KampusianaUncategorized

GCC dan PKn FPIPS UPI Perkuat Pendidikan Kewarganegaraan Global Melalui Film dan Dialog 

28views

BANDUNG, BandungPos.id — Global Citizenship Center Indonesia (GCC Indonesia) bekerja sama dengan Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), menyelenggarakan kegiatan Screening Film Pop-Up ReelOzInd and Film Discussion di Auditorium FPIPS UPI, Rabu (4/11/2026).

Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Dies Natalis ke-72 Program Studi PKn UPI ini merupakan wujud kolaborasi akademik dalam mempromosikan nilai dan prinsip Global Citizenship Education (GCED) melalui pendekatan seni, budaya, dan dialog lintas bangsa.

Melalui kegiatan tersebut, GCC Indonesia dan Prodi PKn FPIPS UPI berupaya menghadirkan ruang pembelajaran yang mempertemukan perspektif pendidikan kewarganegaraan, seni perfilman, serta pengalaman kemanusiaan dalam masyarakat yang semakin saling terhubung.

Kegiatan ini turut melibatkan The Australia–Indonesia Centre dan program ReelOzInd!, serta menghadirkan dua narasumber, yakni Dedi Warsana, M.Sn., dosen Program Studi Film dan Televisi FPSD UPI, dan Ayyub Basya, sutradara film Antrian Nomor Kematian yang memperoleh penghargaan Special Mention Fiction pada ReelOzInd! 2026. Diskusi dipandu oleh Dipl. Kunst. Erik Muhammad Pauhrizi, S.Ds., M.Sch., dosen Program Studi Film dan Televisi FPSD UPI.

Acara ini juga dhadiri Dekan FPIPS UPI, Prof. Dr. Cecep Darmawan, dan Direktur GCC Indonesia, Prof. Dr. Dasim Budimansyah, M.Si.

Dalam sambutannya, Cecep menyebut film bukan sekadar karya seni, melainkan juga dapat menjadi wahana pendidikan politik, terutama bagi kaum muda.
Pernyataan itu menempatkan film pada ranah yang lebih luas daripada hiburan. Pendidikan politik tidak selalu berlangsung lewat ruang kuliah atau buku teks. Anak muda kerap membentuk pemahaman tentang kekuasaan, keadilan, dan hak warga negara dari cerita yang mereka tonton. Film, dengan kekuatan visual dan narasinya, dapat memperkenalkan dilema publik secara lebih dekat dan membekas ketimbang uraian konseptual.

Di sisi lain, pendidikan politik lewat film menuntut pendampingan. Tanpa diskusi, penonton berisiko menerima pesan secara pasif. Karena itu, format pemutaran yang disambung dengan dialog, seperti dalam acara di UPI ini, menjadi penting. Mahasiswa diajak tidak hanya menonton, tetapi juga menafsirkan, mempertanyakan, dan menautkan cerita dengan realitas sosial di sekitar mereka.

Pendekatan ini sejalan dengan arah pendidikan kewarganegaraan yang ingin dikembangkan, yakni tidak berhenti pada pengetahua⁶n tentang aturan dan lembaga negara, tetapi juga membangun kepekaan moral dan keterlibatan warga. Dalam kerangka itu, film menjadi pintu masuk bagi pembahasan yang lebih kritis, termasuk tentang bagaimana kaum muda memosisikan diri dalam kehidupan bernegara.

Film sebagai Medium Pengembangan Kepekaan Kewargaan

Kerja sama GCC Indonesia dan Prodi PKn FPIPS UPI dalam kegiatan ini didasarkan pada kesadaran bahwa pendidikan kewarganegaraan perlu terus mengembangkan pendekatan pembelajaran yang mampu menjangkau dimensi intelektual, emosional, dan moral peserta didik.
Film menawarkan pengalaman pembelajaran yang khas karena memungkinkan penonton memasuki dunia kehidupan orang lain, memahami pengalaman sosial yang berbeda, dan merefleksikan berbagai dilema kemanusiaan melalui kekuatan cerita dan bahasa audiovisual.

Dalam perspektif GCED, pengalaman tersebut relevan dengan pengembangan tiga ranah pembelajaran yang dikembangkan UNESCO, yaitu kognitif, sosio-emosional, dan perilaku. Ketiganya diarahkan untuk membangun pemahaman kritis terhadap persoalan global, mengembangkan empati dan solidaritas, serta mendorong tindakan yang bertanggung jawab dalam kehidupan bersama.

Direktur GCC Indonesia, Prof. Dr. Dasim Budimansyah, M.Si., menempatkan kegiatan ini sebagai bagian dari upaya memperkuat Civic Sensibility atau kepekaan kewargaan dalam proses pendidikan. “Film memiliki kekuatan untuk mempertemukan kita dengan pengalaman kemanusiaan yang mungkin tidak pernah kita alami secara langsung. Melalui cerita dan kehidupan para tokohnya, kita belajar memahami perasaan, penderitaan, harapan, serta pilihan moral orang lain.

“Pengalaman semacam ini sangat penting bagi pendidikan kewargaan global karena dapat menumbuhkan empati, kepekaan moral, dan tanggung jawab terhadap sesama manusia,” kata Dasim.

Pengembangan Civic Sensibility merupakan salah satu perhatian GCC Indonesia dalam memperkuat keterhubungan antara pengetahuan kewarganegaraan, kesadaran moral, dan tindakan sosial. Melalui pendekatan tersebut, pembelajaran kewarganegaraan diharapkan mampu mendorong peserta didik untuk merespons persoalan kemanusiaan secara reflektif, etis, dan bertanggung jawab.

