Hilirisasi Kajian Wisata, Tim PKM Unisba Gelar Sosialisasi SOP dan Simulasi Tiga Atraksi di KAWISUCI (Kampung Wisata Susu Cileuweung) Kota Cimahi.

Hilirisasi Kajian Wisata, Tim PKM Unisba Gelar Sosialisasi SOP dan Simulasi Tiga Atraksi di KAWISUCI (Kampung Wisata Susu Cileuweung) Kota Cimahi.
KOTA CIMAHI, bandungpos.id – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) LPPM Universitas Islam Bandung (Unisba) bersama Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) kembali menerjunkan timnya ke Kampung Cileuweung, Kelurahan Cipageran, Kota Cimahi, Sabtu (4/7/2026). Langkah ini merupakan wujud konsistensi tahun kedua pendampingan dalam membangun kemandirian ekonomi lokal melalui sektor pariwisata.
Memasuki agenda kedua di tahun 2026 ini, fokus utama tim PKM Unisba adalah melakukan sosialisasi Standar Operasional Prosedur (SOP) kegiatan pariwisata. Warga diberikan pemahaman mendalam mengenai implementasi konsep “KAWISUCI” (Kampung Wisata Susu Cileuweung) yang menjadi jargon sekaligus identitas utama kawasan. Jargon ini merangkum peta jalan pengembangan wilayah yang mengintegrasikan potensi peternakan domestik dengan pelayanan wisata yang halal, higienis, tertata, dan profesional.
Tidak berhenti pada paparan materi di atas kertas, kegiatan langsung dilanjutkan dengan simulasi lapangan (trial tour) yang melibatkan tiga spot wisata utama secara simultan. Simulasi pertama bertempat di kawasan kandang sapi perah untuk menguji kesiapan pemandu dalam mengedukasi wisatawan mengenai proses pemeliharaan. Simulasi kedua bergeser ke area perkebunan sayur pakcoy guna mematangkan alur wisata petik sendiri, dan atraksi ketiga ditutup di rumah produksi pengolahan pasca-panen, tempat ibu-ibu kader mempraktikkan alur edukasi pembuatan produk yoghurt olahan susu sapi asli Cileuweung.
Kehadiran civitas akademika Unisba secara nyata di lapangan diharapkan mampu menjadi motor penggerak roda pariwisata Cileuweung secara mandiri. Melalui simulasi operasional ini, seluruh elemen masyarakat diajak melihat langsung model pariwisata berbasis komunitas (community-based tourism) yang tidak hanya menjadi kajian akademik normatif, melainkan sebuah aksi konkret yang memiliki nilai ekonomis terukur bagi warga lokal.
Agenda strategis ini dihadiri dan diikuti secara antusias oleh berbagai pemangku kepentingan setempat, mulai dari struktural kewilayahan seperti Ketua RW dan jajaran Ketua RT, unsur keamanan Anggota Linmas, perwakilan pemuda Karang Taruna, para pemilik peternakan sapi, petani sayur pakcoy, hingga kelompok ibu-ibu kader desa selaku pengolah produk hilir berupa yoghurt. Kesinergisan ini diharapkan mampu mempercepat akselerasi Kampung Cileuweung menjadi destinasi eduwisata unggulan yang mandiri di Kota Cimahi.(ask)***





