Menemukan Jawaban di Luar Buku Teks
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, pendiri Sekolah Menulis elipsis

Oleh Muhammad Subhan
Yang saya suka, oleh Prof. Rhenald, ia meminta siswa belajar mencari pengalaman ke luar negeri, ke kota-kota di dunia yang bahkan mereka tidak pernah datangi. Sendirian. Bukan untuk berpesiar. Apalagi tanpa bantuan keluarga. Pokoknya harus mandiri. Kalau perlu tersasar.
SAYA suka menyimak video-video Prof. Rhenald Kasali. Beliau adalah seorang praktisi dan praktisi bisnis. Guru besar bidang ilmu manajemen di UI. Video-video motivasinya melintas di beranda medsos saya, khususnya Instagram.
Saya bukan mahasiswanya—dan beruntung menjadi mahasiswa beliau—, tapi seolah saya duduk di kelas Pemasaran Internasional Ekonomi dan Bisnis yang sering diampu Prof. Rhenald.
Yang saya suka, oleh Prof. Rhenald, ia meminta siswa belajar mencari pengalaman ke luar negeri, ke kota-kota di dunia yang bahkan mereka tidak pernah datangi. Sendirian. Bukan untuk berpesiar. Apalagi tanpa bantuan keluarga. Pokoknya harus mandiri. Kalau perlu tersasar.
Bayangkan, bagaimana seorang yang datang ke daerah di sebuah kota yang jauh, dengan uang terbatas, bahasa terbatas, tak punya teman pula?
panik. Ya, panik sekali. Bingung tak tanggung. Muncul gejolak batin yang kompleks, didorong disorientasi sensorik akibat lingkungan yang tak dikenal.
Namun, setelah kecemasan mereda, muncullah peringatan tinggi yang memaksa seseorang berpikir logis dan beradaptasi dengan keadaan. Pikiran jalan. Gagasan berhasil.
Di tengah kerentanan tersebut, sering kali muncul momen magis berupa penemuan-penemuan tak terduga, pengalaman berharga memberikan perspektif baru tentang ketangguhan diri di hadapan layar.
Saya setuju dengan metode pengajaran pendidikan ala Prof. Rhenald. Mahasiswa tidak harus duduk manis di ruang kelas, diceramahi dengan teori-teori, tetapi diberi tantangan untuk mencari pengalaman sebanyak-banyaknya di kampus luar. Mahasiswa jangan jago kandang. Mereka harus berani melepas ke belantara kota-kota asing untuk menguji sejauh mana teori yang mereka telan di bangku kuliah bisa berkelindan dengan kenyataan yang sering kali anomali.
Apalagi tidak hanya pelajar, pengalaman begitu sudah harus ditanamkan sejak duduk di bangku sekolah rendah, mulai sekolah dasar, SMP, hingga SMA. Kenapa demikian? Karena pendidikan kita terlalu lama memanjakan anak-anak dalam zona aman yang steril. Akibatnya, saat menghadapi benturan kenyataan, mereka seperti kerupuk disiram udara.
Saya teringat sahabat saya, mantan Duta Baca Indonesia, Gol A Gong. Salah seorang anak, Gabriel, sejak kelas 5 SD telah disekolahkan di Al Ain, Abu Dhabi. Jika dihitung kilometernya, Banten—kota di mana Gol A Gong berdomisili dengan komunitas literasi Rumah Dunianya—sekitar 6.942 kilometer (4.315 mil). Jika diukur dari Jakarta, jaraknya sekitar 6.871 kilometer (4.271 mil). Sangat sekali, tentu saja. Masih bocah pula. Bagaimana perasaan orang tua melepas anak kecilnya? Kalau rindu, harus punya banyak duit untuk datang menjenguknya.
Keputusan mengirim anak ke negeri orang bukanlah bentuk ketegaan, melainkan investasi mental. Gabriel, putra Gol A Gong, dipaksa berdamai dengan rasa kangen, bahasa yang asing, dan budaya yang berbeda demi membantu kemandirian sejak dini.
