Seni Budaya

29 Tahun Kuflet Merajut Kebersamaan

34views

Oleh Muhammad Subhan

Tanggal 12 Mei 2026, beberapa hari lalu, Komunitas Seni Kuflet Padang Panjang genap berusia 29 tahun. Sudah lebih dari seperempat abad. Komunitas ini lahir pada 12 Mei 1997, didirikan oleh pelukis dan sutradara teater Sulaiman Juned bersama sejumlah tokoh seniman Kota Padang Panjang. Besok, 17 Mei 2026, di sekretariat Kuflet, Jalan Dr. A. Riva’i No. 146, Kampung Jambak, Padang Panjang, ada syukuran bersama pendiri, pengurus, anggota, dan alumni Kuflet, sekaligus peluncuran buku kumpulan puisi “Padangpanjang 999” karya Sulaiman Juned.

 

SULAMAN Juned memang penulis produktif. Saya sudah tahu sejak lama, sejak saya masih SMA di Aceh. Setiap tahun minimal satu buku ia terbitkan. Dan dari semangat berkaryanya itu, saya banyak belajar.

Saya pertama kali menyinggahi markas Kuflet pada tahun 2009 ketika bermukim di Padang Panjang, setelah beberapa tahun di Kota Bukittinggi. Di Bukittinggi saya memimpin halaman Bukittinggi dari sebuah koran harian tertua di Padang, lebih kurang dua tahun di sana.

Markas Kuflet sederhana. Sebuah rumah kontrakan, tak jauh dari gedung DPRD Kota Padang Panjang. Rumah itu menghadap sawah. Ada selokan kecil di depannya seperti anak sungai dengan suara gemercik air yang lembut. Di seberangnya terdapat sebuah tebat ikan, juga terhampar sawah dengan lanskap Gunung Marapi yang menjadi latar belakangnya.

Siapa sangka, di rumah itu telah ratusan seniman hasil didikan Kuflet. Di sana, anak-anak didik Kuflet membaca puisi, berdiskusi, latihan teater, pun menyeduh kopi maupun makan bersama.

Di rumah itu, Sulaiman Juned adalah motor penggerak yang mesinnya selalu menyala. Memberikan api semangat. Memberi kail, bukan umpan. Dia adalah seorang dosen, guru, sekaligus kawan yang tanpa mau dipanggil dokter, meski sederet gelar akademik tersandang lekat pada namanya: Dr. Sulaiman Juned, S.Sn., M.Sn. Ia terkadang menjadi aktor yang berdiri di panggung, terkadang menjadi abang, lebih banyak menjadi ayah tempat mengadu segala keluh kesah anak didiknya.

Sulaiman Juned lahir di Usi Dayah, Pidie, Aceh, 12 Mei 1965. Bulan ini usianya genap 61 tahun. Komunitas seni yang ia bidani itu tepat pula berusia 29 tahun. Seni bagi Sulaiman Juned adalah jalan pulang. Jalan hidup. Jalan pengabdian sepanjang hayat.

Sulaiman Juned bukan hanya penulis. Ia adalah panggung itu sendiri. Ia telah memainkan lebih dari 250 judul naskah lakon, menyutradarai 152 naskah. Ia telah berteater dari ujung Sumatera hingga Papua, dari Indonesia hingga Jepang, Thailand, India, dan Brunei Darussalam.

Sulaiman Juned membuktikan bahwa dari sebuah kota kecil berudara dingin bernama Padang Panjang, meski ia berasal dari Bumi Tanah Rencong, Aceh, seorang anak kampung bisa mendunia, asal mau belajar, asal tekun, asal cinta apa yang ia cintai.

Di Kuflet, anak-anak didiknya belajar menangis tanpa air mata, belajar marah dalam diam, belajar menjadi orang lain di atas panggung, lalu menjadi lebih manusiawi setelah turun dari pentas.

Kuflet bukan sekadar ruang latihan. Kuflet adalah ruang kehidupan.

Pementasan demi pementasan telah dilakukan Komunitas Seni Kuflet. Lebih dari seratus kali. Kadang tanpa penonton, kadang ditonton pejabat, kadang ditonton hujan. Tapi Kuflet tetap tampil tanpa lelah. Karena Kuflet percaya, seni bukan semata-mata untuk disaksikan, tapi untuk dijalani.

Pernah, dalam salah satu diskusi di malam yang telah puncak, Sulaiman Juned berkata, “Kalau tak bisa hidup dari seni, maka hiduplah bersama seni.”

Kalimat itu sangat berkesan. Karena di Kuflet, saya hanya melihat panggung, tapi menemukan alasan untuk hidup lebih baik, lebih memahami orang lain dan diri sendiri.

Kini, para alumni Kuflet menyebarkan mana-mana. Mereka ada yang menjadi dosen, guru, jurnalis, pegawai negeri, pejabat, penulis, pegiat komunitas, bahkan ada yang menjadi pengusaha seni.

Nama mereka tidak selalu tampil di layar televisi. Tapi mereka adalah denyut nadi dari gerakan seni akar rumput.

Di Kuflet, Sulaiman Juned tidak pernah mendidik anak-anak didiknya untuk mengejar popularitas. Sebaliknya yang utama mengejar proses. Hasil hanya bonus dari kerja keras, bukan tujuan. Di Kuflet, tidak selalu ada uang, tapi di Kuflet semangatnya tak pernah berkurang.

Kuflet, seperti pelita di malam hari. Kadang redup, tapi tak pernah padam

Dua puluh sembilan tahun. Saya kenang batas usia itu dengan haru. Bukan karena lamanya, karena tidak banyak komunitas yang bertahan lebih dari seperempat abad. Tapi karena betapa banyak kehidupan yang telah dilalui, dijalani, dengan segala suka dan likunya.

Selamat milad ke-61, Bang Sulaiman Juned. Selamat Hari Jadi ke-29 Komunitas Seni Kuflet. Teruslah kebersamaan kebersamaan: satu untuk semua, semua untuk satu. Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, pendiri Sekolah Menulis elipsis

Editor: Rianto Murad

Leave a Response