Kolom Sosial Politik

Menu Gratis Kebencian

246views

 

Oleh: Ridhazia

PENYEBARAN  kebencian dan permusuhan telah menjadi “menu” harian di Indonesia ini. Muncul begitu bebas di ruang publik. Tak lagi dianggap tabu dan bersembunyi di sudut-sudut gelap.

Menyebarkan perlakuan dan perkataan yang menghinakan, berprasangka buruk menjadi hal biasa. Tidak ada perasaan risi lagi. Apalagi perasaan bersalah dan berdosa membuka aib.

Sebagai Kejahatan

Di negeri beragama ini, media sosial seakan menjadi ruang kosong yang bebas diisi apa saja untuk menyemai konflik.

Lupa kalau tindakan kebencian yang disebarluaskan secara terbuka dalam hukum agama sebagai ghibah atau fitnah yakni mengguncing tanpa fakta, sebagai kejahatan kemanusiaan.

Apa itu kebencian?

Kebencian dalam perspektif psikologi tidak ada penyebab tunggal. Tapi lazim sebagai reaksi emosional yang berlebihan. Melampaui batas kenormalan sebagai manusia yang rasional.

Beragam emosi kompleks yang terakumulasi yang meliputi kemarahan, kekecewaan, kepahitan, dan perasaan frustasi hingga dendam atas ketidakadilan sistemik dalam politik.

Kebencian juga bermula dari asumsi, citra, dan keyakinan negatif terhadap seseorang atau suatu kelompok tertentu . Asumsi negatif ini disebut stereotip.*

* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response