Kafe Babe, Kanvas, dan Kerisauan Perupa Hamzah
Foto: Perupa Hamzah, S.Sn., M.Sn. (Foto: Dok. Hamzah)

Oleh Muhammad Subhan
BANYAK tempat nongkrong dan minum kopi yang asyik di Padang Panjang. Salah satunya Kafe Babe, milik perusahaan profesional bernama Hamzah, S.Sn., M.Sn., yang terletak di sudut kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang.
Di kafe inilah saya sering singgah, duduk berlama-lama, menyeruput kopi susu khas Aceh yang dalam kecapan lidah saya merasakan nikmat, aromanya mengusik penciuman, dan saat diteguk meninggalkan kenangan dan kehangatan.
Karena kelezatannya pula, saya sering kembali ke Kafe Babe, meskipun status saya bukan pelajar, bukan pula dosen. Bermain di lingkungan kampus seni ini nyaris menjadi keseharian saya jika tak ada kegiatan lain, baik di Padang Panjang maupun di luar kota.
Kampus seni, bagi saya, selalu memberi rasa pulang yang lain. Pulang sebagai ruang perenungan, percakapan, dan pertemuan gagasan. Di sini saya berbincang dengan para dosen dari lintas disiplin ilmu dan lintas program studi. Dari percakapan-percakapan itu, saya kerap mendapat siraman pengetahuan dan pengalaman yang tak selalu tersedia di ruang kelas formal.
Dan, salah satu sosok yang paling sering saya temui tentu saja Pak Hamzah—demikian saya akrab menyapanya. Ia seorang perupa, seorang sejarawan, sekaligus pemilik Kafe Babe yang menjadikan kopi dan seni sebagai dua hal yang saling menghidupi.
Meski sudah lama kenal, saya ingin sekali menulis tentang sosok Hamzah. Kemarin kemarin, saya sempat menggali banyak cerita tentang perupa yang selalu mengikat ke belakang rambut putihnya yang panjang itu.
Hamzah bukan perupa yang lahir dari ruang serba siap. Bakat lukisannya tumbuh sejak kecil, bahkan sejak masa sekolah dasar. Ia lahir di Manganti, Sumatera Barat, pada tanggal 2 November 1970, sebagai anak kesembilan dari sepuluh bersaudara. seni mengalir dari sang darah ayah, Ibu Dt. Pdk. Alam, seorang mantan wali nagari yang dikenal piawai melukis pada masa sekolahnya di zaman penjajahan Belanda. Sang ayah bahkan pernah digelari “Raden Saleh” oleh gurunya karena kemampuannya bersentuhan dengan cat dan kanvas.
“Ayahlah guru pertama saya,” ujar Hamzah memulai ceritanya.
Pada sore atau malam hari, Hamzah kecil sering berkonsultasi tentang gambar dan bentuk. Objek yang digemarinya kala itu adalah manusia yang membawa senjata api atau dikenal sebagai orang berburu, selain rusa dan kijang, selaras dengan hobi sang ayah yang gemar berburu.
Pengalaman visual itulah yang kelak mengasah kepekaan Hamzah dalam memahami anatomi, proporsi, dan karakter bentuk.
Pada jenjang SMP, bakat itu semakin mendapat perhatian. Seorang guru bernama Zulkifli Syam menjadi sosok penting yang membimbingnya secara serius dalam seni rupa. Dari tangan guru inilah Hamzah diarahkan untuk melanjutkan pendidikan ke SMSR (Sekolah Menengah Seni Rupa) Padang pada tahun 1986. Pendidikan formal seni lukis inilah yang menjadi fondasi kuat bagi panjang perjalanan sebagai perrupa.
Selepas tamat SMSR Padang pada tahun 1990, Hamzah melangkah lebih jauh ke Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, memilih Seni Murni, program studi Seni Lukis. Ia menamatkan pendidikan sarjana pada tahun 1996.
Di kota yang menjadi pusat pusaran seni rupa Indonesia itu, Hamzah ditempa oleh para maestro dan tokoh penting seni rupa, di antaranya Fajar Sidik, Nyoman Gunarsa, Suwaji, Wardoyo, Aming Prayitno, Subroto SM, Sudarisman, Risman Marah, Edi Sunaryo, Agus Kamal, hingga Effendi. Bahkan maestro Widayat kerap hadir mengunjungi pameran mahasiswa, mengkritisi, dan memberi catatan pada karya-karya yang dipajang.
