Opini

LCC MPR dan Pelajaran Tentang Prinsip Komunikasi yang Irreversible

25views

Oleh Satya Indra Karsa, Drs., M.Si (Dosen Stikom Bandung)

JAGAT  media sosial sedang gempar. Kontroversi seputar pelaksanaan Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR menjadi perbincangan luas di berbagai platform digital. Potongan video, komentar peserta, respons publik, hingga beragam opini bermunculan silih berganti. Dalam hitungan jam, sebuah peristiwa di arena lomba berkembang menjadi diskursus nasional yang melibatkan emosi, penilaian, bahkan polarisasi pendapat di ruang publik.

Perdebatan bermula ketika muncul cuplikan-cuplikan video yang dianggap memperlihatkan adanya keputusan kontroversial dalam proses perlombaan. Publik kemudian ramai membahas aspek teknis penilaian, mekanisme penjurian, hingga respons pihak-pihak yang terlibat. Situasi semakin meluas ketika potongan video tersebut diproduksi ulang dalam berbagai bentuk konten oleh kreator media sosial. Muncul parodi, meme, hingga video satir yang menyindir jalannya perlombaan sebagai bentuk kritik sekaligus kegusaran publik. Fenomena ini menunjukkan bagaimana sebuah peristiwa di ruang pendidikan dapat dengan cepat berubah menjadi konsumsi budaya digital ketika masuk ke dalam ekosistem media sosial.

Ajang lomba sejatinya bukan sekadar ruang untuk menentukan siapa yang menang dan kalah. Di dalamnya terdapat proses pendidikan, pembentukan karakter, sekaligus pembelajaran komunikasi bagi seluruh pihak yang terlibat. Hal itu pula yang tampak dalam dinamika penyelenggaraan LCC MPR yang belakangan menjadi perhatian publik.

Dalam perspektif komunikasi, terdapat satu konsep penting yang disebut irreversible communication, yakni komunikasi yang sulit bahkan tidak bisa ditarik kembali setelah disampaikan. Ucapan, ekspresi, keputusan, ataupun komentar yang sudah muncul di ruang publik akan meninggalkan jejak, memengaruhi persepsi, dan membentuk penilaian orang lain.

Di era media sosial, prinsip irreversible communication menjadi semakin relevan. Sekali sebuah potongan video tersebar, sekali komentar dilontarkan, atau sekali ekspresi ditampilkan di ruang digital, maka pesan itu akan terus hidup melalui unggahan ulang, tangkapan layar, meme, hingga reproduksi konten oleh warganet. Bahkan ketika klarifikasi telah dilakukan, jejak komunikasi sebelumnya tetap membentuk persepsi publik. Karena itu, komunikasi publik hari ini tidak lagi berlangsung dalam ruang yang terbatas tetapi bergerak sangat cepat, masif, dan sulit dikendalikan.

Karena itu, komunikasi tidak dapat dipandang semata-mata sebagai proses mekanistis: siapa berbicara, siapa menerima pesan, lalu selesai. Lebih dari itu, komunikasi juga mengandung dimensi filsafat, etika, dan kebijaksanaan. Setiap pesan mengandung konsekuensi moral dan sosial, terlebih ketika disampaikan dalam ruang kompetisi pendidikan yang melibatkan peserta didik.

Ajang LCC MPR pada hakikatnya bukan hanya lomba pengetahuan, tetapi juga arena pembelajaran nilai-nilai demokrasi, kedewasaan berpikir, serta penghormatan terhadap proses. Maka, seluruh pihak, baik panitia, juri, pendamping, maupun peserta perlu menempatkan komunikasi secara proporsional agar tidak berkembang menjadi ruang saling menyalahkan.

Tidak ada pihak yang perlu merasa malu apabila ditemukan hal-hal yang dianggap kurang tepat dalam pelaksanaan kegiatan. Dalam setiap sistem, evaluasi adalah bagian dari proses penyempurnaan. Dunia olahraga memberikan contoh yang menarik. Dalam sepak bola modern, selain terdapat wasit utama, kini hadir teknologi VAR (Video Assistant Referee) sebagai bentuk evaluasi dan koreksi agar keputusan menjadi lebih objektif.

Kehadiran mekanisme koreksi bukan berarti merendahkan pihak tertentu, melainkan menunjukkan bahwa sebuah sistem ingin terus belajar dan memperbaiki diri. Bisa jadi, inovasi dan pembaruan yang kita nikmati hari ini lahir dari berbagai kekurangan pada masa sebelumnya.

Di titik inilah komunikasi yang bijak menjadi sangat penting. Kritik hendaknya disampaikan secara konstruktif, bukan destruktif. Klarifikasi perlu dilakukan dengan kepala dingin, bukan dengan emosi. Sebab tujuan utama pendidikan bukan memperbesar konflik, melainkan membangun kedewasaan berpikir dan budaya dialog.

Bagi peserta didik, peristiwa seperti ini justru dapat menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana menyikapi perbedaan, menerima evaluasi, dan menjaga etika komunikasi di ruang publik. Masa depan mereka jauh lebih penting daripada sekadar polemik sesaat.

Pada akhirnya, setiap kompetisi akan selesai tetapi jejak komunikasi akan terus diingat. Maka yang perlu dijaga bukan hanya hasil perlombaan, melainkan juga kualitas komunikasi dan keteladanan sikap yang menyertainya.***

Leave a Response