AgamaDaerah

Kultum Ramadhan-1447H Bersama Baznas : Kenapa Kita Berat Bayar Zakat

Ashar Tamanggong

155views

Oleh: Ashar Tamanggong

Zakat itu cuma 2,5 persen. Bukan 25 persen. Bukan juga 52 persen. Hanya dua koma lima. Tapi anehnya, beratnya bisa sampai 25 ton di hati. Kalau diskon 2,5 persen, kita bilang, “Ah kecil sekali.”
Kalau kena potongan 2,5 persen untuk zakat, kita bilang, “Wah lumayan juga ya…”
Lucu ya?

PADAHAL--yang mewajibkan zakat itu bukan RT, bukan negara, bukan juga panitia masjid. Yang mewajibkan adalah Allah SWT. Dalam Al-Qur’an, perintah zakat sering sekali digandengkan dengan shalat. Coba buka Al-Qur’an, kita akan menemukan ayat seperti:
“Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat…”

Shalat dan zakat itu saudara kembar. Tapi anehnya, kita sering memisahkan keduanya. Shalat kita jaga, zakat kita tunda. Shalat tepat waktu, zakat tepat alasan.

Mengapa berat? Pertama, karena kita merasa harta itu hasil kerja keras kita sendiri.

Kita berkata, “Ini hasil keringat saya.”
Padahal keringat pun Allah yang beri. Nafas Allah yang terima kasih. Kesempatan Allah yang buka. Rezeki Allah yang mengatur.

Kita lupa bahwa dalam harta kita ada hak orang lain. Bukan sedekah. Bukan bonus. Tapi benar.
Zakat bukan memberi, tapi mengembalikan.

Kalau ada orang mengambil hak kita 2,5 persen saja, kita bisa marah tujuh turunan. Tapi ketika kita menahan hak orang lain 2,5 persen, hati kita tenang-tenang saja.
Berarti ada yang salah dengan rasa.

Kedua, karena kita takut miskin:

Padahal Allah telah menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa setan menakut-nakuti dengan kemiskinan, sementara Allah menjanjikan pengampunan dan karunia. Tapi kita lebih percaya pada bisikan setan daripada janji Tuhan.

Logika kita sering terbalik.
Belanja gadget baru: berani.
Tingkatkan mobil: yakin.
Zakat: mikir dulu.
Padahal mobil bisa turun harga. Gadget bisa usang. Tapi zakat? Itu investasi akhirat yang tidak pernah rugi.

Ketiga, karena cinta dunia terlalu lengket:

Harta itu seperti permen karet. Kalau hanya dipegang, tidak masalah. Tapi kalau ditempel di hati, susah dilepas.
Masalahnya bukan pada uangnya. Masalah pada hati yang terlalu sayang.

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan berkurang harta karena sedekah.” Hadits ini diriwayatkan oleh Sahih Muslim.
Tapi kita tetap merasa berkurang.
Kenapa? Karena kita menghitung dengan kalkulator dunia, bukan dengan kalkulator iman.

Padahal zakat itu bukan mengurangi, tapi membersihkan. Kata “zakat” sendiri artinya suci dan tumbuh. Jadi setiap kali kita mengeluarkan zakat, seharusnya kita sedang menyucikan harta dan menumbuhkan keberkahan.

Tapi sering kali kita memperlakukan zakat seperti denda.
Bayar karena takut.
Bayar karena malu.
Bayar karena ditagih.
Bukan karena cinta.
Bukan karena terima kasih.
Bukan karena sadar.

Keempat, karena kita jarang melihat dampaknya.

Kita tidak melihat langsung siapa yang terbantu. Kita tidak tahu wajah anak yatim yang tersenyum. Kita tidak mendengar doa ibu yang terbebas dari hutang. Maka hati kita tidak tersentuh.

Padahal kalau kita mau menyampaikan melalui lembaga resmi seperti Badan Amil Zakat Nasional, pengelolaannya profesional, programnya jelas, dan manfaatnya nyata. Tinggal kita mau atau tidak membuka hati.

Zakat bukan sekedar transfer angka. Ia adalah transfer empati.
Dan yang paling dalam, mungkin karena kita belum benar-benar sadar bahwa hidup ini sementara.
Orang yang sadar kematian biasanya lebih ringan memberi. Karena dia tahu, yang dibawa mati bukan saldo, tapi amal.

Coba bayangkan. Jika malam ini adalah malam terakhir kita. Apakah kita masih ingin menunda zakat? Atau justru kita akan berkata, “Andai saja dulu saya lebih ringan berbagi…”

Harta yang tidak dizakati itu seperti udara yang tidak mengalir. Lama-lama keruh. Bahkan bisa jadi musikbah.
Banyak orang hartanya banyak, tapi hidupnya nyaman. Mungkin bukan kurang uangnya. Mungkin kurang bersih hartanya.

Zakat itu bukan untuk membuat orang miskin menjadi kaya. Tapi untuk membuat orang kaya jadi selamat.
Karena harta yang tidak dibersihkan bisa menjadi beban di akhirat. Bayangkan ketika ditanya, “Dari mana yang diperoleh dan ke mana yang dibelanjakan?”

Saat itu, tidak ada lagi cicilan. Tidak ada lagi alasan. Tidak ada lagi tempo.
Semua Luna.
Maka sebenarnya yang berat itu bukan zakatnya. Yang berat itu ego kita. Yang berat itu rasa memiliki yang berlebihan. Yang berat itu hati yang belum sepenuhnya percaya pada janji Allah.

Coba sekali-kali kita ubah cara pandang. Jangan merasa kita sedang mengeluarkan uang. Rasakan bahwa kita sedang membeli ketenangan. Sedang membeli keberkahan. Sedang membeli keselamatan.

Dan percayalah, orang yang rutin menunaikan zakat biasanya lebih tenang menghadapi hidup. Karena dia tahu ada bagian hartanya yang sudah “diamankan” untuk akhirat.
Jadi kalau masih terasa berat, mungkin bukan karena 2,5 persennya terlalu besar. Tapi karena keyakinan kita yang masih terlalu kecil.

Semoga kita bukan termasuk orang yang rajin menghitung saldo, tapi lupa menghitung amal. Karena pada akhirnya, yang menyelamatkan kita bukanlah harta yang kita kumpulkan. Tapi harta yang kita keluarkan di jalan Allah.
Dan zakat…hanya 2,5 persen. Tapi dampaknya bisa 100 persen untuk keselamatan kita. Wallahu A’lam.**

Editor : Rianto Muradi

Leave a Response