SAHATE: Inovasi Digital Berbasis Komunitas di RW 12 Kelurahan Pasanggrahan Kecamatan Ujungberung
SAHATE (Sistem Aplikasi Harapan Terpadu). Aplikasi ini digagas oleh Entang Rukman, S.Pd bersama Ketua RW 12, Cecep Kalimana

Secara kontekstual, SAHATE mengintegrasikan tiga unsur utama: Aspirasi warga sebagai sumber utama kebijakan lingkungan. Pengurus RW sebagai fasilitator dan pelaksana. Teknologi digital sebagai alat penghubung dan pengelola data Fitur dan Mekanisme Kerja
KOTA BANDUNG, BANDUNGPOS–Transformasi digital tidak hanya menjadi kebutuhan di tingkat kota dan pusat pemerintahan, tetapi juga semakin relevan di lingkungan masyarakat paling dasar, yaitu Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW). Menjawab tantangan tersebut, RW 12 Kelurahan Pasanggrahan, Kecamatan Ujungberung, melahirkan sebuah inovasi pelayanan berbasis teknologi bernama SAHATE (Sistem Aplikasi Harapan Terpadu). Aplikasi ini digagas oleh Entang Rukman, S.Pd bersama Ketua RW 12, Cecep Kalimana, sebagai bentuk komitmen untuk membangun tata kelola lingkungan yang partisipatif, transparan, dan berorientasi pada kebutuhan warga.
Konteks Sosial dan Tantangan Pelayanan RW
RW sebagai unit kewilayahan terdepan yang memiliki peran strategis dalam menyerap aspirasi masyarakat, mengelola administrasi, serta menjaga keharmonisan sosial. Namun dalam praktiknya, pengelolaan aspirasi warga sering menghadapi berbagai kendala, seperti: Penyampaian keluhan yang tidak terdokumentasi dengan baik, Informasi yang terputus antara warga dan pengurus, Keterbatasan waktu dan sarana komunikasi, Dan, minimnya data yang dapat dijadikan dasar pengambilan keputusan.
Kondisi tersebut mendorong perlunya sebuah sistem terintegrasi yang tidak hanya mempermudah komunikasi, tetapi juga mampu membangun basis data aspirasi dan kebutuhan warga secara berkelanjutan.
Konsep dan Filosofi SAHATE
SAHATE, yang berarti Sistem Aplikasi Harapan Terpadu, mengandung filosofi bahwa setiap warga memiliki harapan yang layak didengar dan ditindaklanjuti. Aplikasi ini dirancang sebagai ruang digital bersama yang menyatukan aspirasi warga dalam satu sistem terstruktur, sehingga harapan tidak lagi bersifat individual dan terpisah, melainkan menjadi bagian dari agenda pembangunan lingkungan.
Secara kontekstual, SAHATE mengintegrasikan tiga unsur utama: Aspirasi warga sebagai sumber utama kebijakan lingkungan. Pengurus RW sebagai fasilitator dan pelaksana. Teknologi digital sebagai alat penghubung dan pengelola data Fitur dan Mekanisme Kerja
Dalam implementasinya, SAHATE berfungsi sebagai platform layanan terpadu RW 12 dengan mekanisme yang sederhana namun sistematis. Warga dapat menyampaikan: Keluhan lingkungan (kebersihan, keamanan, fasilitas umum), . Informasi kejadian atau kondisi darurat. Saran perbaikan layanan dan administrasi RW
Setiap laporan yang masuk tercatat dalam sistem, perintah oleh pengurus RW, dan ditindaklanjuti sesuai skala prioritas. Proses ini memungkinkan adanya jejak digital yang dapat mengevaluasi, mengevaluasi, dan dijadikan bahan perencanaan program kerja RW.
Peran Penggagas dan Kepemimpinan Lokal
Peran Entang Rukman, S.Pd sebagai penggagas menjadi kunci dalam merumuskan konsep SAHATE yang berbasis kebutuhan masyarakat nyata. Dengan latar belakang pemikiran edukatif dan sosial, SAHATE tidak hanya diposisikan sebagai alat teknologi, tetapi juga sebagai media pembelajaran partisipasi warga.
Sementara itu, Cecep Kalimana selaku Ketua RW 12 berperan penting dalam memastikan penerapan SAHATE berjalan secara operasional. Dukungan kepemimpinan RW menjadi faktor utama dalam membangun kepercayaan warga dan mendorong penggunaan aplikasi secara luas.
Kolaborasi antara gagasan dan kepemimpinan ini mencerminkan praktik inovasi berbasis komunitas (community-based Innovation) yang dihilangkan dari kebutuhan lokal.
Dampak Sosial dan Tata Kelola
Sejak diperkenalkannya SAHATE, RW 12 mulai mengalami perubahan pola komunikasi dan pengelolaan aspirasi. Warga memiliki ruang yang lebih jelas dalam menyampaikan pendapat, sementara pengurus RW memperoleh data yang lebih akurat dan terstruktur. Dampak yang diharapkan antara lain: Meningkatnya partisipasi dan rasa memiliki warga, Pengambilan keputusan berdasarkan aspirasi data. Penguatan transparansi dan akuntabilitas pengurus RW. Terbangunnya budaya dialog dan kolaborasi.
Prospek Pengembangan ke Depan
Ke depan, SAHATE berpotensi dikembangkan lebih lanjut dengan penambahan fitur layanan administrasi, integrasi dengan program kelurahan, serta penguatan literasi warga digital. Dengan dukungan semua pihak, SAHATE dapat menjadi model percontohan inovasi pelayanan publik berbasis RW yang dapat direplikasi di wilayah lain.
SAHATE merupakan bukti bahwa inovasi pelayanan publik tidak selalu harus lahir dari struktur besar, tetapi dapat tumbuh dari kepedulian dan kolaborasi masyarakat. Melalui SAHATE, RW 12 Kelurahan Pasanggrahan Kecamatan Ujungberung Kota Bandung menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi sarana pemersatu harapan warga, sekaligus fondasi menuju lingkungan yang lebih responsif, inklusif, dan berkelanjutan. **( release/BNN)





