
Oleh: Ridhazia
LEBAR Selat Hormuz hanya sepanjang 54 km. Terletak diantara Teluk Persia dan Teluk Oman. Tapi posisinya strategis. Bahkan sudah menjadi urat nadi energi dunia.
Dalam catatan sejarah, selat Hormuz sudah digunakan sebagai jalur perdagangan sutra dan rempah sejak era peradaban kuno.
Memasuki peradaban moderen, Selat Hormuz menjadi perlintasan perdagangan minyak dunia untuk memenuhi seperlima atau 20% dari total konsumsi minyak dunia.
Sebagai besar dikirim ke Eropa dan Asia, termasuk ke Indonesia dari Arab Saudi, Iran, Irak, Uni Emirat Arab (UEA), dan Qatar.
Titik Ketegangan
Meski selat Hormuz ini tidak dimiliki secara eksklusif oleh Iran — tapi diatur oleh hukum maritim internasional — negara Islam Persia ini memiliki pengaruh besar dan mengendalikan selat ini.
Pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) mengendalikan operasi Selat Hormuz. Secara de facto negara para mullah memberikan kekuatan geopolitik yang menekan dunia.
Penutupan Selat Hormuz, seperti yang terjadi pasca serangan militer AS-Israel pada akhir Februari 2026, langsung menyebabkan lonjakan harga minyak mentah dan gas yang berpotensi meningkatkan inflasi global
Dengan kata lain, Iran bisa menggunakan Selat Hormuz sebagai “senjata” untuk melawan hegemoni ekonomi dan politik AS serta sekutunya di Barat dan Asia rentan terhadap tekanan Iran.*
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.




