TOKOH

Yurnaldi dan Etos Wartawan yang Tak Pernah Kenal Kata “Pensiun”

Yurnaldi dan Etos Wartawan yang Tak Pernah Kenal Kata “Pensiun”

303views

Oleh Muhammad Subhan

KOMUNITAS Seni Kuflet Padang Panjang, Senin, 26 Januari 2026 sore, dikunjungi mantan wartawan Kompas, Yurnaldi, dan istri. Wartawan yang juga sastrawan ini menyinggahi Padang Panjang dua hari sebelumnya, Sabtu, 24 Januari 2026, memenuhi undangan peresmian dan aktivasi Ruang Publik Rumah Puisi Taufiq Ismail & Museum Sastra Indonesia di Aia Angek, Tanah Datar.

Di Rumah Puisi, saya menyambut Da Nal—demikian saya akrab menyapanya—bersama Yuk Lina, istri Da Nal, dan menanyakan kabar sekaligus menggunakan transportasi apa ke Aia Angek. “Naik sepeda motor, berdua saja,” jawab Da Nal. Saya agak kaget. Di usia yang tak lagi muda, Da Nal dan Yuk Lina “masih sanggup” bersepeda motor, meski mereka mempunyai mobil.

Da Nal bersepeda motor tentu beralasan, terutama menghindari kemacetan khususnya di kawasan Lembah Anai yang masih memberlakukan sistem buka-tutup. Pagi-pagi sekali, demi menghindari penutupan jalan di Lembah Anai, Da Nal dan Yuk Lina sudah tiba di Rumah Puisi, kemudian mengikuti acara yang dihadiri Menteri Kebudayaan RI hingga selesai.

Saya mengira, sehabis acara keduanya langsung balik ke Padang. Rupanya ada agenda lain seiring sejalan. Di sekretariat Kuflet barulah saya mendapat cerita bahwa dengan bersepeda motor itu, perjalanan mereka sudah panjang. Dari Padang ke Rumah Puisi, terus ke Bukittinggi, ke Batusangkar, Solok, hingga ke Sawahlunto, dan kembali ke Padang Panjang, mampir di Kuflet.

Di Kuflet, kami ngopi dan bernostalgia tentang masa-masa masih aktif sebagai wartawan. Pendiri Kuflet yang menyambut Da Nal dan Yuk Lina di Kuflet adalah Sulaiman Juned, yang sejak era tahun 1980-an merupakan mantan wartawan kampus Unsyiah dan wartawan sejumlah surat kabar di Aceh dan Jakarta. Da Nal sendiri mantan wartawan kampus Ganto UNP dan akhirnya puluhan tahun mengabdikan diri sebagai wartawan Kompas hingga pensiun. Namun begitu, ia terus menulis di banyak media, baik di sejumlah media online yang ia kelola maupun di media sosialnya.

Saya, sejak awal tahun 2000, adalah wartawan di sejumlah koran harian dan mingguan di Kota Padang. Kepada Kanda Sulaiman Juned maupun Da Nal, saya banyak berguru, baik secara langsung maupun dengan membaca tulisan-tulisan keduanya di media massa.

Saya juga mendapat banyak cerita tentang suka duka Yurnaldi menjadi wartawan Kompas yang ditugaskan semasa konflik di Aceh. Suatu hari, kelak, pengalaman meliput di lapangan itu akan ia bukukan dalam buku tersendiri, di samping saat ini ia telah menulis dan menerbitkan sejumlah buku jurnalistik praktis yang cocok dibaca oleh pelajar, mahasiswa, maupun calon wartawan yang tertarik menggeluti dunia pers.

Kami berbincang-bincang di Kuflet hingga senja. Di Kuflet ada Kak Titin, istri Kanda Sulaiman Juned, yang menyeduhkan kopi dan menyiapkan beberapa camilan sehingga sore itu percakapan kami terasa hangat.

