
Ku: Ridhazia
SITU Bagendit danau wisata ikonik di Garut, Jawa Barat semakin meredup. Berbanding terbalik dengan keadaan setahun setelah diresmikan pada Agustus 2023.
Proyek revitalisasi yang menelan biaya Rp87,73 miliar ini sepertinya tidak diurus serius. Pemandangan yang dulu “wah” kini menyisakan pemandangan ironi.
Jika tahun 2025 lalu muncul pemberitaan bahwa sekitar 56 hektar area Situ Bagendit sempat tertutup gulma eceng gondok. Lalu dibersihkan, tak berarti potensi wisata air lantas itu otomatis meningkat.
Pemandangan di sepanjang bibir situ yang terkenal karena mitologi Endit pada Sabtu (24/1/26) kini tak lagi menawan. Sejauh mata memandang, berserakan puing-puing perahu tradisional, rakit bambu, dan sepeda air wisata nampak sudah menjadi rongsok yang terdampar dan karam.
Dermaga yang didesain indah dan dilengkapi amphitheater, dan area kuliner dengan kerlap kerlip lampu malam yang instagramable sekarang sebatas berkedip sudah lumayan.
Kondisi yang memprihatinkan destinasi wisata ini secara tidak langsung memutus harapan mencari nafkah sebagian penduduk setempat. Padahal dulu dijanjikan lokasi ini dirancang untuk memberi tempat mengais rejeki.*
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.



