
Bandung – BANDUNGPOS.ID : Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum PSSI Provinsi Jawa Barat, Vivin Cahyani, menegaskan bahwa upaya menjadi yang terbaik dalam sepak bola harus dilakukan secara menyeluruh.
Menurutnya, peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia (SDM) menjadi fondasi utama dalam membangun prestasi sepak bola di Jawa Barat.
Ia menjelaskan, dengan jumlah penduduk Jawa Barat yang mencapai sekitar 50 juta jiwa, potensi pengembangan sepak bola sangat besar. Namun, jumlah pelatih berlisensi yang baru sekitar 2.000 orang dinilai masih jauh dari ideal dan perlu segera ditingkatkan secara signifikan.
“Dari 50 juta penduduk, kita baru punya sekitar 2.000 pelatih berlisensi. Itu jumlah yang sangat sedikit dan harus kita kejar,” ujar Vivin pada acara Launching Liga Jabar Istmewa tahun 2026 sekaligus halal bil halal Lebaran Sepak Bola Jabar di aula Asprov PSSI Jabar jalan Lodaya Kota Bandung, Jumat (3/4/2026)
Sebagai langkah konkret – lanjut Vivin, PSSI Jawa Barat menargetkan peningkatan jumlah pelatih melalui program pelatihan lisensi, terutama lisensi D sebagai tingkat dasar. Program ini juga didukung dengan pemberian insentif agar lebih banyak masyarakat tertarik mengikuti pelatihan kepelatihan.
“Kita berikan insentif, cukup dengan Rp500 ribu sudah bisa ikut lisensi D. Target awal kita mencetak sekitar 2.500 pelatih,” katanya.
Selain itu, PSSI Jabar bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat menargetkan tambahan 2.500 pelatih berlisensi pada tahap berikutnya. Dengan demikian, total target pada tahun ini mencapai 5.000 pelatih berlisensi, atau sekitar 60 persen dari target nasional yang ditetapkan PSSI sebanyak 9.000 pelatih.
“Kualitas SDM ini yang menentukan maju atau tidaknya sepak bola. Pelatih tanpa lisensi tentu sulit mencetak pemain berkualitas,” tegasnya.
Di sisi lain, Vivin juga menyoroti pentingnya pembangunan infrastruktur, khususnya ketersediaan lapangan sepak bola. Ia berharap program “satu kecamatan satu lapangan” dapat segera direalisasikan oleh pemerintah daerah guna menunjang pembinaan usia dini.
“Kalau pelatih sudah banyak, anak-anak juga antusias, tapi lapangan terbatas dan mahal, tentu ini jadi hambatan besar dalam mencetak pemain,” ungkapnya.
Vivin turut menekankan pentingnya program “Satu Anak Satu Bola” atau SIMPLE, yang dinilai memiliki dampak besar dalam pembinaan sepak bola usia dini. Berdasarkan hasil riset internal, keterbatasan jumlah bola menjadi kendala dalam proses latihan di banyak sekolah sepak bola (SSB).
“Bayangkan satu pelatih menangani 20 anak tapi hanya punya 20 bola, bahkan ada yang lebih sedikit. Bagaimana anak bisa maksimal kalau harus antre lama,” jelasnya.
Ia berharap program tersebut mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah, termasuk penganggaran melalui dinas terkait. Menurutnya, realisasi program ini bisa menjadi langkah awal yang cepat dalam meningkatkan kualitas pembinaan. (den)***