Beberapa tahun lalu, saya sempat bermalam di rumah Da Nal. Secara kebetulan, saya dan Da Nal mendapat amanah sebagai anggota Dewan Perpustakaan Provinsi Sumatra Barat Masa Bakti 2014—2017. Besoknya, kami bersama anggota lainnya dilantik Gubernur Sumatra Barat di gedung baru Perpustakaan Daerah, di Jalan Diponegoro, Padang. Baru, karena pada 2009 gedung perpustakaan ini rubuh akibat gempa bumi, kemudian dibangun kembali. Kami pergi bersama ke sana, diantar Yuk Lina dengan mobil.

Malam itu, di rumah Da Nal, kami berdiskusi seputar jurnalistik, sastra, dan buku. Da Nal banyak berbagi pengalaman kepada saya, terutama pengalamannya ketika masih bekerja sebagai wartawan dan redaktur Kompas. Sekitar tahun 2003—2004, di saat saya masih bekerja di sebuah koran harian di Padang, kami sering berjumpa di lapangan dalam tugas-tugas meliput berita. Setelah itu, Da Nal ditarik ke Jakarta, dan komunikasi di antara kami sempat terputus.

Namun, suatu hari, Da Nal pulang kampung dan mengabdikan dirinya di Sumatra Barat. Ia memutuskan membangun kampung lewat gerakan literasi yang dibangunnya sendiri melalui buku-buku yang ditulisnya. Pengalamannya bekerja di harian Kompas melahirkan buku “Jurnalisme Kompas” yang menjadi panduan di kelas-kelas jurnalistik, terutama di perguruan tinggi.

Satu hal yang menarik dari sosok Yurnaldi adalah sikap tidak diamnya terhadap keadaan. Dia wartawan yang kritis.

Di jejaring sosial Facebook, suatu hari, saya melihat banyak unggahan tulisan dan foto beberapa temannya sesama penulis dan wartawan yang sedang makan pempek khas Palembang. Tampak nikmat sekali. Yuk Lina yang asal Palembang mahir membuat pempek. Keterampilan itu menjadi peluang bisnis yang ternyata memiliki prospek cerah dan mendapat sambutan luas berbagai pihak.

Malam itu di rumah Da Nal, saya ikut menikmati hidangan pempek buatan Yuk Lina. Betul-betul nikmat rasanya. Seingat saya saat itu, baru dua kali saya makan pempek; pertama di saat tugas jurnalistik di Palembang sekitar tahun 2005, dan kedua di rumah Yurnaldi. Paginya, saya melihat langsung bagaimana Yuk Lina mengolah bahan pempek itu. Sempat saya tanya, mengapa tidak dibisniskan saja secara massal? Namun, Yuk Lina menjawab dengan nada merendah, “Hanya sekadar menyalurkan hobi memasak dan untuk menyambut kawan-kawan yang datang ke rumah.”

Satu-dua ada kawan yang memesan, katanya, lalu dicoba dibuat dan dipaketkan ke alamat tujuan.

Di hari yang lain, saya membaca berita di koran, “Pengantar Pempek Itu Dipercaya Jadi Komisioner Komisi Informasi”. Benar, Yurnaldi yang mendaulat dirinya sebagai “pengantar” pempek itu dipercaya menjadi anggota KI pada tahun 2014—2019 setelah mengikuti uji kelayakan dan kepatutan di DPRD Sumatra Barat. Ia mendapat amanah mendorong pemerintahan yang bersih, mengoptimalkan pengawasan publik, mengembangkan masyarakat informasi, dan memperjuangkan keterbukaan informasi publik.

Jabatan baru itu mengantarnya menjadi salah seorang yang memiliki posisi penting di Sumatra Barat. Tak lama setelah itu, beliau menjadi anggota Dewan Perpustakaan Daerah Sumatra Barat bersamaan dengan saya untuk periode 2014—2017. Namun, kesibukannya tetap tidak melepaskan kebiasaan menulis dan mempromosikan Pempek ‘Lamak Bana’ buatan Yuk Lina, istri tercinta.

