Bandung, BANDUNGPOS.ID -Loyalitas serta totalitas Dr. Sufyar Mudjianto, M.Pd di dunia olahraga rupanya tak perlu diragukan lagi. Di Kampus UPI Bandung, Dr. Sufyar – yang akrab dipanggil Kang Nunu, bercerita panjang lebar ihwal perjalanan hidupnya yang tak lepas dari kepelatihan dan pembinaan olahraga di kota Bandung.
Tahun 2007 misalnya, Nunu ikut kursus pelatihan wasit atletik tingkat Asia, Kemudian tahun 2018 dipentas Porprov Jabar, Nunu berhasil membawa tim gateball kota Bandung menjadi juara umum. Saat itu dirinya diminta Nuryadi (kini Ketum KONI Kota Bandung) untuk melatih tim gateball Kota Bandung.
Tahun 2010, giliran cabor woodball yang dijajalnya, Saat itu Nunu membantu pengembangkan cabor baru ini di wilayah Bandung dan Jabar dalam kapasitas sebagai pelatih. Lewat perjalanan waktu yang tak singkat, Nunu didapuk menjadi pelatih woodball di Kopassus, Pusdikav dan Pusenkav.
“Tapi karakter saya mungkin sekadar pendiri dan pembentuk, Setelah terbentuk mah mangga weh dilanjut,” ujar Nunu yang kini menjabat Kabid Pendidikan dan Penataran KONI Kota Bandung Masa Bakti 2023-2027.
Selain menjadi staf pengajar di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, saat ini Nunu Bersama Yamin Saputra dan Helmi menjadi assesor Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) untuk menguji kompetensi pelatih nasional. Dan yang sudah mengadakan uji kompetensi bagi para pelatih ini baru di KONI Kota Bandung.
Tempo hari lewat Musyawarah Olah Raga Daerah (Musorda) Pengcab Persatuan Golf Seluruh Indonesia (PGI) Kota Bandung, secara aklamasi Nunu terpilih sebagai Ketua Umum, menggantikan ketua sebelumnya Hadi Sartono untuk masa bakti 2024 – 2028.
“Selama hampir 24 tahun saya mengenal olahraga golf. Secara formal saya “mengakrabi” gol di kampus UPI karena ada mata kuliahnya dan masuk ke prodi Pendidikan Kepelatihan Olahraga (PKO). Mata kuliah golf sendiri masuk tahun 1996. Sementara saya masuk tahun 1997. Jadi saya angkatan kedua kuliah golf, pengajarnya waktu itu Pak Indra Thohir, mantan pelatih Persib dan alm. Pak Sukartono,” papar Nunu.
Karena faktor usia, Nunu nampaknya lebih menikmati kapasitasnya sebagai pembina golf dibanding sebagai atlet misalnya. Apalagi latar belakangnya sebagai akademisi yang nyaris tak memberi ruang dan waktu untuk menjadi seorang atlet golf.
Nunu tak menepis sinyalemen apabila sebagian masyarakat masih menempatkan olahraga golf sebagai olahraga elit dimana pelakunya rata-rata usia paruh baya. Namun fenomena itu berubah saat pandemi covid 19 melanda Indonesia (dan dunia).
“Saat pemerintah melarang semua aktifitas masyarakat apalagi diruang tertutup, olahraga golf diberi kelonggaran meski tetap dengan rambu-rambu yang diberikan pemerintah. Maka banyak masyarakat yang ingin tetap berolah tubuh, memilih golf sebagai alternatifnya,” ungkap Nunu.
Bukan sekadar gambling jika Nunu berani out the box.. Itulah yang terjadi ketika skripsi S1 Nunu berdasarkan penelitian tentang golf. Satu penelitan ke jenjang S1 yang tak pernah dilakukan mahasiswa diparuh akhir perkuliahannya.
Nunu mengatakan, hal utama dari proses pembinaan itu adalah regenerasi ke atlet. Itu pula yang menjadi program jangka pendek dalam kapasitasnya sebagai ketua pengcab PGI Kota Bandung.
“Hal lain yang akan saya lakukan di program jangka pendek ini adalah mencoba menginventarisir atlet karena atlet golf mandiri itu sekarang sudah banyak. Artinya mandiri adalah orangtua yang memberi biaya. Karena semuanya pasti berawal dari keluarga untuk menjadikan anaknya berprestasi,” ujar Nunu.
Akan halnya untuk jangka panjang adalah melakukan pembinaan melalui kompetisi. Artinya atlet yang sudah ada tinggal fokus berlatih, sementara tugas pengcab adalah menggelar pertandingan.
“Dengan melaksanakan pertandingan yang insya allah akan berlangsung periodik, efeknya sangat positif yakni si atlet akan semakin aktif berlatih di klub. Idealnya dalam setahun bisa tergelar dua atau tiga kali kejuaraan golf. Mereka punya gengsi klub, Mereka termotivasi ingin menunjukkan eksistensi,” ucap Nunu.
Nunu mengatakan tak memiliki materi berlebih ketika masuk di organisasi golf, namun dia meyakini memiliki ide dan gagasan.
“Memang saya tak punya materi, tapi saya bisa menjual ide. Misalnya bagaimana bantuan dari KONI Kota Bandung itu dibagi ke bidang-bidang ditubuh pengcab PGI Kota Bandung untuk menggelar kejuaraan. Sebagai pengcab kita mah mengurus perijinan atau penjadwalan dan mencari hadiah,” ujar Nunu. (den)





