
Oleh: Ridhazia
ALAM Indonesia sedang ngamuk. Kemarahannya memuncak dan meledak. Tapi alam tidak pernah salah.
Dengan kata lain, tidak ada alasan menumpahkan kekesalan atas semua bencana kepada alam. Justru, alam sudah sejak awal mengabarkan fenomena sebagai peringatan. Manusialah yang justru gagal merespons fenomena alam itu.
Demikian pula bencana di Sumatra dan beberapa daerah lain di Indoensia. Sebagian besar disebabkan oleh faktor geografis dan iklim lokal. Ditambah ekosistem yang dirusak. Terutama alih fungsi hutan.
Bukan Siklon Tropis
Diberitakan, bencana karena siklon tropis tak sepenuhnya benar karena posisi
Indonesia secara geografis terletak di sekitar khatulistiwa, yakni sebuah “zona tenang” yang aman dari dari badai siklon tropis.
Jalur utama pergerakan siklon tropis yang digadang-gadang penyebab bencana sama sekali tak beralasan. Badai besar itu berada sekitar 5 hingga 20 derajat Lintang Utara dan Lintang Selatan dari khatulistiwa.
Menyebabkan Gelombang Tinggi
Badai besar yang terbentuk di atas samudera besar yang mengapit Indonesia itu hanya berpotensi menyebabkan gelombang laut diperairan Ikian meninggi. Melebihi 4 meteran sebagaimana terjadi di Jakarta Utara dan sejumlah pantai di pelosok negeri ini.
Bayangkan saja, kecepatan angin siklon tropis itu kencang. Minimal 63 km/jam dan berputar dengan kecepatan luar biasa. Gelombangnya saja melampaui tinggi 4 meter lebih.
Puting Beliung
Jika badai siklon tropis mencapai daratan berpotensi terjadi badai ekstrim puting beliung dalam skala besar. Menyapu bersih daratan tanpa kecuali seperti terjadi di Tangerang, Bandung , dan Bogor.
Berdoa
Tetaplah berdoa dan berhati-hati. Fenomena alam ini masih panjang. Bisa terjadi kapan saja. Setidaknya sampai Maret 2026 menurut prediksi BM. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikai sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.

