecamatan akan berhasil kalau tidak disupport oleh bapak camatnya,” tegasnya. Hal yang sama berlaku pada gerakan literasi di tingkat kabupaten. Dukungan pemerintah daerah dan organisasi perangkat daerah terkait dinilai menjadi bagian penting agar program tersebut dapat berjalan secara berkelanjutan. “Karena itu, mari kita bersinergi yang baik, gerakan yang baik untuk menunjukkan 10 Program PKK,” ajaknya. Sementara itu, Ketua TP PKK Kabupaten Maros Ulfiah Yusuf mengatakan HKG ke-54 tidak seharusnya berhenti sebagai kegiatan seremonial tahunan. Momentum tersebut, kata dia, harus menjadi ruang refleksi sekaligus pemantik semangat bagi seluruh kader untuk terus berbenah dan bergerak bersama masyarakat. Ia menegaskan, pelaksanaan program PKK tetap mengacu pada 10 Program Pokok PKK. Sejumlah fokus yang terus didorong antara lain optimalisasi Posyandu Era Baru, percepatan penurunan angka stunting, serta penanganan kasus TBC di masyarakat. “HKG ke-54 ini adalah momentum bagi kita semua untuk memperkuat komitmen. Seluruh kader PKK di Maros harus tetap tangguh, inovatif, dan adaptif dalam mengimplementasikan 10 Program Pokok PKK demi mewujudkan keluarga yang sejahtera, mandiri, dan berkarakter,” tegas Ulfiah. Di tengah peringatan HKG tersebut, gerakan literasi menjadi salah satu perhatian utama. Para kader PKK tidak hanya menjalankan program di lapangan, tetapi juga mulai mendokumentasikan pengalaman pengabdian mereka melalui karya tulis. Tokoh Literasi Nasional Bachtiar Adnan Kusuma dalam prolog sebelum soft launching buku tersebut mendorong para kader PKK dan bunda literasi untuk menjadikan menulis sebagai bagian dari aktualisasi diri. Bachtiar mengangkat gagasan dari buku The Dignity of Writing untuk menggambarkan pentingnya aktivitas menulis. Menurutnya, manusia memiliki kemampuan berpikir, meramu kata, dan melahirkan gagasan menjadi sebuah karya. Karena itu, menulis tidak hanya berkaitan dengan menghasilkan sebuah buku, tetapi juga menjadi cara untuk meninggalkan jejak pemikiran dan pengalaman bagi generasi berikutnya. Ia menilai Menyalakan Cahaya Literasi dari Desa memiliki nilai penting karena lahir dari pengalaman empiris para kader PKK di lapangan. “Buku ini sesungguhnya membuktikan bahwa para bunda literasi kita akan dikenang. Karena orang yang menulis buku akan dikenang sejarah,” ujarnya. Bachtiar mengatakan, tulisan dalam buku tersebut bukan sekadar karya yang disusun dari sumber bacaan. Tulisan-tulisan itu lahir dari pengalaman para kader dalam menjalankan pengabdian di tengah masyarakat. “Ini betul-betul membuktikan satu karya tulis yang mengungkapkan berdasarkan pengalaman empiris. Bukan karya asal, tetapi murni karya tulis yang dilahirkan oleh ibu-ibu,” katanya. Menurutnya, karya tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kader PKK tidak hanya menjadi pembaca atau konsumen karya orang lain. Mereka juga mampu menjadi penulis dan produsen pengetahuan berdasarkan pengalaman pengabdian mereka. Buku Menyalakan Cahaya Literasi dari Desa melibatkan bunda literasi dari 14 kecamatan serta 103 desa dan kelurahan. Kehadiran buku itu menjadi bagian dari upaya mendokumentasikan pengalaman kader sekaligus memperkuat gerakan literasi hingga tingkat paling bawah. Puncak HKG ke-54 PKK Kabupaten Maros pun menjadi momentum untuk menegaskan bahwa gerakan pemberdayaan keluarga tidak hanya berbicara tentang pelaksanaan program, tetapi juga tentang bagaimana pengalaman para kader dapat diubah menjadi pengetahuan yang terdokumentasi dan diwariskan. Dari tingkat keluarga hingga desa, pengalaman pengabdian para kader kini dituangkan dalam bentuk karya. Melalui buku tersebut, gerakan literasi diharapkan terus tumbuh dan menjangkau masyarakat lebih luas.