Inspirasi Hamzah juga datang dari nama-nama besar seperti Basuki Abdullah, S. Sudjojono, H. Widayat, dan Affandi. Dari dunia internasional, ia mengagumi Pablo Picasso dan Marc Chagall. Namun, inspirasi itu tidak membuatnya menjadi peniru. Justru menjadi pijakan untuk menemukan bahasa visualnya sendiri.
Bagi Hamzah, menjadi pelukis adalah kesenangan yang sungguh menyenangkan, bahkan bisa disebut sebagai hobi yang dibayar. Melukis memberikan ruang untuk mengekspresikan rasa, pikiran, kegelisahan, bahkan komplikasi pribadi yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Eksperimen media dan teknik menjadi bagian dari kenikmatan itu. Karyanya diminati masyarakat, dikoleksi, diperiksa, dan dibawa berkeliling Nusantara, Asia, hingga Eropa. Dari sana, jejaring pertemanan terbentuk antarsesama seniman, budayawan, media, politikus, ulama, pejabat pemerintah, hingga pemilik perusahaan.
Namun, jalan seni tak selalu terang, akunya. Ada duka yang menyertai profesi ini. Ketika pikiran lelah, ide bisa mandek. Apa yang ingin diungkapkan tak selalu tercapai. Ada pula diskomunikasi antarseniman dalam penyelenggaraan pameran, perbedaan persepsi dengan kolektor tentang judul dan objek karya, hingga masa paceklik ketika bahan dan alat habis. Situasinya terasa sangat suram.
Kerisauan terbesar Hamzah justru muncul ketika ia beralih dari seniman penuh waktu ke dunia akademik sebagai dosen, terlebih setelah memegang jabatan struktural. Kepulangannya ke Sumatera Barat, tepatnya Padang Panjang, jauh dari pusat kesenian Yogyakarta, membuat banyak peluang residensi dan pameran terlewatkan. Namun, jarak dari pusat itu justru memacunya bekerja keras kembali, merangkul sesama perupa dan masyarakat seni di Sumatera Barat, seperti pada masa awal perjuangannya di era Yogyakarta 1990-an.
Di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), Hamzah melihatnya dari dua sisi. AI bisa menjadi ancaman karena kemampuannya melampaui manusia dalam menghasilkan bentuk visual. Namun demikian, AI lebih tepat dijadikan pematik dan referensi. Hasil AI, belum mampu menghadirkan kedalaman rasa, “gareget”, dan daya ganggu yang kuat seperti karya manual yang lahir dari tangan dan batin perupa. Oleh karena itu, Hamzah tetap optimis, lukisan manual asli akan selalu mendapat tempatnya.
Menurut Hamzah, hingga kini bidang seni lukis tetap diminati dan diapresiasi masyarakat. Peluang seniman rupa ke depan terletak pada kemampuan membaca lingkungan, membangun kolaborasi, menciptakan ruang kreatif, serta memanfaatkan ruang publik, galeri, museum, kantor pemerintah maupun swasta, dan media.
Hamzah juga menyinggung kolektor. Dalam siklus seni, kolektor memegang peran penting. Namun, orientasi seniman tidak semata-mata mengejar koleksi. Ada idealisme agar karya dimuseumkan dan menjadi penanda zaman. Untuk itu, karya harus digarap secara maksimal, dipresentasikan melalui pameran, kompetisi, kredibel media, serta hubungan personal yang dibangun dengan sabar.
“Kolektor dan seniman saling mengenal, bukan hanya karya, tetapi juga pribadi dan nilai yang dianut,” ujar Hamzah.
Sebagai dosen Seni Murni di ISI Padang Panjang, Hamzah memikul tanggung jawab lain, yaitu mendidik calon seniman yang kreatif, inovatif, dan bertanggung jawab.
Ia juga menyimpan mimpi besar tentang hadirnya galeri berstandar layak sebagai etalase karya seni rupa dan seni kreatif lainnya di Padang Panjang. Sebab menurutnya, karya seni membutuhkan ruang dan penyajian yang pantas agar nilai estetika, edukatif, dan investasinya benar-benar tampak.
Harapan Hamzah tak mustahil terwujud, selama ada kesetiaan pada proses dan keberanian merawat mimpi. Kanvas-kanvas yang terus digarapnya, serta kerisauan yang tak pernah benar-benar padam, menjadi penanda bahwa seni hidup dari kegelisahan yang terus berkelindan di kepala dan selalu butuh ruang untuk tumbuh, diuji, diperdebatkan, lalu disublimkan menjadi karya yang lahir dari batin dan menjejak zaman. Karya yang tentu saja kuat; tak lekang terkena panas tak pula lapuk terkena hujan.**penulis, pegiat literasi, pendiri Sekolah Menulis elipsis.





