
KOTA BANDUNG, Badungpos. id – Peringatan Hari Buruh Internasional di Kota Bandung berubah menjadi medan pertempuran. Aksi yang awalnya berjalan damai berakhir dengan kekacauan total saat sekelompok massa bertindak anarkis membakar Pos Polisi Simpang Cikapayang dan merusak sejumlah fasilitas umum, Jumat (1/5/2026) malam.
Situasi yang semula kondusif di depan Gedung DPRD Jawa Barat berbalik 180 derajat menjelang malam. Sekelompok orang berpakaian serba hitam, yang diduga sebagai kelompok penyusup, mulai merangsek ke arah Simpang Dago dan Tamansari. Mereka tidak membawa aspirasi, melainkan batu, besi, hingga bom molotov.
Aksi brutal pun tak terelakkan. Pos Polisi di bawah Jembatan Pasupati dibakar hingga hangus terbakar. Tidak hanya itu, videotron besar dan puluhan kios milik warga juga menjadi sasaran amukan massa yang tak bertanggung jawab tersebut.
Melihat situasi yang semakin tidak terkendali, aparat kepolisian segera mengambil tindakan tegas. Gas air mata ditembakkan untuk membubarkan massa yang juga melakukan penyisiran dan intimidasi terhadap kendaraan warga yang lewat.
Kapolda Jawa Barat, Irjen Pol Rudi Setiawan, menegaskan bahwa kerusuhan ini bukan dilakukan oleh elemen buruh atau mahasiswa yang berdemonstrasi secara resmi.
“Mereka adalah kelompok penyusup yang memang berniat membuat kerusakan. Mereka bukan bagian dari orasi buruh atau mahasiswa. Tujuannya jelas, menciptakan kekacauan,” tegas Kapolda.
Hingga dini hari, pihak kepolisian telah berhasil mengamankan sedikitnya 101 orang yang diduga kuat terlibat dalam aksi vandalisme dan perusakan tersebut.
Kini, pukulan keras diberikan oleh pihak keamanan. Sebanyak 14.578 personel gabungan TNI dan Polri disebar di seluruh titik vital Kota Bandung untuk mencegah terjadinya aksi susulan.
Meskipun situasi pagi ini (2/5) sudah mulai kondusif, bekas pembakaran dan puing-puing kerusakan masih terlihat jelas di jalanan. Pemerintah Kota Bandung mengimbau masyarakat untuk menghindari kawasan Simpang Cikapayang sementara waktu karena masih dalam proses olah tempat kejadian perkara (TKP) dan sterilisasi.
Kejadian ini menjadi catatan kelam peringatan May Day di Kota Kembang, di mana suara aspirasi justru dikalahkan oleh tindakan brutal yang merugikan banyak pihak. (As/kId)***





