Bandung Raya

1.941 Mahasiswa Baru Unisba Ikuti P3M, Karakter Islami Diperkuat Sejak Awal Kuliah

30views

KOTA BANDUNG, PRIPOS.ID — Memasuki kehidupan perguruan tinggi, mahasiswa tidak hanya dituntut memiliki kesiapan akademik, tetapi juga membutuhkan fondasi karakter sebagai bekal menjalani proses pendidikan. Universitas Islam Bandung (Unisba) kembali menghadirkan Pengenalan & Pengembangan Pribadi Mukmin, Muslim, dan Muhsin (P3M) untuk menanamkan nilai-nilai Islami kepada mahasiswa baru.

P3M menjadi agenda tahunan yang terintegrasi dalam rangkaian Ta’aruf mahasiswa baru Unisba. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diperkenalkan dengan nilai-nilai keislaman sekaligus diajak membangun karakter sejak awal memasuki lingkungan kampus.

Pelaksanaan P3M tahun ini berlangsung di ruang-ruang kelas Kampus Utama Unisba dan Gedung LPPM Unisba, Selasa (15/9/2026). Sebanyak 1.941 mahasiswa baru mengikuti kegiatan tersebut yang terbagi ke dalam 59 kelas.

P3M merupakan pelatihan pembentukan karakter Islami atau Islamic Character Building. Dengan pendekatan Psikologi Islam, mahasiswa diajak mengenali dirinya serta menginternalisasi nilai-nilai Islam melalui kerangka 3M, yakni Pribadi Mukmin, Pribadi Muslim, dan Pribadi Muhsin.

Konsep tersebut kemudian diarahkan pada pembentukan karakter Mujahid, Mujtahid, dan Mujaddid, yang diharapkan menjadi bagian dari proses pengembangan kepribadian mahasiswa selama menempuh pendidikan di Unisba.

P3M Menjadi Bagian Rutin Ta’aruf Unisba

Koordinator P3M Unisba, Hendi Suhendi, S.Sos.I., M.M., mengatakan P3M merupakan salah satu kegiatan penting dalam rangkaian Ta’aruf yang secara rutin diberikan kepada mahasiswa baru setiap tahun.

“P3M ini merupakan salah satu bagian dari rangkaian Ta’aruf mahasiswa baru Unisba. Kegiatannya berupa pelatihan pengenalan dan pengembangan pribadi 3M, yaitu Mujahid, Mujtahid, dan Mujaddid, melalui materi Pribadi Mukmin, Pribadi Muslim, dan Pribadi Muhsin,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa baru tidak hanya menerima materi. Mereka juga mengikuti berbagai aktivitas dan permainan yang dirancang untuk membuat proses pembelajaran lebih interaktif sekaligus membantu peserta memahami materi yang diberikan.

Tahun ini, pelaksanaan P3M mengalami penyesuaian durasi. Jika sebelumnya kegiatan berlangsung sekitar satu setengah hari, kini seluruh rangkaian dipadatkan menjadi satu hari.

Meski waktunya lebih singkat, materi tetap disampaikan secara utuh. Penyesuaian terutama dilakukan pada porsi permainan yang dikurangi dan ditempatkan sebagai jeda di antara penyampaian materi.

“Materinya tetap diberikan secara utuh, hanya games yang dikurangi. Kalau sebelumnya games cukup banyak di setiap sesi, sekarang ditempatkan sebagai jeda antar-materi,” jelas Hendi.

Untuk mendukung proses pelaksanaan P3M, setiap kelas maksimal berisi 33 peserta dan mendapatkan pendampingan dari dua fasilitator.

Dengan jumlah 59 kelas, terdapat 118 fasilitator yang terlibat dalam kegiatan P3M tahun ini.

Para fasilitator berasal dari mahasiswa minimal semester lima serta sejumlah alumni Unisba. Mayoritas fasilitator berasal dari Fakultas Psikologi, meskipun kesempatan untuk terlibat terbuka bagi mahasiswa dari seluruh fakultas.

Sebelum bertugas mendampingi mahasiswa baru, para fasilitator terlebih dahulu mengikuti Training for Facilitator selama satu hari.

Pelatihan tersebut menggunakan materi dan metode yang sama dengan yang diberikan kepada mahasiswa baru. Para fasilitator juga menjalani simulasi dan roleplay sebagai bagian dari persiapan sebelum terjun langsung ke kelas.

Menurut Hendi, keberadaan fasilitator memiliki peran penting dalam menjaga agar proses pembelajaran di setiap kelas berlangsung dengan pendekatan yang seragam. Di sisi lain, fasilitator juga diharapkan mampu menciptakan suasana yang lebih dekat dan komunikatif dengan mahasiswa baru.

“Kami menginginkan mahasiswa baru mendapatkan pengenalan dan pengembangan pribadi Muslim, khususnya berkaitan dengan karakter Mujahid, Mujtahid, dan Mujaddid,” katanya.

Pembentukan Karakter Tak Berhenti di P3M

Hendi menilai pembentukan karakter mahasiswa tidak dapat diselesaikan hanya melalui satu kegiatan. Karena itu, nilai-nilai yang diperkenalkan melalui P3M diharapkan terus diperkuat melalui berbagai program pembinaan selama mahasiswa menjalani pendidikan di Unisba.

P3M menjadi salah satu tahap awal untuk mengenalkan karakter dan nilai yang diharapkan berkembang secara berkelanjutan dalam kehidupan akademik maupun kegiatan kemahasiswaan.

“Dalam waktu satu hari tentu belum optimal. Mudah-mudahan nanti dilanjutkan melalui materi-materi berikutnya, seperti Pesantren Mahasiswa Baru, Pesantren Calon Sarjana, maupun dalam proses perkuliahan dan kegiatan lainnya,” tutur Hendi.

Melalui pelaksanaan P3M yang rutin menjadi bagian dari Ta’aruf Unisba, mahasiswa baru tidak hanya diperkenalkan dengan lingkungan akademik dan kehidupan kampus. Mereka juga mendapatkan bekal nilai dan karakter yang menjadi bagian dari identitas pendidikan di Unisba.

Bekal tersebut diharapkan menjadi fondasi agar mahasiswa mampu tumbuh sebagai pribadi yang beriman, berilmu, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Dengan demikian, perjalanan mahasiswa baru di Unisba sejak awal tidak hanya diarahkan pada pencapaian akademik. Mereka juga dibekali proses pengembangan diri untuk membangun karakter Mujahid, Mujtahid, dan Mujaddid sebagai bagian dari perjalanan pendidikan di kampus.(askur/nmn)***

Leave a Response