Kabupaten/KotaSeni Budaya

Museum Sastra Indonesia, Kompas Nurani, dan Reaktivasi Rumah Puisi

87views

Oleh Muhammad Subhan

Puluhan sastrawan ternama Indonesia pun pernah diundang residensi di rumah ini. Mereka bermukim beberapa pekan, lalu menulis karya. Hari ini, sebagian di antara mereka telah tiada, namun jejak pikiran masih tertinggal di sudut-sudut rumah ini.

 

SAYA bahagia di awal tahun Rumah Puisi Taufiq Ismail, yang telah bertransformasi menjadi Museum Sastra Indonesia, menemukan momen aktivasinya. Diresmikan kembali oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, dan sastrawan Taufiq Ismail, Sabtu, 24 Januari 2026, kantong budaya yang berada di pertemuan kaki dua gunung—Singgalang dan Marapi—ini kembali dihidupkan dengan berbagai kegiatan sastra, seni, dan budaya, sama seperti tahun-tahun pertama rumah itu berdiri.

Sebagai pengurus Rumah Puisi Taufiq Ismail generasi pertama (2009—2012), merasakan saya betul betapa hidup dan semaraknya rumah ini dengan berbagai aktivitas sastra. Nyaris tak ada hari tanpa kunjungan, baik dari kalangan pejabat pemerintah, sekolah, perguruan tinggi, hingga masyarakat umum. Termasuk kegiatan-kegiatan pelatihan guru Bahasa Indonesia dan Sanggar Sastra Siswa.

Puluhan sastrawan ternama Indonesia pun pernah diundang residensi di rumah ini. Mereka bermukim beberapa pekan, lalu menulis karya. Hari ini, sebagian di antara mereka telah tiada, namun jejak pikiran masih tertinggal di sudut-sudut rumah ini.

Kemarin, saat memberikan perayaan di panggung publik di depan Rumah Puisi dan Museum Sastra Indonesia, saya melihat dan merasakan keharuan yang mendalam terpancar di kedua bola mata Pak Taufiq Ismail. Di usianya yang telah menginjak 90 tahun, getar suara dan jeda napasnya seolah menyimpan perjalanan panjang pengabdian pada kata-kata. Ia berdiri bukan hanya sebagai penyair besar, melainkan sebagai penjaga ingatan suatu bangsa.

Hari itu, Taufiq Ismail menyampaikan sapaan yang mengetuk batin banyak orang. Dikatakannya, sejak berdiri pada tahun 2008, Rumah Puisi telah menjadi ruang apresiasi sastra yang dihidupkan bersama. Namun, menurutnya, kebahagiaan kali ini berlipat ganda karena rumah tersebut kini bertransformasi dan diaktivasi sebagai Museum Sastra Indonesia.

Museum ini, tegasnya, bukan semata-mata bangunan penyimpan koleksi benda-benda dan kertas usang, melainkan “rumah kenangan” bagi peradaban bangsa. Ia berharap, seiring dengan aktivasi ini, Rumah Puisi semakin luas menebar manfaat dan menjadi sumur ilmu bagi masyarakat, khususnya generasi muda di Sumatera Barat, agar tidak tercerabut dari akar budayanya sendiri.

“Sastra adalah kompas hati nurani,” katanya. “Semoga tempat ini terus menyalakan pelita literasi di tengah arus zaman yang kian menderu.”

Saya teringat satu ungkapan Pak Taufiq Ismail yang sering ia sampaikan di berbagai forum: “generasi muda rabun membaca, pincang menulis”. Ungkapan ini bukan sekadar kritik keras, melainkan peringatan serius terhadap pembangunan dan pendidikan kita. Ia menyentil kenyataan bahwa kemampuan membaca dan menulis memang diajarkan, namun belum sungguh-sungguh dihidupi.

“Rabun membaca” tidak berarti generasi muda buta huruf. Mereka bisa membaca, tapi jarang menuntaskan bacaan, apalagi memikirkan maknanya. Membaca sering berhenti di permukaan: judul, ringkasan, atau potongan pendek di layar gawai. Buku-buku yang menuntut kesabaran, ketekunan, dan daya pikir jarang disentuh. Akibatnya, wawasan menjadi meremehkan dan kemampuan berpikir buruk. Membaca tidak lagi menjadi jalan untuk memahami teks dan konteks, melainkan sekadar aktivitas sesaat.

Sementara itu, “pincang menulis” adalah akibat langsung dari lemahnya tradisi membaca. Menulis bukan sekedar merangkai kata, melainkan menyusun gagasan, menimbang argumen, dan menyampaikan pikiran secara jernih. Ketika bahan bacaan miskin, tulisan pun kehilangan kedalaman. Banyak tulisan lahir terburu-buru, penuh kesalahan bahasa, dan tidak menunjukkan keutuhan pikiran. Menulis tidak dipahami sebagai proses berpikir, melainkan sekadar memenuhi tugas.