Seusai berdiskusi tentang banyak hal di rumahnya, malam itu saya diantar ke kamar. Kamar itu berada di lantai dua. Yang membuat saya takjub, di setiap anak tangga menuju lantai atas itu penuh dengan jejeran buku yang disusun rapi. Setiap melangkah, terlihat buku dengan judul-judulnya yang menggoda mata untuk dibaca.

Da Nal mengatakan, di rumahnya banyak buku yang menumpuk dan kekurangan tempat. Dengan sedikit kreativitas, tumpukan buku itu terurai dengan memanfaatkan ruang-ruang kosong, di antaranya anak tangga. Ya, sungguh kreatif sekali.

Bergelut dengan buku tentu sudah lama dilakoni alumni Universitas Negeri Padang (UNP) ini. Bukan saja membaca dan mengoleksi buku, tetapi baginya karier tertinggi seorang wartawan adalah kemampuan menulis buku. Ia sering mengutip pesan bijak pendiri harian Kompas, Jakob Oetama, “Buku adalah mahkota wartawan”. Artinya, kehebatan seorang wartawan tidak hanya sekadar bisa menulis berita, menulis feature, atau menulis kolom, tajuk rencana, dan artikel di media massa, tetapi juga mampu menulis buku.

Memang, sebelum bergabung dengan harian Kompas, Yurnaldi telah banyak menulis buku. Hebatnya, dua buku tentang jurnalistik ia tulis ketika ia masih aktif sebagai mahasiswa di UNP, yang kemudian menjadi modal utama baginya untuk melamar dan bergabung di Kompas, sebuah koran terkemuka Indonesia. Kompas, akunya, memang telah menjadi target ketika ia masih mahasiswa. Banyak dosen hingga rektor di masa itu menilai dirinya sangat layak bekerja di Kompas.

Setelah benar-benar bekerja di Kompas, ia tidak pernah melupakan kampung halaman. Banyak tulisan dan berita Ranah Minang diangkatnya menjadi isu nasional, yang tentu saja berdampak baik bagi kemajuan daerah sebab menjadi perhatian pusat.

Soal buku juga, Da Nal adalah mahasiswa pertama di Sumatra Barat yang menulis dua buku ketika masih berstatus mahasiswa. Buku yang ditulisnya ketika itu adalah “Kiat Praktis Jurnalistik” dan “Jurnalistik Siap Pakai”. Buku tersebut hingga kini mengalami cetak ulang dan menjadi referensi mahasiswa komunikasi.

Begitupun, sejak mahasiswa tahun 1986, di samping menulis artikel di banyak media massa, ia juga menulis karya jurnalistik. Dunia kewartawanan ditekuninya sejak lebih 30 tahun lalu, di mana 19 tahun di antaranya bergabung di harian Kompas. Dia juga salah seorang pendiri dan pencipta logo Forum Wartawan Peduli Aset Daerah Sumatra Barat, Padang Press Club (PPC), dan Forum Wartawan Peduli Pariwisata Sumatra.

Sebagai wartawan profesional, Yurnaldi telah melatih ribuan calon wartawan, staf/kepala kehumasan, serta siswa dan mahasiswa peminat bidang jurnalistik.

Buku-buku jurnalistiknya laris dan menjadi referensi, antara lain “Kiat Praktis Jurnalistik” (1992, 2007), “Jurnalistik Siap Pakai” (1992, 2007), “Menjadi Wartawan Hebat” (2004, 2008), “Menjadi Kaya dengan Foto” (2001, 2009), juga belasan buku lain, baik yang ditulis sendiri maupun terhimpun dalam berbagai buku yang ditulis bersama wartawan Kompas dan media cetak lain.

Beberapa kali karyanya memenangkan lomba karya jurnalistik dan juara mengarang tingkat nasional. Karya jurnalistiknya tentang PLN pernah mendapat penghargaan dari Menteri Pertambangan dan Energi. Pada 3 Maret 2009, karya jurnalistiknya tentang gizi/kesehatan yang dimuat di Kompas.com memperoleh penghargaan terbaik dari PT Nestle Indonesia.

