
SETIAP tanggal 13 Februari, dunia memperingati Hari Radio Sedunia (World Radio Day). Hari Radio ini Sejak ditetapkan oleh UNESCO tahun 2011. Hari Radio Sedunia bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya radio sebagai sarana edukasi, penyebaran informasi, dan platform untuk kebebasan berekspresi. Di tengah gempuran media sosial dan platform streaming modern, radio membuktikan dirinya tetap menjadi sumber informasi yang dipercaya oleh masyarakat.
Berdasarkan sumber dan literatur yang dihimpun Bandung Pos.id, radio memiliki keunggulan unik yang tidak dimiliki media lain. Kelebohan tersebut di antaranya berkaitan dengan kemampuan untuk beroperasi tanpa infrastruktur internet yang canggih. Oleh karena itu, sebagai alat komunikasi krusial dalam situasi darurat, bencana alam, maupun konflik wilayah. Radio melampaui batas geografis dan ekonomi. Ia mampu menyentuh komunitas yang paling terisolasi sekalipun
Di Indonesia, industri radio terus berinovasi untuk tetap relevan bagi generasi muda. Banyak stasiun radio kini tidak hanya mengudara melalui frekuensi analog (FM/AM), tetapi juga melalui live streaming, podcast, dan interaksi langsung di media sosial. Wajah radio mungkin berubah menjadi digital, namun esensinya tetap sama: keintiman antara penyiar dan pendengar serta kecepatan dalam menyampaikan fakta.
Pemilihan tanggal 13 Februari bukan tanpa alasan. Tanggal tersebut menandai hari berdirinya United Nations Radio (Radio PBB) pada tahun 1946. Sejak saat itu, radio terus berevolusi dari perangkat tabung yang besar hingga menjadi aplikasi di dalam genggaman ponsel pintar.
Peran radio diharapkan dapat mendorong pemerintah dan pemangku kepentingan untuk terus mendukung ekosistem penyiaran yang sehat, independen, dan inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat. (cbk)***





