Mendengar Lengking “Kokok Ayam Betina” dari Padang Panjang
Ahad, 22 Februari 2026, Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang mengundang saya sebagai moderator peluncuran dan bedah buku karya Khairul Jasmi tersebut.

PADANG PANJANG, – punya pahlawan nasional. Seorang perempuan. Pendiri sekolah muslimah pertama di Indonesia. Perempuan pertama pula yang menerima gelar kehormatan Syekhah dari Universitas Al-Azhar, Mesir. Rahmah El Yunusiyyah namanya.
Sungguh, sangat mengesankan.
Di zaman “baheula” itu, ketika adat dan agama masih kerap berada dalam tegangan tinggi di alam Minangkabau, di usia yang masih ranum, Rahmah sudah memancang tonggak sejarah. Tahun 1923, saat usianya baru 23 tahun, ia mendirikan Diniyyah Puteri.
Sebuah keputusan yang di masa itu terdengar mustahil, bahkan bagi sebagian orang, terdengar lancang.
Pada zaman itu, sekolah rakyat didominasi laki-laki. Pun sekolah-sekolah bentukan pemerintah kolonial Belanda, nyaris seluruhnya diurus guru laki-laki. Perempuan dianggap cukup di dapur, atau paling jauh, belajar agama di surau yang bercampur dengan kaum pria.
Namun, Rahmah adalah sosok yang “keras kepala” dalam prinsip.
Khairul Jasmi, melalui buku terbarunya, “Rahmah El Yunusiyyah, Perempuan yang Mendahului Zaman” (PT Elex Media Komputindo, 2026), menjuluki Rahmah sebagai “Ayam Betina yang Berkokok”. Istilah itu, akunya, mengutip kiasan yang diberikan mantan wartawan Kompas Marthias Dusky Pandoe (10 Mei 1930–9 Mei 2014 ). Dalam tatanan sosial yang patriarkal, lumrahnya ayam jago yang berkokok. Jika ada ayam betina yang melakukannya, ia dianggap menyalahi kodrat atau membawa bahaya aneh.
Tapi kokokan Rahmah berbeda. Ia melengking tinggi, memecah kesunyian intelektual kaumnya.
Langkah Rahmah bermula dari kegelisahan. Ia termotivasi oleh kakaknya, Zainudin Labay El Yunusy, yang merintis Sekolah Diniyyah pada tahun 1915. Meski di sana murid laki-laki dan perempuan sudah belajar dalam sistem klasikal, Rahmah merasa batasan dinding saja tidak cukup. Ia ingin perempuan memiliki kedaulatan penuh atas ruang belajarnya sendiri.
Keinginannya yang semula ditolak akhirnya direstui, dan itulah sekolah perempuan Muslimah pertama di Hindia Belanda.
Khairul Jasmi menuliskan betapa Rahmah sudah lama muak. Ia muak pada kekuasaan laki-laki atas perempuan yang berlebihan, muak pada penjajahan bangsa atas kaumnya, dan muak pada tindakan yang menekan harkat perempuan.
Baginya, perempuan tak boleh hanya menjadi pelengkap.
Rahmah memang setuju dengan pakem “Sumbang Duo Baleh” dalam adat Minangkabau yang mengatur kesantunan. Namun, ia menggugat satu hal: “Sumbang Karajo”.
Ia menolak pandangan bahwa perempuan hanya dapat melakukan hal-hal ringan saja. Baginya, tugas membangun bangsa adalah kerja besar, dan perempuan harus sanggup memanggulnya, seberat apa pun.
Ahad, 22 Februari 2026, Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang mengundang saya sebagai moderator peluncuran dan bedah buku karya Khairul Jasmi tersebut. Menelusuri bab demi bab dalam buku itu membuat saya kian takzim pada sosok “Etek Rahmah”—panggilan akrab Syekhah Hajjah Rangkayo Rahmah El Yunusiyah (1900–1969).
Buku ini bukan sekedar kronik sejarah yang kaku. Khairul Jasmi, yang memiliki latar belakang studi sejarah dan jurnalis, paham betul bahwa buku teks sejarah sering kali berdebu di rak perpustakaan karena penyampaian yang kering. Maka, ia memilih jalan “Jurnalistik Sastra”. Ia menulis novel biografi yang ringan namun bertenaga. Sejarah tidak lagi sekadar deretan angka tahun, melainkan narasi yang hidup.
Dalam buku tersebut, kami membawakan seluruh fragmen-fragmen drama kehidupan Rahmah. Mulai dari peristiwa “Gampo Rayo” (Gempa Besar) yang meluluhlantakkan Padang Panjang pada tahun 1926, hingga momen-momen pahit saat ia harus menjalani pernikahan yang singkat dan berakhir pada perceraian demi mengejar cita-cita pendidikan. Rahmah membuktikan bahwa “Sekolah Menyesal” bukanlah akhir dari segalanya, melainkan titik balik untuk bangkit.
Rahmah adalah sosok yang melilitkan sejarah di kepalanya. Ketika Indonesia memproklamirkan kemerdekaan, ia adalah salah satu tokoh yang paling gigih mengibarkan Sang Merah Putih di Bumi Serambi Makkah, Padang Panjang. Ia tidak gentar pada moncong senjata penjajah. Jiwanya adalah baja yang terbungkus kerudung kesantunan.
Salah satu puncak pencapaiannya adalah ketika Universitas Al-Azhar, Kairo, memberikan gelar Syekhah padanya. Sebuah pengakuan dunia Islam internasional bahwa pemikiran perempuan dari kota kecil di kaki Gunung Singgalang Padang Panjang ini setara dengan para ulama besar di Timur Tengah. Bahkan, pola pendidikan Diniyyah Puteri di kemudian hari menginspirasi Al-Azhar untuk membuka kelas khusus putri (Kulliyatul Banat).
Namun, dibalik kegarangannya melawan penjajah dan tradisi yang mengekang, Rahmah tetaplah seorang ibu bagi murid-muridnya. Pesannya yang legendaris, “Anak-anakku, jangan berpakaian tembus terang,” bukan sekadar pembicaraan soal etika berpakaian, melainkan simbol menjaga harga diri dan martabat. Ia ingin muridnya menjadi “cantik” bukan karena kemolekan tubuhnya, melainkan karena ketajaman pemikirannya dan kuatnya imannya.
Kini, Rahmah telah tiada, namun kokoknya masih menggema. Murid-muridnya telah menjadi tokoh-tokoh ternama yang tersebar di seluruh pelosok negeri dan mancanegara.
Melalui buku Khairul Jasmi, kita diingatkan kembali bahwa kemajuan suatu bangsa sangat bergantung pada bagaimana bangsa itu mendidik kaum perempuan.
Membaca kisah Rahmah El Yunusiyyah hari ini adalah upaya membangkitkan kembali api semangat yang mungkin mulai redup. Kita membutuhkan lebih banyak “ayam betina yang berkokok”, yaitu perempuan-perempuan yang berani bersuara, berani mendobrak kapasitas, dan berani mendahului zamannya demi kemaslahatan umat.
Padang Panjang telah melahirkan satu Rahmah, dan sejarah menanti lahirnya Rahmah-Rahmah yang baru. Yang kokokannya terus melengking, sampai jauh, sejauh-jauhnya. ** Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, pendiri Sekolah Menulis elipsis/rm





