
SundaNews (25/8/2025). Kesenian tradisional Sunda masih menyimpan kekayaan nilai yang tak pernah habis digali. Salah satunya adalah Ketuk Tilu, seni pertunjukan rakyat yang hadir dalam beragam gaya dan fungsi di tiap daerah. Di Subang, kehadiran Ketuk Tilu bukan hanya sekadar hiburan, melainkan juga bagian dari ritual dan ekspresi budaya yang sarat makna.
Akhir pekan ini, Sabtu sore hingga malam Minggu, 23 Agustus 2025, suasana Subang terasa berbeda. Masyarakat dapat menikmati malam Minggu dengan penuh nuansa tradisi lewat pertunjukan istimewa dari Lingkung Seni Sekar Panggugah pimpinan Pepen Ependi, S.Sn.
Bertempat di AMANDA Mart, Jl. Kapten Hanafiah No. 36 Subang, acara bertajuk “Yuu Ngarampayak Soderan Ketuk Tilu Naek Ngabajidor” menghadirkan rangkaian kesenian tradisional yang memadukan hiburan, kebersamaan, dan makna budaya.
Sore harinya, pukul 16.00–17.30 WIB, digelar Soderan, tradisi penuh kehangatan yang menumbuhkan rasa guyub. Malamnya, pukul 18.30–21.00 WIB, suasana semakin semarak dengan sajian Ngabajidor, gaya pertunjukan Ketuk Tilu yang menjadi ciri khas kesenian rakyat Jawa Barat.
Menurut Abah Mas Nanu Muda, pertunjukan ini bukan hanya menghadirkan nuansa nostalgia, tetapi juga menjadi ajakan untuk merayakan kekayaan seni budaya lokal di ruang publik modern seperti pusat perbelanjaan. Sebuah langkah penting untuk menjembatani tradisi dengan kehidupan masyarakat urban masa kini.
Ketuk Tilu Mapag Hujan: Warisan Sakral dari Desa Sirap
Selain hadir di ruang publik sebagai hiburan, Ketuk Tilu juga tetap hidup dalam ranah ritual. Di Desa Sirap, Kecamatan Tanjungsiang, Kabupaten Subang, kesenian ini disajikan dengan kekhasan tersendiri melalui Lingkung Seni Sekar Panggugat.
Berbeda dengan daerah lain seperti Bandung atau Karawang yang lebih menekankan fungsi hiburan, di Desa Sirap Ketuk Tilu dipersembahkan dalam upacara sakral Mapag Hujan, yaitu tradisi untuk memohon keselamatan, kesuburan, dan keberkahan panen.
Sebagaimana dicatat Mircea Eliade, sejak awal tarian kerap terkait dengan hal-hal yang bersifat suci: totem hewan, penyembuhan, keselamatan, kesuburan, hingga ungkapan syukur. Pandangan itu sejalan dengan fungsi Ketuk Tilu Mapag Hujan yang hingga kini masih dipraktikkan masyarakat Desa Sirap.
Rangkaian Upacara Mapag Hujan
Upacara ini terdiri dari sembilan tahapan, mulai dari Ngukus (pembakaran kemenyan), Tatalu (pembuka), Ijab Kabul, Doa Bersama, Pembukaan Pergelaran, Ngukus kedua, Upacara inti, Soderan, hingga Penutup.
Prosesi diawali doa dan jampi-jampi oleh kuncen untuk memohon izin kepada Allah SWT dan para leluhur. Sesaji pun disiapkan: kopi pahit dan manis (dualisme hidup), bubur merah dan putih (nafsu dan kesucian), air dalam kele (sumber kehidupan), serta padi, buah, dan umbi-umbian (harapan panen berlimpah).
Puncak upacara ditandai dengan tarian ronggeng membawa ancak berisi padi dan bunga rampai, berputar mengelilingi kuncen dengan iringan lagu Nimang dan Benjang. Tempo musik kian meninggi hingga menciptakan suasana magis, seolah penari dan penonton larut dalam ekstase. Pesan filosofisnya jelas: masyarakat memerlukan pemimpin yang bijak, sebab kesalahan langkah akan berdampak pada rakyat banyak.
Menariknya, dahulu ada prosesi Kariaan Ucing, yaitu mengarak kucing untuk dimandikan di sumber mata air sebagai simbol penyuburan. Kini tradisi itu sudah ditinggalkan, namun tetap hidup dalam ingatan kolektif warga.
Soderan sebagai Penutup
Usai prosesi inti, masyarakat bebas menari bersama ronggeng dalam acara Soderan. Penonton yang dikalungi soder wajib ikut menari atau memberikan saweran. Lagu-lagu khas Ketuk Tilu seperti Geboy, Siuh, Sulanjana, Gaplek, Kosong-Kosong, Kangsreng, hingga Renggong Buyut pun bergema, sebelum akhirnya ditutup dengan lagu Mitra sebagai tanda berakhirnya seluruh rangkaian.
Ketuk Tilu Karawang: Fungsi Hiburan dalam Hajatan
Sebagai perbandingan, Ketuk Tilu Puspasari di Karawang yang dipimpin Abah Tirta dari Desa Pasir Kamuning, lebih menekankan fungsi hiburan. Pertunjukan ini hadir dalam hajatan pernikahan, khitanan, hingga panen.
Struktur pertunjukannya meliputi Arang-Arang Bubuka, Kidung Salamet, Ibing Badaya, Ibing Baya Tunggal, dan Ibing Egol. Lagu-lagu yang dibawakan juga khas, seperti Renggong Bandung, Warung Doyong, Pacul Goang, Egol Karawang, hingga Rindik Rincang.
Meski berakar sejak awal 1910-an, Ketuk Tilu Karawang kini mulai terdesak oleh popularitas Jaipongan yang muncul pada 1978.
Menjaga Tradisi di Tengah Modernisasi
Perbandingan dua gaya Ketuk Tilu ini menunjukkan bahwa kesenian tradisi tidak pernah tunggal. Ia selalu menyesuaikan dengan konteks sosial-budaya masyarakatnya. Di Desa Sirap Subang, Ketuk Tilu masih terikat pada fungsi ritual-spiritual, sementara di Karawang ia lebih berorientasi hiburan rakyat.
Dari panggung hiburan di pusat kota hingga upacara suci di pelosok desa, Ketuk Tilu membuktikan dirinya sebagai warisan budaya yang lentur sekaligus kokoh. Ia mampu hadir di tengah masyarakat modern tanpa kehilangan akar spiritualnya.
Di situlah letak kekuatan seni tradisi yakni selalu menemukan cara untuk hidup, tumbuh, dan menyapa generasi baru, sambil tetap menjaga jiwa leluhur yang melahirkannya. (Kin Sanubary, warga Tanjungwangi Kabupaten Subang, kolektor, pendiri dan pengeloal rumah Media Lawas, penerima penghargaan PWI Jawa Barat 2023 bkategori pelestari media massa saional).




