Komunitas Seni Kuflet Luncurkan Buku Antologi Puisi “Air Mata Sumatera” Karya 150 Penyair Nusantara
Komunitas Seni Kuflet Padang Panjang meluncurkan buku Antologi Puisi Bencana jilid II berjudul “Air Mata Sumatera”, Selasa (20/1/2026), di Ruang Audio Visual Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Padang Panjang. foto : (KAY/REL/BNN)


PADANG PANJANG, BANDUNGPOS — Komunitas Seni Kuflet Padang Panjang meluncurkan buku Antologi Puisi Bencana jilid II berjudul “Air Mata Sumatera”, Selasa (20/1/2026), di Ruang Audio Visual Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Padang Panjang.
Peluncuran buku itu sebagai wujud empati dan solidaritas terhadap masyarakat terdampak bencana alam di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Ketua Harian Komunitas Seni Kuflet, Nofal Dwi Saputra, menyampaikan, buku ini lahir dari kepedulian para penyair terhadap rangkaian bencana alam yang melanda Pulau Sumatera pada akhir tahun 2025.
Direktur Program Peluncuran Buku, Ichsan Saputra, S.Sn., M.Sn., menjelaskan, Air Mata Sumatera berangkat dari kegelisahan kolektif atas peristiwa banjir bandang, angin kencang, dan tanah longsor yang terjadi pada akhir November hingga awal Desember 2025.
“Penjualan buku ini, termasuk hasil lelangnya, akan didonasikan untuk membantu masyarakat terdampak bencana,” ujarnya.
Kurator sekaligus narasumber buku bedah, Dr. Sulaiman Juned, M.Sn., mengatakan, puisi menjadi medium empati sekaligus ruang perawatan ingatan kolektif.
“Puisi tidak hanya berhenti pada kepedihan, luka, dan air mata, tetapi harus mampu bergerak menjadi kepedulian dan aksi. Puisi juga dapat menjadi media kritik sosial terhadap kebijakan yang tidak berpihak pada masyarakat ketika alam digerus tanpa kendali,” ujar dosen teater ISI Padangpanjang tersebut.
Sulaiman menambahkan, Komunitas Seni Kuflet secara konsisten menghadirkan kegiatan literasi yang mencerdaskan masyarakat. Melalui buku ini, para penyair tidak terjebak pada ratapan klise, melainkan menghadirkan pengalaman batin yang hidup dan menggugah.
Ia juga menegaskan, antologi ini menampilkan keseriusan estetika dan etis para penyair dalam menanggapi bencana.
Narasumber lainnya, Prof. Asril, SSKar., M.Hum., mengapresiasi penerbitan buku Air Mata Sumatera. Menurutnya, ratusan penyair mengirimkan karya dan hanya 150 puisi yang lolos kuras dalam satu tema besar, yakni bencana.
“Puisi-puisi dalam buku ini memuat tema keagamaan, kritik sosial-politik, kritik terhadap pemerintah, hingga personifikasi alam yang seolah ikut berbicara dan merasakan kepedihan,” tutur Guru Besar Seni Pertunjukan ISI Padangpanjang itu.
Asril menambahkan, tanpa wadah seperti buku ini, publik tidak akan mengetahui bagaimana para penulis menanggapi bencana melalui bahasa sastra. Oleh karena itu, antologi ini penting untuk dimiliki dan dibaca.
Kurator lainnya, Muhammad Subhan Menyebutkan, Air Mata Sumatera merupakan jilid kedua dari antologi puisi bencana yang diterbitkan Komunitas Seni Kuflet, setelah sebelumnya terbitan Negeri Bencana.
“Buku ini diharapkan dapat melahirkan penyair dan penulis baru, sekaligus memberi ruang publikasi bagi karya-karya mereka yang berdampingan dengan penyair senior,” ujar pendiri Sekolah Menulis elipsis tersebut.
Salah seorang peserta peluncuran, Ramdalel, menilai buku puisi ini bukan sekadar bentuk protes, tetapi juga pengharapan agar negeri ini diperbaiki oleh pihak-pihak yang seharusnya bertanggung jawab.
“Puisi-puisi ini mengajak kita untuk peduli dan tidak menormalisasi bencana,” katanya. (KAY/REL/BNN)





