DaerahKabupaten/Kota

Rayakan Hari Kartini, Lentera Menyala di Saung YRBK  

23views

KOTA BANJAR, Bandungpos–Untuk merefleksikan semangat dan inspirasi Hari Kartini, Yayasan Ruang Baca Komunitas (YRBK) bekerja sama dengan Bidang Perpustakaan, DKP Kota Banjar menggelar kegiatan “Refleksi Hari Kartini”, pada Jumat 24 April 2026 di Sekretariat YRBK. Acara dihadiri puluhan peserta mulai dari guru, siswa, mahasiswa dan pegiat literasi masyarakat umumnya. Acara bahkan dihadiri Duta Baca Jawa Barat, Kepala SMKN -1 Banjar, dan Kepala Bidang Perpustakaan, DKP Kota Banjar.

 

“Ini merupakan momentum yang baik bukan saja untuk mengenang perjuangan RA Kartini, tapi bagaimana kita merefleksikan semangat Kartini di masa kini,” ucap Ivan Mahendrawanto, SH dalam prakata pembuka mewakili YRBK. Hal senada juga disampaikan Aep Saepudin, SH, MM, Kepala Bidang Perpustakaan DKP Kota Banjar. “Saya bangga kepada para kawula muda yang bersemangat melanjutkan perjuangan Ibu Kita Kartini, salah satunya melalui kegiatan literasi,” tambahnya.

Peluncuran dan Bedah Buku

Acara utama diisi dengan peluncuran dan bedah buku berjudul “Kubalut Lukaku dengan Air Mata Kasih-Mu” karya Ina Indriyani, S.Pd., Gr., guru SMKN- 1 Banjar. Simbolik Peluncuran ditandai pemyerahan buku dari Penulis kepada Kabid Perpustakaan DKP Kota Banjar, Aep Saepudin dan Pendiri YRBK, Sofian Munawar.

“Buku bukan saja jendela dunia, tapi juga lentera dunia,” ucap Sofian Munawar, Pendiri YRBK yang juga merupakan Dosen Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya. Ia mengaku bahwa dirinya bersama YRBK saat ini “terlanjur” sudah disebut sebagai Duta Lentera, yang merupakan akronim dari: Literasi, Enumerasi, Nalar, Teknologi, Etika, Rasional, dan Aman. “Saya berharap bukan saja YRBK dan Bu Ina yang menjadi Lentera, tapi semua yang hadir di sini, terutama kawula muda dapat menjadi Duta Lentera, pelanjut semangat api literasi RA Kartini,” tambahnya.

Mengenai isi buku, dibedah langsung oleh Penulisnya Ina Indriyani, guru berprestasi yang telah melahirkan 6 buku. Dalam buku ini, Penulis menyebutkan bahwa setiap manusia pada dasarnya memiliki luka, baik yang berasal dari pengalaman hidup, trauma masa lalu, maupun pola pengasuhan. Luka-luka tersebut diibaratkan seperti sampah yang menumpuk. Apabila tidak dikelola dengan baik, maka luka dapat menjadi beban berat dan bahkan merusak kondisi batin kita. Oleh karena itu, menurutnya, penting bagi setiap individu untuk mengenali, menerima, dan mengelola emosinya dengan baik sehingga luka batin tersebut tidak berkembang menjadi sesuatu yang merugikan.

Penulis menekankan bahwa luka tidak selalu menjadi sesuatu yang negatif, melainkan dapat menjadi guru kehidupan. “Melalui luka, seseorang dapat belajar tentang kesabaran, keikhlasan, serta proses pendewasaan diri. Proses menuju keikhlasan sendiri tidak terjadi secara instan, melainkan melalui tahapan, dimulai dari penerimaan hingga akhirnya mencapai ketenangan batin,” tambahnya.

Puluhan peserta yang hadir sangat antusias mengikuti acara dari awal hingga akhir. Salah seorang peserta, Yosi Ayundri menilai semangat Kartini yang diangkat dalam kegiatan ini mengingatkan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam pendidikan dan pembangunan bangsa. Guru, khususnya perempuan, diharapkan mampu menjadi teladan sekaligus “lentera” bagi peserta didik, sebagaimana yang dicontohkan oleh Penulis. “Kegiatan ini dapat menjadi ajang refleksi diri dan penguatan peran pendidik dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara emosional dan spiritual,” ucap mahasiswa Prodi PAI-FKIP UMTAS ini memberikan refleksinya. ** (RM/BNN)

 

Leave a Response