Metro Bandung

Sampah Menggunung di Pasar Induk Caringin Berita Hoax

Pasar caringin lenglang dari sampah

376views

BANDUNG, BANDUNGPOS – Sampah menjadi permasalahan yang pelik terlebih di lingkungan pasar, seperti Pasar Caringin Kota Bandung. Akhir akhir ini sampah Pasar Caringin diisukan kondisinya sudah menggunung bahkan viral di media sosial sehingga mengundang reaksi keras.

Terlebih Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan pihaknya tidak akan menangani lagi masalah sampah di Pasar Induk Caringin, Kota Bandung, menyusul beredarnya video di media sosial atas keluhan terkait tumpukan sampah di pasar tersebut.

Disebutkan bahwa pihak Pemprov sudah memberikan arahan sejak awal dan mengambil langkah serta tindakan dengan membersihkan tumpukan sampah tersebut.

“Saya tak akan lagi menangani pasar tersebut karena saya sudah memberikan arahan sejak awal. Saya juga sudah mengambil tindakan dan selanjutnya harus diurus sendiri karena pemerintah tidak memiliki relevansi terhadap pengelolaan Pasar Caringin,” kata Dedi Mulyadi.

Menanggapi pemberitaan sampah Pasar Induk Caringin yang menggunung di media sosial, Kepala Pengelola Syarif Hidayat menepis kondisi tersebut. Menurutnya pemberitaan itu perlu disikapi dan klarifikasi terkait pernyataan Gubernur dan pemberitaan tersebut.

“Sebenarnya fakta tidak seperti itu. Kami telah berupaya menangani sampah pasca pak Gubernur membantu kami dalam penyelesaian sampah yang menumpuk saat itu,” kata Syarif Hidayat.

Dan setelah itu pihaknya telah melakukan berbagai upaya, yakni mengadakan teknologi permentasi dan komposting dengan memanfaatkan lahan milik Pemprov. Namun dalam perjalanan trayel, tambah Syarif Hidayat yang akrab disapa Asep, mendapat penolakan dari masyarakat sekitar karena ada sejumlah masalah dari dampak proses penteknologian tersebut.

“Kemudian kita evaluasi dan menyimpulkan bahwa teknologi itu kurang tepat untuk mengolah sampah organik di Pasar Caringin ini. Dan dalam kurun waktu dalam melakukan evaluasi, kami berupaya bagaimana sampah yang tidak bisa terbuang ke Sarimukti untuk diolah menggunakan teknologi lebih canggih lagi agar tak berdampak ke masyarakat, ” ucapnya.

Diakui, pihaknya hanya memiliki jatah pembuangan tiga ritase dari sembilan ritase yang biasa dilakukannya. Sementara produksi sampah pasar Caringin setiap hari mencapai 40 ton. Dan setelah penerapan teknologi tersebut diperlukan waktu dalam proses selama tiga bulan.

“Kita menunggu waktu yang tepat dan insyaalah akhir September kita sudah mulai trayel. Sedangkan nama teknologinya adalah biotekh. Hasilnya diperuntukan bagi pakan ternak, ikan hingga ada pemanfaatan biogasnya di situ,” ucap Asep.

Disebutkan, dari produksi sampah Caringin setiap hari 40 ton diharapkan bisa zerowaish, dibuang ke Sarimukti dan ini perlu waktu dalam proses tersebut. Bahkan pihaknya telah melakukan pengajuan ke DLH Provinsi, yang ke semuanya itu diperlukan waktu dan proses yang panjang.

“Dalam perjalanan itu saya sudah mengajukan surat untuk menambah ritase sambil menunggu ini berjalan. Hanya saja hingga saat ini belum ada jawaban yang pasti. Harapan kami ditambah 2 ritase agar volume sampah Caringin tidak menggunung,” paparnya.

Ditegaskan, saat ini bisa dilihat apa yang terjadi di lapangan ketika diviralkan melalui media sosial. Pihaknya pun tidak mengetahui dari mana sumber pemberitaan itu sehingga memberikan informasi tak benar atau hoax, yang pada kenyataannya tidak seperti itu.

“Bapak juga bisa menyaksikan langsung di lapangan. Dari produksi sampah 40 ton tiap hari, kami kelola dengan baik. Dan tidak ada keresahan dari masyarakat,” tandasnya.

Pihaknya berharap dalam pelaksanaan program ini akan menjadi rool model, pilot project dalam penanganan sampah bukan hanya tingkat Kota Bandung tapi se-Jawa Barat. Dan sudah menggandeng atau bermitra dengan PT SBT.

“Lahannya sudah ada, kita bekerjasama dengan Pemprov dengan sistem sewa, yang luas lahannya di 3 ribu meter persegi. Kemarin kami sudah melakukan sosialisasi dengan masyarakat sekitar yang pernah melakkan penolakan. Kita musyawarah, melakukan pendekatan hingga menyatakan mendukung,” tandasnya.

Disadarinya bahwa TPA Sarimukti sudah tidak memiliki harapan lagi untuk melakukan pembuangan atau pendamping karena sudah ada kebijakan, yang kami anggap sulit sehingga harus mandiri dalam melakukan penyelesaian sampah pasar Caringin ini.

“Sekali lagi kami tandaskan apa yang telah diekspos di media tersebut tak sesuai fakta di lapangan. Padahal fakta yang terjadi aman. Ya kalau ada sisa sisa di TPS, wajarlah. Logikanya kan tadi hanya memiliki jatah pembuangan 3 rite dan sebagian yang 20 ton kita pres, lalu dibuang ke penerima yang sudah siap menampungnya,” tegasnya.*(Adem/BNN)

Leave a Response