
Oleh: Ridhazia
DUTA Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujdi mengaku kalau negaranya saat ini menghadapi dua perang sekaligus, yakni perang militer dan perang narasi dengan musuh “bebuyutan” Amerika-Israel.
Perang Hibrida
Dalam literatur studi militer kombinasi perang narasi dan perang militer itu sebagai wajah baru konflik global di era digital yang populer disebut hybrid warfare (perang hibrida).
Dalam bahasa sederhana, perang hibrida itu perang campuran. Sebuah pergeseran wajah konflik global di era digital dimana negara yang berkonflik menggunaan instrumen alat bersenjata kontemporer yang secara bersamaan melakukan serangan narasi (cognituve warfare).
Menguntungkan Negara Modern
Secara teori perang hibrida hanya memungkinkan dimenangkan oleh negara yang memiliki persenjataan berteknologi tinggi.
Pesawat terbang canggih yang tidak terdeteksi radar, drone tempur, robot otonom, rudal pintar dan peralatan tempur lain dengan presisi tinggi. Ditambah kapal induk yang memuat ribuan tentara terlatih setara sebuah negara.
Filter Bubbles
Sedangkan serangan narasi digunakan untuk memanipulasi opini publik dengan menempatkan pertarungan ide, persepsi, dan informasi untuk menciptakan ketidakstabilan sosial.
Intinya menciptakan “filter bubbles” yang mengarahkan pandangan publik pada narasi tertentu agar terjadi bias konfirmasi. Sekaligus membatasi perspektif terhadap pandangan berbeda.
Perang narasi juga dikemas untuk melegitimasi tindakan, menjatuhkan reputasi dengan mempengaruhi pikiran, emosi, dan tindakanmelampaui data atau fakta mentah.
Diasumsikan narasi yang kuat dalam suatu konflik memiliki daya magis untuk membentuk persepsi publik, dan membangun kepercayaan.
Jangan mudah Percaya
Pendek kata, perang moderen nyaris sulit dipercaya kebenarannya. Apalagi hanya muncul sekelebat saja tanpa konfirmasi, klarifikasi dan validasi data.*
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.