Pola ini seharusnya menjadi refleksi bagi guru-guru di sekolah rendah. Pendidikan tidak boleh hanya menjadi proses transfer informasi di dalam ruang yang dibatasi empat dinding. Guru harus berani membawa siswa keluar kelas. Membiarkan mereka menyentuh tanah, lumpur sawah, menghirup udara luar, dan berinteraksi dengan masyarakat.
Inilah letak kelemahan fatal belajar berani yang kita alami beberapa waktu lalu. Bahkan, sempat diwacanakan mau diulang lagi demi efisensi. Dalam layar digital, tidak ada emosi yang benar-benar tersampaikan. Tidak ada keringat, tidak ada aroma debu jalanan, dan tidak ada getaran pengalaman nyata di lapangan.
Belajar berani hanya mencetak kepala yang penuh, tapi hati yang kosong dari empati dan pengalaman ragawi.
Di luar kampus, mahasiswa yang “sengaja disesatkan” ke negeri orang, mereka dipaksa bertahan hidup. Ada yang bekerja apa saja demi menyambung pernafasan, menjadi pelayan restoran, buruh angkut, hingga terlibat menjadi relawan kemanusiaan.
Menjadi lawan memberikan pelajaran penting, bahwa di titik paling rendah sekalipun, manusia masih bisa berguna bagi sesama. Pengalaman ini membentuk karakter ketahanan atau kelentingan mental. Mereka berani keluar dari zona nyaman selama ini membuai.
Berada di zona nyaman terus-menerus adalah racun bagi kreativitas. Ia membuat pelajar atau pelajar hanya mengulang-ulang cara yang dianggap berhasil di masa lalu, tanpa keberanian untuk berinovasi. Padahal, masa depan itu bersifat ‘uncertain’ (tidak pasti), ‘unclear’ (tidak jelas), dan ‘unpredictable’ (tidak terduga). Dunia hari ini tidak lagi bisa ditebak hanya dengan rumus-rumus di buku teks yang ditulis sepuluh tahun lalu, atau lebih jauh dari itu.
Menemukan jalan baru hanya bisa diciptakan oleh generasi muda yang berani kesasar di sekelilingnya. Mereka yang pernah tersasar akan memiliki “navigasi batin” yang jauh lebih tajam dibandingkan mereka yang perjalanannya selalu mulus dan disuapi. Dalam konteks ini, keberadaan sekolah alam menjadi sangat krusial. Sekolah alam memberikan ruang bagi anak-anak untuk langsung berinteraksi dengan lingkungan. Di sana, alam bukan sekadar objek studi, melainkan subjek yang memberikan ujian sekaligus jawaban.
Filosofi ini sebenarnya sudah lama tertanam dalam tradisi kita, terutama di Minangkabau. Falsafah Alam Takambang Menjadi Guru mengajarkan bahwa seluruh fenomena di alam semesta ini adalah guru bagi manusia yang mau berpikir.
Alam adalah universitas terbuka yang tak pernah habis materinya. Seorang pemuda Minang zaman dahulu diwajibkan merantau, sebuah bentuk “tersasar yang terencana”, untuk mendewasakan diri sebelum kembali membangun nagari.
Jika dunia hari ini penuh dengan disrupsi, maka pendidikan kita harus menjadi disruptor demi kenyamanan anak didik. Biarkan mereka tersesat sejenak, biarkan mereka mencari jalan pulang sendiri. Hanya mereka yang pernah tersesatlah yang benar-benar mengerti arti dari sebuah tujuan. Tapi tetap digarisbawahi, “tersesat di jalan yang benar”.
Di atas jalan-jalan yang tak terpetakan itulah, lahirlah inovasi dan mentalitas pemenang. Kita tidak sedang mencetak generasi penghapal, melainkan generasi penjelajahan yang siap mencakup zaman. ** Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, pendiri Sekolah Menulis elipsis


