IRGC Klaim 460 Personil AS Tewas dan Terluka, Trump Sesumbar: Lawan Iran 4 Minggu Selesai

BANDUNG, BANDUNGPOS.ID – Iran telah melancarkan serangan bom ke Israel dan pangkalan Udara Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah. Serangan Iran ini sebagai balasan atas serangan AS dan Israel pada Sabtu.
Laporan yang berhasil dirangkum, serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran yang dimulai pada Sabtu, 28 Februari 2026. Beberapa lokasi strategis di Iran dihujani bom lewat operasi Epic Fury. Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyerang pangkalan militer AS di Riyadh, Dubai, Abu Dhabi, Doha, Manama, Yerusalem, dan Tel Aviv.
Akibat perang terbuka ini, korban jiwa di kedua pihak terus bertambah. Di pihak Iran, 201 orang meninggal dan 747 luka-luka. Insiden paling mematikan terjadi di Minab, Iran tenggara, ketika serangan AS dan Israel mengenai sekolah dasar putri. Sebanyak 148 siswa di sekolah tersebut meninggal.
Di pihak Israel, serangan rudal Iran menewaskan 9 orang dan melukai 121 lainnya, termasuk akibat hantaman di Beit Shemesh dan Tel Aviv.
Korban juga dilaporkan di Uni Emirat Arab (3 meninggal, 58 luka), Kuwait (1 meninggal, 32 luka), serta luka-luka di Qatar, Oman, Irak, dan Bahrain. Tidak ada korban jiwa dilaporkan di Arab Saudi dan Yordania.
Di tengah situasi itu, IRGC mengklaim sedikitnya 560 personel militer AS tewas atau luka-luka akibat serangan Iran terhadap pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah. IRGC juga melaporkan empat serangan drone terhadap pangkalan angkatan laut Bahrain menyebabkan “kerusakan serius” pada pusat komando dan dukungan. Selain itu, Teheran menargetkan pangkalan Ali Al-Salem di Kuwait dan tiga objek pangkalan Mohammed Al-Ahmad.
Trump Kerahkan Kekuatan Penuh Gempur Iran

Sementara atas gempuran Iran, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengerahkan kekuatan penuh untuk menggempur Iran. Karena itu, ia sesumbar, perang melawan Iran tidak akan berlangsung lama, hanya sekitar empat minggu.
Hal itu disampaikan Trump dalam wawancara dengan Daily Mail. Trump menyebut, durasi empat minggu sebagai hitungan realistis, tak peduli seberapa kuat negara yang dihadapi AS.
“Prosesnya selalu sekitar empat minggu. Jadi, sekuat apa pun negara ini, akan memakan waktu empat minggu atau kurang,” kata Trump, dalam wawancara tersebut, dikutip Senin (2/3/2026).
Trump mengklaim, kekuatan Iran mulai tergerus setelah serangan gabungan AS dan Israel dalam operasi yang diberi nama Epic Fury itu. Akibat operasi itu, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei serta sejumlah tokoh militer penting lainnya gugur.
Trump menyebut, hasil serangan itu melampaui ekspektasi awal Washington. Ia mengklaim, 48 pemimpin militer Iran meninggal, sembilan kapal perang hancur, dan pusat-pusat komando strategis berhasil dilumpuhkan dalam waktu singkat.
“Saya pikir semuanya berjalan sesuai rencana, kecuali kita telah melenyapkan seluruh kepemimpinan mereka, jauh, jauh lebih banyak dari yang kita duga,” ucapnya.
Dari sisi Amerika, Trump mengakui, tiga prajurit meninggal akibat serangan balasan Teheran. Ia pun memberi penghormatan dengan menyebut tiga prajurit itu sebagai warga negara terbaik Amerika.
Melalui pernyataan video di platform Truth Social, ia juga mengancam Iran akan membalas kematian tiga prajurit AS itu. Trump memastikan, serangan demi serangan akan terus dilancarkan ke Iran.
“Amerika akan membalas kematian mereka dan memberikan pukulan paling menyakitkan kepada para teroris yang telah berperang. Tekad kami, begitu juga dengan Israel, tidak pernah sekuat ini,” tambahnya.
Sebelumnya, Trump sempat menyatakan kepemimpinan baru Iran ingin berbicara dengannya mengenai masa depan Teheran. Namun, pernyataan itu langsung dibantah Teheran.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani memastikan, negaranya tidak akan memulai kembali perundingan dengan Washington terkait nuklir. “Kami tidak akan bernegosiasi dengan AS,” tegasnya, seperti dilaporkan Al Jazeera.
Dalam unggahan di platform X, Larijani juga menanggapi pernyataan Trump. Ia menyebut, Trump telah menyeret kawasan ke dalam kekacauan. Kebijakan Trump telah membuat tentara AS dan keluarga mereka membayar harga mahal akibat kebohongan demi kebohongan yang terus diproduksi Washington.
“Kini ia khawatir akan jatuhnya lebih banyak tentara Amerika. Dengan delusinya sendiri, ia telah mengubah slogan ‘America First’ menjadi ‘Israel First’ dan mengorbankan pasukan Amerika demi ambisi kekuasaan Israel,” ujar Larijani.
Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran yang dimulai pada Sabtu, 28 Februari 2026. Beberapa lokasi strategis di Iran dihujani bom lewat operasi Epic Fury. Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyerang pangkalan militer AS di Riyadh, Dubai, Abu Dhabi, Doha, Manama, Yerusalem, dan Tel Aviv.
Akibat perang terbuka ini, korban jiwa di kedua pihak terus bertambah. Di pihak Iran, 201 orang meninggal dan 747 luka-luka. Insiden paling mematikan terjadi di Minab, Iran tenggara, ketika serangan AS dan Israel mengenai sekolah dasar putri. Sebanyak 148 siswa di sekolah tersebut meninggal.
Di pihak Israel, serangan rudal Iran menewaskan 9 orang dan melukai 121 lainnya, termasuk akibat hantaman di Beit Shemesh dan Tel Aviv.
Korban juga dilaporkan di Uni Emirat Arab (3 meninggal, 58 luka), Kuwait (1 meninggal, 32 luka), serta luka-luka di Qatar, Oman, Irak, dan Bahrain. Tidak ada korban jiwa dilaporkan di Arab Saudi dan Yordania.

