Metro Bandung

Ketika Tanah Berbicara

57views

KOTA BANDUNG, Bandungpos.id–Bersama Lianda Lubis mendapat kehormatan menjadi kurator dari inisiatif When the Land Speaks: Environmental Stories, Evidence, and Healing from the Ground

Inisiatif ini merupakan kolaborasi antara Indra Gumilar Prasetya, dan Komunitas BBC76 mengenai seni dan sains untuk semua orang. Indra seorang fotografer yang telah menjelma menjadi seorang dokumentaris lingkungan dan kemanusiaan.

Demikian diungkapkan President Dilans Indonesia, Farhan Helmy kepada awak media, di ruang kerjanya, hari ini.

Ketika Bumi Berbicara (The Land Speaks Indonesia) kata Farhan, adalah inisiatif publik trans disipliner yang mendokumentasikan degradasi lingkungan dan konsekuensi kemanusiaannya melalui penceritaan visual, dialog publik, praktik dokumenter berbasis komunitas, dan refleksi kolektif.

“Program ini merespons secara kritis dan refleksi refleksi yang terus-menerus terjadi dan berulang antara wacana kebijakan lingkungan dan realitas kehidupan masyarakat yang mengalami polusi, konversi lahan, ekstraksi, bencana, dan hilangnya ekologis, ” katanya.

Lebih jauh diungkapkan Farhan, dimulai di Bandung, Jawa Barat, The Land Speaks Indonesia mengintegrasikan lima komponen kegiatan: Pameran visual dan multimedia selama satu bulan, rangkaian dialog publik, Lokakarya dokumenter lingkungan,Produksi film dokumenter, Platform penyembuhan dan literasi lingkungan.

Komponen-komponen kegiatan ini saling terhubung untuk menghasilkan bukti yang berpusat pada masyarakat, memperkuat kapasitas warga, dan mendorong pemahaman masyarakat yang menghubungkan kerusakan ekologis dengan keadilan sosial, ketidaksetaraan, dan tata kelola.

Alih-alih memposisikan bercerita semata-mata sebagai advokasi, inisiatif ini memperlakukan dokumentasi sebagai bentuk infrastruktur pengetahuan publik, yang mendukung pendidikan, dialog, dan memori budaya jangka panjang.

Program ini memprioritaskan praktik etis, peran aktif warga, dan partisipasi inklusif, sambil menghasilkan keluaran yang tahan lama termasuk film dokumenter, arsip digital, dan buku dalam kombinasi foto-teks. Dalam Kontenplasi, Lianda menterjemahkan dalam literasi menarik di berbagaimultimedia dengan gaya khasnya.**(rm/BNN)

Leave a Response