
Oleh: Ridhazia
MEMASUKI pekan ketiga, Iran masih melawan. Israel dan AS terdesak untuk mengakhiri perang.
Negara NATO yang selama ini sekutu AS menolak memberi bantuan untuk memghindari eskalasi konflik meluas memilih jalur diplomatik.
Trump Didemo
Trump juga dimusuhi penduduk AS. Aksi demo di kota-kota besar seperti New York, Washington DC, dan Los Angeles, menggeruduk tempat tinggalnya.
Survei Reuters Ipsos (Februari 2026) menunjukkan 60% penduduk AS menganggap Trump semakin tidak menentu seiring bertambahnya usia. Kebijakan politiknya semakin “serampangan”
Krisis Global
Konflik Israel AS-Iran di Tanah Persia memicu gejolak global serius, akibat ancaman pasokan minyak dunia di Selat Hormuz.
Dunia mengalami inflasi global, volatilitas pasar keuangan, dan risiko stagflasi yang menyengsarakan penduduk dunia.
Kenaikan harga BBM memicu melambatkan pertumbuhan ekonomi dunia. Bahkan di Inggris sudah terjadi PHK massal.
Resiko Indonesia : Miskin!
Risiko geopolitik di Timur Tengah sudah merambat ke Indonesia. Eskalasi konflik Iran kontra Israel-AS memicu lonjakan harga minyak global yang memberatkan APBN Indonesia untuk subsidi BBM.
Dampak lain modal asing keluar. Sekaligus berimbas pada penurunan permintaan produk ekspor Indonesia ke negara lain.
Dan, dipastikan harga-harga komoditas tertentu naik. Sangat mungkin BBM disesuaikan karena rupiah melemah. Selanjutnya PHK massal. Setidaknya dirumahkan sementara.*
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.





