
BANDUNG, Bandungpos.id – Di tengah keterbatasan anggaran dan nilai Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat / IPLM Jawa Barat yang masih di angka 18 dari target 70, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat tetap berkomitmen untuk terus menumbuhkan minat baca masyarakat.
Komitmen itu diwujudkan melalui Festival Literasi & Hari Kunjung Perpustakaan Provinsi Jawa Barat 2026 yang digelar pada 15–17 September 2026. Kegiatan ini menjadi pembuka rangkaian Bulan Gemar Membaca September 2026 dan diawali dengan Hari Kunjung pada 14 September.
Mengusung tema _“Ngawanohkeun Baheula, Ngawanun Jaga: Mengenal Masa Lalu, Membangun Masa Depan”_, festival ini diharapkan menjadi ruang bagi masyarakat, khususnya siswa, untuk kembali dekat dengan buku dan perpustakaan.
Kepala Dispusipda Jabar, Drs. H. Kusmana Hartadji, MM menyampaikan bahwa tujuan utama festival ini adalah meningkatkan minat membaca dan budaya literasi masyarakat secara menyeluruh.
“Saat ini tingkat kegemaran membaca memang sedikit menurun, sehingga perlu ada upaya nyata untuk mengajak masyarakat datang ke perpustakaan. Tidak hanya lewat membaca buku, festival ini juga menghadirkan buku bedah, literasi musik, literasi budaya, hingga literasi kuliner agar literasi terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari,” kata Kusmana kepada media, Selasa (14/9).
Dispusipda juga ingin menghidupkan kembali peran perpustakaan sebagai belajar pusat sepanjang hayat.
Buktinya, rata-rata kunjungan ke perpustakaan mencapai 3–9 ribu orang per minggu, ditambah dengan layanan digital “Candil” yang terus diakses masyarakat.
Selain itu, festival ini menjadi wadah untuk memperkuat sinergi dengan komunitas literasi se-Jawa Barat dan Dinas Pendidikan melalui KCD, khususnya dalam pelatihan perpustakaan SMA, SMK, dan SLB yang menjadi kewenangan provinsi sekaligus komponen penting dalam penilaian IPLM.
Menangapi rendahnya nilai IPLM 18, Kusmana menjelaskan bahwa ada perubahan indikator dari Perpustakaan Nasional. Jika sebelumnya dihitung dari agregat kabupaten/kota, kini sesuai kewenangan provinsi di sekolah.
Karena itu angkanya tidak bisa dibandingkan langsung dengan tahun sebelumnya.
Ia optimis tahun depan akan ada peningkatan signifikan seiring kerja sama yang sudah dibangun dengan Disdik Jabar.
Tantangan lain yang dihadapi adalah minimnya anggaran pengadaan buku.
Selama dua tahun terakhir tidak ada anggaran khusus, padahal koleksi non-pelajaran seperti pertanian, peternakan, dan keterampilan sangat dibutuhkan untuk mendongkrak IPLM.
“Saat ini Dispusipda hanya mengandalkan hibah dari penerbit dan masyarakat. Alhamdulillah, Komisi 5 DPRD Provinsi Jawa Barat sudah merespons dan diharapkan tahun depan ada lagi pengadaan buku,” kata dia.
Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, imbuh dia, tahun ini Dispusipda juga akan menyalurkan bantuan spot baca digital ke SMA dan SMK.
Di sisi lain, ditengah maraknya penggunaan media digital, Kusmana tetap menekankan pentingnya buku fisik.
“Digital hanya sebagai perantara, sementara buku konvensional tetap yang paling membuat pembaca beta dan anteng,” tandas Kusmana. (adem/BNN)