Dalam konteks itulah, kehadiran dan aktivasi kembali Rumah Puisi dan Museum Sastra Indonesia menemukan relevansinya—di samping apa yang telah dilakukan Pak Taufiq Ismail puluhan tahun lalu bersama sejumlah sastrawan Indonesia membawa sastra ke sekolah dengan berbagai kegiatan apresiasi sastra. Rumah Puisi dan Museum Sastra ini bukan hanya ruang pamer artefak, tetapi medan perlawanan budaya terhadap kemiskinan literasi. Sebuah ikhtiar agar generasi muda kembali akrab dengan buku, kata, dan perenungan.

Kegiatan yang mengusung tajuk “Baralek Literasi” ini memang tidak dirancang sebagai seremoni formal semata. Ia hadir sebagai pernyataan sikap tentang pentingnya menjaga akar budaya dan tradisi literasi di tengah derasnya modernisasi. Aktivasi ini menandai penguatan fungsi Rumah Puisi yang telah berdiri hampir dua dekade, kini berkembang sebagai ruang ingatan kolektif dan pusat pembelajaran sastra bagi masyarakat luas.

Sementara itu, Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon mengatakan bahwa agenda ini bukan peresmian bangunan baru, melainkan peluncuran kembali fungsi ruang publik dari sebuah institusi yang telah lama menjadi saksi perjalanan intelektual bangsa. Sejak awal berdirinya, Rumah Puisi telah menjadi titik penting bagi sastrawan, budayawan, dan seniman, baik dari dalam maupun luar negeri.

Ia menyebut Rumah Puisi memiliki sejarah yang panjang. Banyak sastrawan dan budayawan besar yang pernah hadir dan berkegiatan di sini. Kini, tempat ini tidak hanya menjadi rumah bagi karya-karya Taufiq Ismail, tetapi juga berkembang menjadi Museum Sastra Indonesia.

Transformasi tersebut membawa beban moral yang mulia. Museum Sastra Indonesia kini menjadi rumah bagi berbagai artefak intelektual bernilai sejarah tinggi. Di dalamnya tersimpan mesin tik tua para tokoh sastra, kacamata, lukisan, mesin cetak manual, radio usang yang pernah menyebarkan karya sastra, tulisan tangan asli “Paus Sastra” HB Jassin, topi dan jaket Sapardi Djoko Damono, kaset rekaman pembacaan, serta ribuan manuskrip dan buku perjalanan sastra Indonesia.

Rumah Puisi Taufiq Ismail merupakan contoh nyata “kantong budaya yang hidup”. Fadli Zon membandingkannya dengan rumah-rumah sastrawan besar di berbagai negara yang berhasil menjadi destinasi wisata budaya sekaligus pusat edukasi berkelas dunia. Menurutnya, kekayaan budaya Indonesia adalah mega keanekaragaman yang harus dipelihara, dilindungi, dikembangkan, dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Tentu saja, aktivasi ini juga diharapkan mampu melahirkan sastrawan baru, sekaligus memperkuat indeks literasi nasional.

Selain Pak Taufiq Ismail, hadir sang istri, Ati Ismail, yang juga tak mampu menyembunyikan rasa harunya. Kepada saya ia menyebut Rumah Puisi sebagai impian panjang untuk menyediakan wadah bagi generasi muda agar mencintai kata-kata dan berpikir kritis melalui sastra.

Taufiq Ismail kembali menegaskan bahwa sastra menjaga kepekaan kemanusiaan dan martabat bangsa, sekaligus menjadi benteng agar generasi muda tetap berpijak pada akar budayanya.

Acara ini menampilkan berbagai tokoh penting, mulai dari jajaran Kementerian Kebudayaan, anggota DPRD Sumatera Barat, pemerintah daerah, Rektor ISI Padang Panjang, budayawan, sastrawan, pegiat literasi, hingga tokoh adat dan masyarakat setempat.

Rangkaian Baralek Literasi berlanjut pada Ahad, 25 Januari 2026, dengan bengkel baca puisi, lomba baca puisi, serta buku diskusi yang melibatkan pelajar dan guru dari berbagai daerah di Sumatera Barat. Dengan rangkaian kegiatan tersebut, Rumah Puisi Taufiq Ismail dan Museum Sastra Indonesia resmi kembali menjadi jantung literasi yang berdenyut di Ranah Minang. ** Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, pendiri Sekolah Menulis elipsis.

Leave a Response