Di tengah situasi itu, IRGC mengklaim sedikitnya 560 personel militer AS tewas atau luka-luka akibat serangan Iran terhadap pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah. IRGC juga melaporkan empat serangan drone terhadap pangkalan angkatan laut Bahrain menyebabkan “kerusakan serius” pada pusat komando dan dukungan. Selain itu, Teheran menargetkan pangkalan Ali Al-Salem di Kuwait dan tiga objek pangkalan Mohammed Al-Ahmad.
Di tengah situasi Timur Tengah yang kian membara, Dewan Keamanan PBB menggelar pertemuan darurat selama dua jam pada Sabtu (28/2/2026), yang berakhir sekitar pukul 23.00 waktu setempat. Sebanyak 15 negara anggota Dewan Keamanan, Sekretaris Jenderal PBB, serta duta besar menyampaikan pandangan masing-masing terkait kondisi mencekam di kawasan.
Sekjen PBB: Agresi Terang-terangan
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyebut, serangan AS dan Israel terhadap Iran sebagai tindakan agresi terang-terangan. “Kita sedang menyaksikan ancaman serius terhadap perdamaian dan keamanan internasional,” ucapnya.
Guterres menilai, serangan tersebut merupakan pelanggaran terhadap Piagam PBB. Namun, ia juga mengutuk aksi balasan yang dilakukan Iran. Ia memperingatkan bahwa situasi saat ini berpotensi menjadi eskalasi yang lepas kendali apabila tidak segera dihentikan. “Saya menyerukan de-eskalasi dan penghentian permusuhan segera,” katanya.
Menurut Guterres, tidak ada alternatif selain penyelesaian damai melalui dialog dan negosiasi. Ia mendesak seluruh pihak kembali ke meja perundingan, terutama terkait isu program nuklir Iran yang selama ini menjadi sumber ketegangan.
Selain itu, Guterres meminta semua negara mematuhi hukum internasional, melindungi warga sipil, dan menahan diri dari langkah-langkah yang dapat memperluas konflik. “Mari kita bertindak secara bertanggung jawab dan bersama-sama untuk menarik kawasan dan dunia kita menjauh dari jurang,” katanya.(Ads/berbagai sumber)