44views

 

KABUPATEN MAROS, Bandungpos.id — Puncak peringatan Hari Kesatuan Gerak (HKG) ke-54 PKK Kabupaten Maros tak hanya menjadi momentum evaluasi program pemberdayaan keluarga. Tahun ini, gerakan literasi ikut mendapat sorotan melalui peluncuran buku Menyalakan Cahaya Literasi dari Desa, karya Ketua TP PKK Kabupaten Maros,  Ulfiah Nur Yusuf Chaidir, bersama para bunda literasi dari 14 kecamatan dan 103 desa serta kelurahan.

Buku tersebut menghimpun pengalaman para kader PKK dalam menggerakkan literasi di tengah masyarakat. Sebanyak sekitar 49 penulis turut menuangkan pengalaman mereka dalam buku setebal sekitar 258 halaman, di luar halaman romawi.

Bupati Maros Chaidir Syam mengapresiasi kiprah kader PKK yang dinilainya memiliki posisi penting dalam pembangunan daerah. Menurutnya, PKK merupakan mitra strategis pemerintah karena bekerja langsung menyentuh unit terkecil masyarakat, yakni keluarga.

“PKK memiliki peran yang sangat mendasar dan vital. Melalui peringatan HKG ke-54 ini, saya berharap sinergi dan kolaborasi antara Pemkab Maros dan TP PKK semakin diperkuat, terutama dalam mengawal program-program prioritas seperti penanganan stunting, pengentasan kemiskinan ekstrem, serta peningkatan kualitas pendidikan dan ekonomi keluarga,” ujar Chaidir.

Chaidir juga menilai PKK memiliki peran penting dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap lingkungan. Menurutnya, gerakan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya mewujudkan lingkungan yang lebih asri sekaligus meningkatkan kesadaran warga menjaga kebersihan.

“Pemerintah wujudkan Indonesia asri. Ibu-ibu PKK membantu kita mensosialisasikan agar masyarakat bisa mencintai lingkungan serta sadar dalam menjaga kebersihan dengan menghidupkan literasi lingkungan,” katanya.

Ia menegaskan, literasi tidak cukup dipahami sebatas kemampuan membaca dan menulis. Literasi harus menjadi gerakan yang hidup dan hadir di tengah masyarakat, termasuk melalui peran kader PKK.

Chaidir juga menyampaikan apresiasi kepada para pegiat literasi, termasuk Bachtiar Adnan Kusuma, yang dinilainya konsisten mendorong gerakan literasi di Kabupaten Maros.

“Terima kasih kepada Bapak Bachtiar Adnan Kusuma serta seluruh penggiat-penggiat literasi yang terus mendorong gerakan-gerakan literasi,” ucapnya.

Menurut Chaidir, menjaga pengetahuan, ilmu, dan kapasitas masyarakat, terutama anak muda dan generasi penerus, merupakan bagian penting dari gerakan literasi. Namun, upaya tersebut tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri.

“Tidak mungkin PKK desa akan berhasil kalau tidak disupport oleh kepala desanya. Demikian juga tidak mungkin PKK kecamatan akan berhasil kalau tidak disupport oleh bapak camatnya,” tegasnya.

Hal yang sama berlaku pada gerakan literasi di tingkat kabupaten. Dukungan pemerintah daerah dan organisasi perangkat daerah terkait dinilai menjadi bagian penting agar program tersebut dapat berjalan secara berkelanjutan.

“Karena itu, mari kita bersinergi yang baik, gerakan yang baik untuk menunjukkan 10 Program PKK,” ajaknya.