Selama di Kompas, Yurnaldi pernah bertugas di Bandar Lampung (Lampung), Palembang (Sumatra Selatan), dan Padang (Sumatra Barat). Selain itu, ia mendapat kesempatan bertugas di sejumlah kota di Indonesia dan luar negeri, seperti Namibia, Afrika Selatan, Botswana, Inggris, Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Bersama sastrawan Hamsad Rangkuti, ia diundang mengikuti Pertemuan Penulis Dunia dan London Book Fair 2004.

Di luar profesi wartawan, Yurnaldi juga dikenal sebagai sastrawan dan penyair Indonesia. Antologi puisi tunggalnya yang telah terbit berjudul “Berita Kepada Ibu” (1992). Puisinya pernah masuk nominasi terbaik lomba cipta puisi tingkat Sumatra Barat tahun 1994, dan pemenang lomba cipta puisi sosial tingkat nasional di Banda Aceh tahun 1996.

Puisi-puisinya selain dimuat di berbagai media massa nasional, juga terhimpun dalam antologi bersama penyair Indonesia lainnya, yakni “Rantak 8: Antologi Puisi Penyair dari Sumatra Barat” (1991), “Taraju ‘93: Kumpulan Puisi Indonesia Sumatra Barat” (1993), “Antologi Puisi Rumpun” (1992), “Puisi 1999 Sumatra Barat” (1999), “Parade Sajak-Sajak Indonesia” (1994), “Puisi 50 Tahun Indonesia Merdeka” (1995), dan “Kumpulan Puisi Jalan Bersama” (2008).

Sebagai penyair, ia sering dipercaya menjadi juri lomba cipta puisi dan lomba baca puisi. Ia juga salah seorang juri pemberian nama Bandara Internasional Minangkabau (BIM) di Padang Pariaman. Sering juga diundang membaca puisi di berbagai kota, di antaranya di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta dalam acara “Baca Puisi Jalan Bersama” yang digelar Yayasan Panggung Melayu, 30 November 2008, dan dalam “Panggung Revitalisasi Budaya Melayu” di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Desember 2008.

Namanya juga tercantum dalam buku “Leksikon Susastra Indonesia” (Penyusun Korrie Layun Rampan, Penerbit Balai Pustaka, 2000). Pernah juga menjadi redaktur tamu dan memberikan catatan apresiatif puisi di harian Haluan, Padang, selama satu tahun.

Selain dikenal sebagai penyair, Yurnaldi juga dikenal sebagai seniman: pelukis, kaligrafer, fotografer dengan berpameran beberapa kali dan meraih sejumlah prestasi.

Beberapa kali ia menjuarai dan menjadi juri lomba foto, juga juara dan juri lomba karikatur tingkat nasional. Di samping itu, dia juga mantan Pengurus Harian Dewan Kesenian Sumatra Barat (periode 2005—2007), Koordinator Penggiat Sastra Padang, Pemimpin Produksi Teater Noktah Padang yang telah mementaskan lebih dari 20 kali naskah teater dengan sutradara Suhendri dan Lilik.

Membaca sosok Yurnaldi hari ini seolah tidak akan habis-habisnya, sebanyak membaca tumpukan buku di rumahnya yang membutuhkan waktu untuk ‘dikunyah-kunyah’. Wartawan dan penulis muda layak berguru kepadanya yang tidak pernah pelit ilmu dan selalu rendah hati.

Pintu rumahnya terbuka bagi siapa saja, terutama yang ingin berenang di lautan ilmu yang tak pernah kering. Sebab, seperti yang ia katakan kepada saya, “mengajar hakikatnya belajar”. Ibarat air, jika dialirkan, air akan bening. Begitu pula ilmu, jika dibagi dengan kerendahan hati, manfaatnya akan terasa bagi banyak orang. **Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis

Leave a Response