
KOTA BANDUNG, BANDUNGPOS–Indonesia tidak baik-baik saja, demikian pula dunia. Berbagai krisis dan bencana yang saling berdatangan adalah momen untuk refleksi. Ketimpangan sosial masih menganga, dan suara kelompok rentan sering kali terpinggirkan.
Keinginan saja tidak cukup untuk membalikkan keadaan, apalagi upaya mengatasinya tidak dibarengi kejujuran, tekad serius, serta komitmen yang konsisten.
Demikian diungkapkan Presiden Dilans Indonesia, Farhan Helmy, kepada pers di kantornya, hari ini.
Namun ungkap Farhan, di tengah semua itu, selalu ada satu hal yang tersisa: pilihan.
“Ada Jalan ditengah ketidakpastian, berhenti sejenak untuk mendialogkannya. Karena masa depan tidak hanya peristiwa: ia dipilih, dibentuk, dan diperjuangkan bersama, ” ujar Farhan.
Menurut Farhan, setidaknya ada Empat puluh narasumber dihadirkan dengan beragam latar: pembuat kebijakan, aktivis, ilmuwan, praktisi, LSM, dan advokat. Beberapa nama diantaranya: Dante Rigmalia (KND), Atnike Sigiro (Komnas HAM), Tri Widodo Utomo (LAN), Pramono Anung (Gubernur Jakarta), Rachmat Witoelar (ISER), M. Farhan (Walkot Bandung), Usman Hamid (Amnesty Internasional), Dandhy Laksono (RESET Indonesia), Jilal Mardhani (Neraca Ruang), Noer Fauzi (Aktivis Reforma Agraria), Ranjaminsyah (Advokat), Jalal (Thamrin School), Ari Mochamad (WWF Indonesia), Swary Utami Dewi (Pakar Perhutanan Sosial), Sunarman Sukamto (RBI), Hemasari Darmabumi, Dadang Sudarja (LPBI NU), Segah (DILANS Indonesia, Hendra Gunawan (Matematikawan ITB), Arief Wibowo (ICLEI), Puput (KPBI), Ahmad Basri (Aktivis difabel), Hayati S. Kartadinata (Aktivis Pendidikan), Corfied Magetan (FKD Jabar) dan narsum lainnya.
Ditambahkannya, percakapan berfokus pada isu kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi sosial (GEDSI), krisis iklim sebagai tantangan sosial dan etis, serta keberlanjutan sebagai tanggung jawab jangka panjang. Dipandu oleh Farhan Helmy, Ustadz Zaki Mirza, dan Lian Lubis, dialog ini dirancang sebagai ruang kewargaan yang bukan untuk memberi jawaban tunggal, melainkan untuk mendengarkan, menghubungkan pengalaman, pengetahuan, dan kebijakan dalam merespon krisis dan ketidakpastian.** ( RM/BNN)





