Bandung RayaNasional

MENYONGSONG AWAL RAMADAN SEBAGAI MOMENTUM TRANSFORMASI SPIRITUAL

32views

Ditulis : H. Iding Mashudi
Tanggal : 18 Februari 2026
Redaksi : Askurifai Baksin

Bandungpos Id.
Sambut awal Ramadhan dengan senyum yang merekah dan kegembiraan yang lahir dari kesadaran spiritual. Bulan suci ini bukan sekadar penanda pergantian waktu dalam kalender Hijriah; melainkan momentum transformatif yang menghadirkan ruang kontemplasi dan pemurnian jiwa. Ia datang membawa pesan ilahiah agar manusia kembali menata kehidupan hidupnya pada nilai-nilai ketakwaan.

Pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia telah menetapkan awal Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Keputusan tersebut diumumkan secara resmi oleh Menteri Agama dalam konferensi pers setelah pelaksanaan sidang isbat, sebagai wujud tanggung jawab negara dalam memberikan kepastian kepada umat Islam untuk memulai ibadah puasa secara serentak.

Penetapan ini menjadi pijakan penting bagi masyarakat dalam mempersiapkan diri menyambut bulan suci, baik dari sisi spiritual maupun sosial. Ramadhan menghadirkan kesempatan untuk memperkuat niat, membersihkan hati, dan menata kembali prioritas hidup agar selaras dengan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan.

Secara substansial, puasa bukan sekadar melakukan praktik menahan lapar dan dahaga; melainkan proses pendidikan batin yang mendalam. Ia melatih kesabaran, kejujuran, dan pengendalian diri, sekaligus menumbuhkan empati terhadap hidup mereka dalam keterbatasan. Dalam dimensi ini, Ramadhan membentuk karakter dan integritas pribadi yang lebih kokoh.

Di sisi lain, Ramadhan juga menjadi ruang refleksi kolektif bagi umat untuk memperbaiki hubungan—baik hubungan vertikal kepada Allah SWT maupun hubungan horizontal antarsesama. Semangat berbagi, memperbanyak sedekah, serta mempererat silaturahmi menjadi wujud nyata dari nilai solidaritas dan kasih sayang sosial.

Suasana spiritual yang memabukkan Ramadhan menghadirkan ketenangan yang khas. Lantunan doa, kekhusyukan salat tarawih, serta kebersamaan saat sahur dan berbuka menciptakan keharmonisan yang meneduhkan jiwa. Di tengah dinamika kehidupan modern yang serba cepat, Ramadhan menjadi oase spiritual yang mengembalikan kedalaman makna hidup.

Pada akhirnya, mari kita jadikan Ramadhan sebagai titik tolak pembaruan diri yang berkelanjutan. Dengan niat yang tulus dan komitmen yang kuat, setiap amal yang ditunaikan diharapkan menjadi investasi moral dan spiritual yang bernilai abadi. Sambutlah bulan suci ini dengan penuh syukur dan optimisme, seraya berharap keberkahan dan kedamaian senantiasa menyertai perjalanan kehidupan kita.”””

Leave a Response