Uncategorized

LPPM Unisba Perkuat Kesiapsiagaan Warga Pakuhaji Hadapi Bencana Lewat Program LAPOR Berbasis InaRISK

22views

BANDUNG BARAT, bandungpos.id – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Islam Bandung (Unisba) terus memperkuat peran perguruan tinggi dalam membangun masyarakat tangguh bencana. Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), LPPM Unisba menggelar kegiatan bertajuk “Penguatan Kesiapsiagaan Masyarakat Rawan Bencana Alam melalui Program LAPOR dengan Aplikasi InaRISK Personal” di Desa Pakuhaji, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (23/8/2026).

Kegiatan tersebut melibatkan Tim Relawan Desa Tangguh Bencana (Destana), perangkat RT dan RW, serta berbagai unsur masyarakat sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas warga dalam menghadapi ancaman bencana alam melalui pendekatan edukasi, teknologi, dan nilai-nilai keagamaan.

Acara dibuka secara resmi oleh Camat Ngamprah, Hari Mustika Jachja, S.Sos. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa penguatan kesiapsiagaan masyarakat merupakan langkah penting untuk mengurangi risiko bencana, terutama di kawasan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi seperti Desa Pakuhaji.

Desa Pakuhaji Hadapi Risiko Bencana Tinggi

Desa Pakuhaji dikenal sebagai salah satu wilayah di Kabupaten Bandung Barat yang rentan terhadap bencana hidrometeorologi. Topografi berupa perbukitan dengan kemiringan lereng lebih dari 30 persen, curah hujan tahunan di atas 2.000 milimeter, serta kedekatan dengan jalur aktif Sesar Lembang, menjadikan kawasan ini berisiko mengalami tanah longsor dan banjir bandang.

Walaupun telah berstatus Desa Tangguh Bencana (Destana), peningkatan kemampuan masyarakat dalam mitigasi mandiri masih menjadi kebutuhan, khususnya dalam pemanfaatan teknologi informasi kebencanaan.

Sebagai solusi, tim PKM LPPM Unisba menghadirkan inovasi Program LAPOR, akronim dari Larangan Merusak, Anjuran Menanam, Peringatan Moral, Optimalisasi Ihsan, dan Respons Cepat.

Program ini dirancang sebagai model penguatan kesiapsiagaan masyarakat berbasis komunitas dengan mengintegrasikan penggunaan aplikasi InaRISK Personal dan pendekatan sosioreligius. Melalui konsep tersebut, masyarakat diajak tidak hanya memahami aspek teknis mitigasi bencana, tetapi juga menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab moral.

PKM dipimpin oleh Dr. Khambali, S.Pd.I., M.Pd.I., dosen Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Unisba. Tim pelaksana juga terdiri atas Dr. Luthfi Nurwandi, S.T., M.T., dosen Teknik Industri Fakultas Teknik, Dr. Giantomi Muhammad, S.Pd., M.Pd., dosen Pendidikan Agama Islam, serta dua mahasiswa, Shadiatul Milah dan Annisa Mutia Lestari.

Edukasi Mitigasi hingga Pelatihan Aplikasi InaRISK

Materi pertama disampaikan oleh Suyono, S.Pd., Sekretaris Jenderal Forum Komunikasi Taruna Siaga Bencana (FK Tagana) Kabupaten Bandung Barat. Ia membekali peserta dengan pengetahuan mengenai kesiapsiagaan menghadapi bencana, mulai dari mengenali potensi risiko lingkungan, memperkuat koordinasi antarwarga, memahami jalur evakuasi, hingga langkah-langkah awal saat kondisi darurat.

Selanjutnya, Khambali menyampaikan materi mengenai Teologi LAPOR, yang menekankan bahwa mitigasi bencana bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga bagian dari amanah manusia sebagai khalifah di bumi. Masyarakat didorong untuk menjaga kelestarian alam melalui gerakan menanam, menghindari kerusakan lingkungan, memperkuat kepedulian sosial, serta membangun budaya saling membantu ketika terjadi bencana.

Pada sesi berikutnya, Dr. Giantomi Muhammad memberikan pelatihan penggunaan aplikasi InaRISK Personal. Melalui aplikasi ini, peserta belajar mengenali tingkat risiko bencana di wilayah tempat tinggal masing-masing sehingga dapat meningkatkan kesiapsiagaan berbasis informasi digital yang cepat dan akurat.

Program PKM ini menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR), yaitu metode yang melibatkan masyarakat secara aktif sejak tahap identifikasi masalah hingga pelaksanaan solusi.

Pelaksanaannya mencakup enam tahapan, yakni pemetaan risiko partisipatif, edukasi teologi dan ekologi berbasis nilai lokal, pelatihan penggunaan aplikasi InaRISK Personal, simulasi evakuasi mandiri, gerakan penghijauan pada lahan kritis, serta pembentukan komunitas Desa Siaga LAPOR.

Dengan pendekatan tersebut, masyarakat tidak lagi hanya menjadi penerima informasi, tetapi berperan sebagai pelaku utama dalam upaya pengurangan risiko bencana di lingkungan mereka.

Melalui kegiatan ini, LPPM Unisba memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, relawan kebencanaan, serta masyarakat dalam membangun sistem mitigasi yang berkelanjutan.

Program ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 11 tentang kota dan permukiman yang berkelanjutan serta Tujuan 13 mengenai aksi terhadap perubahan iklim.

Dengan mengintegrasikan edukasi kebencanaan, nilai-nilai spiritual, pelestarian lingkungan, dan teknologi digital melalui aplikasi InaRISK Personal, LPPM Unisba berharap Program LAPOR dapat menjadi model pengabdian kepada masyarakat yang inovatif sekaligus memperkuat kesiapsiagaan masyarakat di wilayah rawan bencana.(ask)***

Leave a Response