Ngopi Sewarung: Pers Petugas Cahaya Kehilangan Elan Vital
Ngopi Sewarung Pers Petugas Cahaya, Sudah Kehilangan Elan Vital

Ngopi Sewarung
Pers Petugas Cahaya, Sudah Kehilangan Elan Vital
Ajaran pertama dan utama saat mulai memasuki dunia jurnalistik adalah menyebarkan fakta kebenaran dan bisa menjadi cahaya kebenaran-kebaikan. Jika ada dua matahari yang menyinari bumi, salah satunya adalah jurnalis. Ada tugas kenabian yang melekat pada seorang jurnalis, tugas menyebarkan cahaya. Tulisan atau berita yang disampaikan harus memegang teguh syarat-syarat yang mendukung dan menampilkan fakta kebenaran. Obyektif, menyampaikan fakta apa adanya (dua sisi pro-kontra-mencakup kedua belah pihak), dan mampu menggali (investigasi) serta menyampaikan fakta secara logistik dan etis. Beropini atau memberikan persepsi boleh saja asal ada dasar fakta dan logikanya. Ada nilai-nilai kepatutan yang diindahkan. Boleh dibilang tugas seorang jurnalis yang identik dengan ilmuwan, sejarawan, budayawan-seniman (menyuarakan kebenaran dan kebaikan berdasarkan fakta, logika, etika, dan suara isi hati yang terdalam). Karya jurnalistik tidak sembarangan bisa disiarkan atau dipublikasikan sebelum melalui proses seleksi yang ketat. Karena itu dunia jurnalistik banyak melahirkan orang-orang besar, hebat, berpengaruh, dan memiliki integritas moral yang tinggi.
Memberikan ruang dan panggung yang leluasa bagi pribadi yang baik, berkualitas, berintegritas, dan cerdas (jangan harap orang bodoh bisa mendapat panggung). Tulisan opini yang diperkirakan akan merusak persatuan dan keharmonisan kehidupan bersama berbangsa dan bermasyarakat atau berpotensi menyudutkan atau merugikan pihak tertentu tanpa dasar, jangan berharap bisa dipublis. Karena pers harus mampu menciptakan dunia dan masa depan kehidupan umat manusia yang lebih baik.
Tapi itu cerita dulu. Coba perhatikan dan bandingkan dengan potret pers sekarang setelah dunia media sosial (medsos) tumbuh bersamaan dengan perkembangan teknologi digital. Kini semua orang bisa bebas menulis dan berbicara kapan saja dan di mana saja. Peran dan fungsi jurnalistik mulai tergeser, tersudut bahkan terkontaminasi. Media-media mainstream pun ikut terbawa arus dan sudah mulai kehilangan elan viral sebagai petugas cahaya. Banyak pendapat dan nara sumber tanpa memiliki dasar kekuatan logika, fakta, serta etika begitu bebas boleh dan bisa naik panggung. Mereka berbicara berdasarkan persepsi dan opini subyektif. Mencaci maki dan sebar kebencian hampir tanpa batas di ruang publik yang diakomodir oleh lembaga atau perusahaan media. Betul pers harus menyajikan cover kedua sisi (menampilkan dua sisi yang berbeda), namun, seorang jurnalis wajib berpihak pada kebaikan dan kebenaran serta keindahan agar dunia tetap menjadi surga.
Pahami perasaannya,
Tuan Sepuluh.