Sementara itu, Ketua TP PKK Kabupaten Maros Ulfiah Yusuf mengatakan HKG ke-54 tidak seharusnya berhenti sebagai kegiatan seremonial tahunan. Momentum tersebut, kata dia, harus menjadi ruang refleksi sekaligus pemantik semangat bagi seluruh kader untuk terus berbenah dan bergerak bersama masyarakat.

Ia menegaskan, pelaksanaan program PKK tetap mengacu pada 10 Program Pokok PKK. Sejumlah fokus yang terus didorong antara lain optimalisasi Posyandu Era Baru, percepatan penurunan angka stunting, serta penanganan kasus TBC di masyarakat.

“HKG ke-54 ini adalah momentum bagi kita semua untuk memperkuat komitmen. Seluruh kader PKK di Maros harus tetap tangguh, inovatif, dan adaptif dalam mengimplementasikan 10 Program Pokok PKK demi mewujudkan keluarga yang sejahtera, mandiri, dan berkarakter,” tegas Ulfiah.

Di tengah peringatan HKG tersebut, gerakan literasi menjadi salah satu perhatian utama. Para kader PKK tidak hanya menjalankan program di lapangan, tetapi juga mulai mendokumentasikan pengalaman pengabdian mereka melalui karya tulis.

Tokoh Literasi Nasional Bachtiar Adnan Kusuma dalam prolog sebelum soft launching buku tersebut mendorong para kader PKK dan bunda literasi untuk menjadikan menulis sebagai bagian dari aktualisasi diri.

Bachtiar mengangkat gagasan dari buku The Dignity of Writing untuk menggambarkan pentingnya aktivitas menulis. Menurutnya, manusia memiliki kemampuan berpikir, meramu kata, dan melahirkan gagasan menjadi sebuah karya.

Karena itu, menulis tidak hanya berkaitan dengan menghasilkan sebuah buku, tetapi juga menjadi cara untuk meninggalkan jejak pemikiran dan pengalaman bagi generasi berikutnya.

Ia menilai Menyalakan Cahaya Literasi dari Desa memiliki nilai penting karena lahir dari pengalaman empiris para kader PKK di lapangan.

“Buku ini sesungguhnya membuktikan bahwa para bunda literasi kita akan dikenang. Karena orang yang menulis buku akan dikenang sejarah,” ujarnya.

Bachtiar mengatakan, tulisan dalam buku tersebut bukan sekadar karya yang disusun dari sumber bacaan. Tulisan-tulisan itu lahir dari pengalaman para kader dalam menjalankan pengabdian di tengah masyarakat.

“Ini betul-betul membuktikan satu karya tulis yang mengungkapkan berdasarkan pengalaman empiris. Bukan karya asal, tetapi murni karya tulis yang dilahirkan oleh ibu-ibu,” katanya.

Menurutnya, karya tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kader PKK tidak hanya menjadi pembaca atau konsumen karya orang lain. Mereka juga mampu menjadi penulis dan produsen pengetahuan berdasarkan pengalaman pengabdian mereka.

Buku Menyalakan Cahaya Literasi dari Desa melibatkan bunda literasi dari 14 kecamatan serta 103 desa dan kelurahan. Kehadiran buku itu menjadi bagian dari upaya mendokumentasikan pengalaman kader sekaligus memperkuat gerakan literasi hingga tingkat paling bawah.

Puncak HKG ke-54 PKK Kabupaten Maros pun menjadi momentum untuk menegaskan bahwa gerakan pemberdayaan keluarga tidak hanya berbicara tentang pelaksanaan program, tetapi juga tentang bagaimana pengalaman para kader dapat diubah menjadi pengetahuan yang terdokumentasi dan diwariskan.

Dari tingkat keluarga hingga desa, pengalaman pengabdian para kader kini dituangkan dalam bentuk karya. Melalui buku tersebut, gerakan literasi diharapkan terus tumbuh dan menjangkau masyarakat lebih luas.** (RM/BNN)

Leave a Response