Perkuat Dialog Antarbudaya Indonesia–Australia

Program ReelOzInd! memberikan dimensi internasional yang penting dalam kegiatan ini. Pertemuan karya dan gagasan melalui film membuka kesempatan bagi masyarakat akademik untuk memahami keberagaman pengalaman sosial dan budaya dalam hubungan Indonesia–Australia.

Dialog antarbudaya merupakan salah satu prinsip penting dalam GCED.

Melalui dialog, individu memperoleh kesempatan untuk memahami perbedaan perspektif, mengembangkan penghargaan terhadap keberagaman, serta memperkuat kesadaran mengenai saling ketergantungan antarmasyarakat dunia.

Dalam konteks tersebut, kolaborasi GCC Indonesia dengan Prodi PKn FPIPS UPI memperlihatkan bagaimana pendidikan kewarganegaraan dapat berkontribusi dalam memperluas ruang diplomasi budaya, pertukaran pengetahuan, dan pembelajaran lintas bangsa.
Film menjadi sarana untuk mempertemukan pengalaman lokal dengan persoalan kemanusiaan yang memiliki relevansi global, seperti identitas, keadilan, martabat manusia, solidaritas, dan tanggung jawab sosial.

Sinergi Kelembagaan untuk Penguatan Pendidikan Kewarganegaraan
Kerja sama GCC Indonesia dan Prodi PKn FPIPS UPI memiliki makna strategis bagi pengembangan pendidikan kewarganegaraan yang responsif terhadap perubahan sosial dan dinamika global.

Sebagai pusat pengembangan pendidikan kewargaan global yang bekerja sama dengan Asia-Pacific Centre of Education for International Understanding (APCEIU) di bawah naungan UNESCO, GCC Indonesia mengemban mandat untuk mempromosikan nilai-nilai perdamaian, hak asasi manusia, keberagaman budaya, solidaritas, keberlanjutan, dan tanggung jawab kewargaan global.

Sementara itu, Prodi PKn FPIPS UPI memiliki peran akademik dalam mengembangkan keilmuan, pedagogi, dan praktik pendidikan kewarganegaraan yang berakar pada nilai-nilai Pancasila serta terbuka terhadap perkembangan pemikiran kewargaan global.
Sinergi kedua lembaga tersebut membuka peluang pengembangan inovasi pembelajaran yang menghubungkan pendidikan kewarganegaraan dengan seni, kebudayaan, dan pengalaman sosial yang autentik.
Kegiatan pemutaran dan diskusi film juga dapat menjadi inspirasi bagi dosen dan calon pendidik untuk mengembangkan pembelajaran berbasis narasi audiovisual, dialog kritis, refleksi etis, serta tindakan kewargaan.
Melalui pendekatan demikian, mahasiswa memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan memahami persoalan sosial secara multidimensional, menghargai perspektif yang berbeda, dan mempertimbangkan konsekuensi moral dari berbagai pilihan tindakan.

Mendukung Agenda Pendidikan Global dan SDGs

Kolaborasi GCC Indonesia dan Prodi PKn FPIPS UPI melalui kegiatan ini sejalan dengan agenda internasional penguatan pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan, khususnya Sustainable Development Goal (SDG) 4.7.
Agenda tersebut menekankan pentingnya pendidikan yang mempromosikan pembangunan berkelanjutan, hak asasi manusia, budaya damai dan tanpa kekerasan, kewargaan global, serta penghargaan terhadap keberagaman budaya.
Melalui pendekatan seni dan dialog lintas budaya, nilai-nilai tersebut dapat dihadirkan dalam pengalaman pembelajaran yang lebih kontekstual dan dekat dengan kehidupan mahasiswa.

Ke depan, GCC Indonesia bersama Prodi PKn FPIPS UPI berpeluang mengembangkan kegiatan serupa sebagai bagian dari penguatan ekosistem GCED di perguruan tinggi, termasuk melalui diskusi film tematik, pembelajaran kewarganegaraan berbasis audiovisual, forum dialog antarbudaya, dan pengembangan perangkat pembelajaran yang mengintegrasikan Civic Sensibility.

Momentum Dies Natalis ke-72 Prodi PKn UPI ini sekaligus memperlihatkan komitmen kedua lembaga dalam memperluas kontribusi pendidikan kewarganegaraan terhadap pembentukan generasi yang berpikiran terbuka, memiliki empati sosial, menghargai keberagaman, dan mampu mengambil tanggung jawab dalam kehidupan masyarakat lokal, nasional, maupun global.
Melalui kerja sama ini, GCC Indonesia dan Prodi PKn FPIPS UPI menegaskan pentingnya menghadirkan pendidikan kewarganegaraan yang humanis, reflektif, dan transformatif, dengan menempatkan martabat manusia serta tanggung jawab terhadap kehidupan bersama sebagai landasan utamanya.

Tentang GCC Indonesia
Global Citizenship Center Indonesia (GCC Indonesia) merupakan pusat pengembangan pendidikan kewargaan global di Universitas Pendidikan Indonesia yang menjalin kerja sama dengan Asia-Pacific Centre of Education for International Understanding (APCEIU) di bawah naungan UNESCO. GCC Indonesia mengembangkan kegiatan pendidikan, penelitian, penguatan kapasitas pendidik, dan kemitraan untuk mempromosikan perdamaian, hak asasi manusia, keberagaman budaya, keberlanjutan, dan tanggung jawab kewargaan global. (ujn/budimansyah).

Leave a Response