Silakwil ICMI Jabar 2026: Rektor Unisba Tekankan Peran High-Tech, High-Touch, dan High-Soul di Era Digital

METRO BANDUNG, bandungpos.id– Rektor Universitas Islam Bandung, Prof. Ir. A. Harits Nu’man, M.T., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., menjadi narasumber dalam kegiatan Silaturahmi Kerja Wilayah (Silakwil) dan Halal Bihalal 2026 yang digelar oleh Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Organisasi Wilayah Jawa Barat, Kamis (8/4).
Acara yang berlangsung di kampus Institut Teknologi Nasional Bandung, Jalan KPH Hasan Mustopa No. 23, Kota Bandung ini menjadi wadah strategis bagi para cendekiawan muslim untuk memperkuat sinergi menghadapi tantangan zaman.
Dalam kesempatan tersebut, Harits mengangkat tema “Kesalehan Sosial di Era Teknologi Digital”. Ia menegaskan bahwa teknologi harus dimanfaatkan sebagai wasilah atau sarana untuk menegakkan nilai-nilai ilahiah di tengah kehidupan modern.
“Teknologi bukan sekadar alat, tetapi medium untuk menghadirkan kemaslahatan,” ungkapnya.
Tiga Pilar Kunci di Era Digital
Dalam pemaparannya, Harits menjelaskan tiga pilar utama yang harus dimiliki cendekiawan muslim:
High-Tech (Penguasaan Teknologi)
Penguasaan teknologi menjadi syarat penting dalam membangun peradaban masa kini. Cendekiawan muslim diharapkan mampu menguasai teknologi mutakhir agar dapat mengisi ruang digital dengan narasi Islam yang moderat dan progresif. Selain itu, teknologi juga dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan ekonomi syariah dan memperluas filantropi Islam di tingkat global.
High-Touch (Empati dan Koneksi Sosial)
Di tengah derasnya arus otomatisasi, kemampuan menjaga empati dan hubungan kemanusiaan menjadi sangat penting. Teknologi, menurut Harits, seharusnya digunakan untuk memperluas jangkauan kasih sayang (rahmah), bukan malah menjauhkan manusia dari interaksi sosial.
High-Soul (Fondasi Spiritual)
Pilar ini menjadi landasan utama dalam menghadapi era digital. Integrasi nilai tauhid dan akhlakul karimah dalam aktivitas intelektual dinilai penting agar manusia tidak terjebak dalam materialisme digital.
Revolusi Industri 4.0 sebagai Ujian Zaman
Harits juga menyoroti bahwa Revolusi Industri 4.0 bukan hanya tentang kemajuan teknologi, melainkan juga ujian bagi keimanan dan intelektualitas. Ia menekankan bahwa cendekiawan muslim harus berperan aktif sebagai pengarah peradaban, bukan sekadar pengguna teknologi.
“Kesalehan sosial di era digital mencerminkan sosok Cendekiawan 4.0 yang utuh: cerdas secara digital, lembut dalam interaksi sosial, dan kuat dalam spiritualitas. Ini merupakan bentuk jihad modern agar teknologi membawa manfaat, bukan mudarat,” tegasnya.
Kegiatan Silakwil dan Halal Bihalal 2026 ini menjadi momentum penting bagi cendekiawan muslim di Jawa Barat untuk mempererat kolaborasi sekaligus merumuskan langkah konkret dalam menghadapi dinamika perkembangan zaman berbasis nilai-nilai keislaman.
Melalui integrasi teknologi, nilai kemanusiaan, dan spiritualitas, diharapkan lahir generasi intelektual muslim yang mampu berkontribusi secara global tanpa kehilangan identitas keislamannya.(ask)***





