DaerahSeni Budaya

Maestro Ery Mefri dan Ikhtiar Menghidupkan Kembali Marwah Kritik Seni

Sang maestro telah kembali pada Rabu, 11 Februari 2026 siang. Meski kondisi kesehatannya sempat menurun akibat komplikasi diabetes dan gagal ginjal, rasa sakitnya terasa begitu cepat.

194views

 

TEPAT setahun yang lalu, sebuah panggilan telepon menghubungkan saya dengan sosok sang maestro. Suara di ujung telepon itu adalah Ery Mefri.

Ia meminta kesediaan saya menjadi moderator dalam Workshop Penulisan Apresiasi Seni Pertunjukan, bagian dari rangkaian Kaba Festival X 2025 yang digelar Nan Jombang Dance Company di Padang.

Nama Ery Mefri tentu bukan nama asing. Ia adalah koreografer dan maestro tari Indonesia asal Sumatera Barat yang karya-karyanya dihilangkan kuat pada “napas tua” Kebudayaan Minangkabau.

Bagi saya, permintaan itu adalah sebuah kehormatan besar. Meski saya tidak selalu bersentuhan langsung dengan dunia tari, undangan itu menjadi kesempatan berharga untuk meneguk ilmu dari para tokoh hebat, termasuk dari “Uda Ery”—demikian saya akrab menyapanya.

Ingatan saya terlempar ke tahun 2005. Saat masih aktif sebagai wartawan di harian tertua di Padang, saya pernah meliput pertunjukan Uda Ery bersama istrinya, Angga Mefri, di Gedung Taman Budaya Sumatra Barat. Gedung yang dulu menjadi saksi bisu berbagai peristiwa estetika itu kini telah rata dengan tanah, dengan cadangan rencana yang belum datang setelah hingga hari ini. Namun, semangat yang ditiupkan Uda Ery dalam setiap karyanya tetap abadi dalam ingatan.

Komunikasi kami berlanjut melalui Uni Angga yang mengirimkan detail acara. Dalam lokakarya yang didukung oleh Kementerian Kebudayaan RI, Dana Indonesiana, dan LPDP tersebut, saya memandu diskusi dengan narasumber Khairul Jasmi (Pemimpin Redaksi Harian Singgalang) dan Frans Sartono (Kurator Bentara Budaya dan mantan wartawan harian Kompas).

Di tengah acara, Uda Ery Mefri hadir didampingi istri dan putranya, Rio, yang juga seorang seniman tari. Meski kondisi kesehatannya menurun, saya melihat bara api semangat yang tak padam di mataku.

Dengan suara berat dan bola mata berkaca-kaca, ia menyampaikan impian besarnya yang menginginkan lahirnya kritik-kritikus seni baru di era kekinian. Ia merindukan masa-masa tahun 1980-an dan 1990-an, ketika pers tidak hanya melaporkan berita pertunjukan sebagai peristiwa seremonial, tetapi mengulasnya secara mendalam melalui kritik yang bernas.

Sejak era keemasan media cetak meredup, apresiasi dan kritik seni memang nyaris punah. Panggung pertunjukan tetap ramai, namun sepi dari diskusi dan polemik intelektual yang menyehatkan ekosistem seni.

Ery Mefri bahkan dengan rendah hati mengaku rindu masa-masa ketika ia “dihajar” oleh media massa lewat tulisan yang menguliti pertunjukannya.

Baginya, kritik bukanlah musuh, melainkan energi untuk mendewasakan karya.

Ia tidak ingin menjadi pohon besar yang berdiri sendiri; ia memikirkan generasi generasi dan berharap lahir koreografer yang jauh lebih matang darinya.

Urgensi workshop yang ia gagas tersebut sebenarnya adalah upaya menjembatani panggung dan kata-kata. Tulisan penghargaan adalah bentuk penghormatan sekaligus arsip budaya yang mengabadikan peristiwa artistik yang bersifat fana.

Tanpa tulisan, sebuah pertunjukan hanya akan menjadi tontonan yang selesai begitu lampu panggung padam.

Melalui kritik yang sehat, tegas Ery Mefri, masyarakat belajar membaca realitas budaya secara lebih reflektif, bukan sekadar melihat kulit luar.

Namun, di tengah semangat yang meluap-luap untuk memelihara ekosistem literasi seni itu, kabar duka menyentak kita semua. Sang maestro telah kembali pada Rabu, 11 Februari 2026 siang. Meski kondisi kesehatannya sempat menurun akibat komplikasi diabetes dan gagal ginjal, rasa sakitnya terasa begitu cepat. Kepada media, sang istri, Angga Mefri, menuturkan bahwa malam sebelumnya kondisi Uda Ery tampak stabil, namun takdir berkata lain pada sesi cuci darahnya yang ke-15.

Ery Mefri, yang lahir pada tanggal 23 Juni 1958, meninggalkan warisan yang luar biasa. Sejak berdirinya Nan Jombang Dance Company pada 1 November 1983, ia telah membawa napas Minangkabau ke panggung-panggung dunia, mulai dari Singapura, Tokyo, Berlin, hingga London. Ciri khasnya yang ikonik adalah gerakan tubuh yang menciptakan musik sendiri melalui tepukan dan tabuhan kain galembong tanpa iringan instrumen luar. Gerak itu adalah sebuah pencapaian estetika yang diakui secara global.

Beberapa waktu sebelum kepergiannya, saya sempat mengunjungi Museum Tari Ery Mefri bersama sahabat saya Dr. Indra Utama, S.Kar., M.Hum. Di sana, terekam perjalanan panjang seorang anak manusia yang mengenali tradisi sejak usia tiga tahun dari ayahnya, Manti Menuik. Museum itu menyimpan sejarah, properti, dan filosofi dari karya-karya besar seperti Nan Jombang, Alua jo Patuik, Saraso, hingga Negeri Tak Berbaju.

Kini, sang maestro telah tiada di usia 67 tahun. Namun, pesan yang ia titipkan dalam pertemuan terakhir kami di workshop itu tetap menggema bahwa seni pertunjukan membutuhkan penonton yang peka, dan kebudayaan membutuhkan penulis yang berani berpikir.

Kepergian Ery Mefri bukan sekadar hilangnya seorang koreografer hebat, melainkan sebuah pengingat bagi kita semua untuk terus merawat api kreativitas yang telah ia nyalakan.

Tugas kita sekarang adalah memastikan bahwa panggung yang ia bangun tidak sepi dari kata-kata, dan tradisi yang ia muliakan tetap hidup dalam tulisan-tulisan yang jujur ​​dan tajam.

Selamat jalan, Maestro. Innalillahi wa inna ilaihi raajuun…. Karya dan semangatmu akan terus menari dalam ingatan kami. Al-Fatihah.**(Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, pendiri Sekolah Menulis elipsis)

Leave a Response