
Bandung, bandungpos.id – Program pengabdian masyarakat dapat mengasah kemampuan mahasiswa untuk membantu menuntaskan sejumlah masalah yang dihadapi warga. Program ini merupakan salah satu dari tiga kewajiban dasar perguruan tinggi selain pendidikan dan penelitian
“Mahasiswa bukan hanya pelajar, tapi pelayan nilai dan penjaga nurani sosial. Di kampus mencetak ilmu dalam ruang akademik untuk membangun fondasi pengetahuan dan saat pengabdian kepada masyarakat ini yang akan menjadi kontribusi untuk membenahi persoalan di lingkungan sosial,” ujar Anggota Komisi IV DPRD Kota Bandung Dr. dr. Agung Firmansyah Sumantri, Sp.Pd., KHOM., MMRS., FINASIM., saat menjadi narasumber acara Upgrading Pengabdian Mahasiswa BEM KM Universitas Pasundan bertajuk “Grow to Make an Impact: Bergerak Bersama untuk Perubahan”, di Pendopo Kota Bandung, Sabtu, 24 Januari 2026.
dr. Agung menjelaskan, program pengabdian kepada masyarakat akan berdampak bila dalam tahapannya diterapkan nilai-nilai yang tepat. Pengabdian masyarakat kerap tak berjalan baik setelah program tersebut usai.
Dalam presentasinya “Pengabdian Masyarakat: Dari Program Menjadi Dampak” pada acara tersebut, dr. Agung memaparkan sejumlah kesalahan umum yang sering dikaitkan dengan pengabdian masyarakat.
Pengabdian masyarakat sering dirasa sebagai seremonia belaka. Selepas itu hubungan antara pelajar dengan masyarakat terputus. “Banyak dokumentasi tapi minim perubahan. Kegiatan jalan tapi masalah ada. Proyek selesai, hubungan putus. Tidak ada tindak lanjut setelah program berakhir. Seharusnya tidak seperti itu. Mahasiswa harus datang dengan solusi dari hasil memahami kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, pengabdian kepada masyarakat adalah kehadiran yang bermakna. Bukan sekadar simpati, tetapi harus menjadi rencana aksi yang diselenggarakan dengan baik. “Mahasiswa harus datang, lalu merancang solusi yang relevan. Tanggung jawab sosial yang konsisten. Jadi prinsip dasarnya datang ke tengah masyarakat untuk belajar, bukan untuk menggurui,” tuturnya.
Ia pun membagikan rumusan pengabdian masyarakat yang memberi dampak. Di antaranya, masalah nyata yang dihadapi warga harus diselesaikan dengan solusi yang relevan. Rancang pendekatan sesuai konteks lokal, kolaborasi, libatkan warga sebagai subjek aktif, serta membangun sistem yang mandiri sehingga hasil program bisa dijalankan secara tuntas.
Calon Pemimpin
Dr. Agung menambahkan, peran mahasiswa di masyarakat bisa berwujud sebagai agen perubahan, kontrol sosial, serta gencatan senjata pemimpin. Agen perubahan itu bergerak mengubah dengan cara yang adab. Bukan berarti paling lantang, tetapi menginisiasi solusi, menggerakkan partisipasi, memperkuat kapasitas masyarakat, hingga membuat perubahan realistis
“Contoh, membuat sistem antrean layanan warga untuk meningkatkan efisiensi pelayanan publik, membentuk keluarga rentan sehingga dapat memastikan bantuan tepat sasaran dan tertata dengan baik, atau membuat kelas literasi kesehatan atau keuangan,” katanya.
Dalam fungsi kontrol sosial, mahasiswa yang menjalankan program pemberdayaan masyarakat diharapkan menyampaikan kritik berbasis data dan adab, advokasi berbasis kebutuhan, atau mengawal layanan publik. Program ini juga akan ikut membentuk mahasiswa sebagai calon pemimpin di masa mendatang.
“Membentuk pemimpin memerlukan nilai kedisiplinan, kekuatan mental, berpikir kritis, dan menepati janji. Jangan merusak kepercayaan masyarakat. Hormati budaya lokal, pahami adat istadat dan tata krama setempat. Libatkan tokoh masyarakat dalam setiap tahapan, jaga komunikasi, dan jaga dokumentasi beretika,” ujarnya.
Indikator keberhasilan program pengabdian masyarakat yang dampaknya akan terlihat melalui perubahan perilaku warga, terbentuknya sistem baru untuk menggerakkan potensi lokal, dan menurunnya masalah yang terukur.
“Dampaknya tidak selalu viral, tapi harus terasa. Pengabdian yang baik menciptakan warga yang mampu melanjutkan program-program yang dijalankan. Jadikan pengabdian ini bukan sebagai program tetapi menjadi karakter. Kita bergerak bukan untuk terlihat tetapi untuk berdampak. Bukan untuk sekadar dokumentasi tetapi untuk bertransformasi,” tutur dr. Agung.
Acara ini juga diisi narasumber Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bandung Gin Gin Ginanjar dan Ketua Tim Kerja SDM Kesehatan Asep Kamal Sahroni, serta dihadiri Wakil Rektor I Universitas Pasundan Prof. Cartono. *(Editor)





