
Oleh: Ridhazia
SUDAH lama Bandung dan sekitarnya panas. Tapi seminggu terakhir sebaliknya dingin. Suhu udara mencapai 16 derajat, lalu puncaknya sebatas 21 derajat.
Ketinggian rata-rata Kota Bandung sekitar 768 meter di atas permukaan laut (mdpl), yang membuatnya memiliki iklim yang sejuk. Tapi suhu sekarang dirasakan tidak normal. Alias terlalu dingin. Bukan sejuk.
Dingin Malam
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan penyebab fenomena ini, suhu dingin ekstrem memang cenderung berpeluang terjadi saat musim kemarau, terutama pada malam hari.
Saat musim kemarau, pada siang hari, terik sinar matahari maksimal karena tidak ada tutupan awan. Akibatnya, permukaan bumi menerima radiasi yang maksimal.
Perbedaan suhu yang ekstrim, antara siang yang panas, dan malam yang dingin inilah yang menyebabkan penduduk Bandung merasakan suhu lebih dingin.
Saat malam, bumi melepaskan energi. Karena tak ada awan, maka pada malam hingga dini hari, radiasi yang disimpan di permukaan bumi secara maksimal dilepas.
Tarik Selimut
Untuk menyiasati suhu ekstrim, urang Bandung harus tarik selimut lebih awal. Setidaknya berbaju hangat.
Makan yang hangat hangat. Dan, minum teh atau kopi yang juga hangat. Ketimbang panik. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati Bandung, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.

