DaerahKabupaten/Kota

Melihat Ratusan Anak Hebat Pasaman Barat Unjuk Bakat di “3rd My Rubel Competition”

ula Kantor Bupati Pasaman Barat Sabtu, 7 Februari 2026, hari itu, dibanjiri ribuan orang. Mereka terdiri dari peserta lomba, orang tua, guru, bahkan masyarakat yang penasaran ingin melihat ada keramaian apa di sana.

26views

INI perhelatan literasi terbesar di Kabupaten Pasaman Barat yang pernah saya lihat. Menggelar lebih dari dua puluh cabang kompetisi, diikuti pelajar SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA sederajat, juga guru.

Lebih seratus trofi dan hadiah menarik lainnya disediakan panitia.

Aula Kantor Bupati Pasaman Barat Sabtu, 7 Februari 2026, hari itu, dibanjiri ribuan orang. Mereka terdiri dari peserta lomba, orang tua, guru, bahkan masyarakat yang penasaran ingin melihat ada keramaian apa di sana.

Titik-titik lokasi lomba disebar ke sejumlah aula kantor dinas terkait yang tak jauh dari kantor bupati. Peserta didampingi tim panitia berkaus putih dengan masing-masing tanda pengenal di dada mereka.

Sesudah acara pembukaan yang dihadiri Bupati Pasaman Barat dan sejumlah kepala dinas, saya diantar panitia ke ruang lomba baca puisi. Ya, hari itu saya mengundang panitia menjadi juri, menyaksikan dan menilai penampilan hampir seratus peserta lomba baca puisi tingkat SMP, SMA, dan guru se-Kabupaten Pasaman Barat.

Mereka menunjukkan kebolehan membacakan puisi-puisi dari sejumlah nama penyair Indonesia yang sudah tidak asing lagi di telinga.

Dalam proses penjurian itu, saya menyaksikan banyak bibit muda berbakat sebagai pembaca puisi Andal, dan jika terus diasah di berbagai kompetisi lainnya, mereka berpotensi menjadi juara.

Semua cabang lomba itu diselenggarakan oleh My Rubel, sebuah lembaga bimbingan belajar yang dipimpin oleh seorang guru bernama Lina Syariyenti, S.Pd.

Saya melihat antusiasme yang meluap-luap di aula kantor bupati, dan itu menyadarkan saya bahwa pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu di dalam ruang kelas, tetapi juga sebuah ekosistem dinamis yang memerlukan stimulasi berkelanjutan agar potensi individu dapat berkembang secara optimal.

Bupati Pasaman Barat, H. Yulianto, SH, MM, dalam Berbagainya juga menyebutkan bahwa di tengah derasnya arus globalisasi, kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi mata uang paling berharga bagi suatu daerah.

Kesadaran inilah yang kini tengah dipupuk secara serius oleh Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat melalui sinergi dengan sektor swasta, salah satunya My Rubel.

Pemerintah daerah Pasaman Barat berupaya menciptakan panggung bagi tuna-tuna muda untuk membuktikan diri, dan terbuka untuk segala bentuk kreativitas yang lahir dari kegelisahan, keberanian bereksperimen, serta semangat zaman. Melalui apresiasi ruang-ruang yang inklusif, pemerintah ingin memastikan bahwa ide-ide segar anak muda tidak sekadar tumbuh, tetapi juga mengakses untuk berkontribusi bagi kemajuan daerah, memperkaya khazanah budaya, dan meneguhkan identitas Pasaman Barat di tengah arus perubahan.

Penyelenggaraan kompetisi yang melibatkan hampir seribu pelajar dari berbagai kesempurnaan ini merupakan wujud dari kerinduan akan ruang kompetisi yang sehat. Selain disampaikan Bupati Pasaman Barat, juga tampak para pemangku kepentingan (stakeholder) dan kepala OPD lainnya yang menegaskan bahwa pengembangan pendidikan adalah tanggung jawab kolektif, bukan hanya beban satu instansi saja.

Bupati Yulianto juga menyampaikan bahwa kompetisi ini adalah kawah candradimuka bagi “calon generasi emas” Pasaman Barat yang dipersiapkan untuk menyambut Indonesia Emas 2045. Visi itu sangat relevan mengingat dua dekade mendatang, para peserta lomba inilah yang akan memegang tonggak kepemimpinan.

“Jika hari ini mereka terbiasa bekerja keras, bekerja keras, dan berkolaborasi, maka di masa depan mereka akan tumbuh menjadi individu yang tangguh di tingkat nasional maupun internasional,” ujarnya.

Dalam pengamatan saya, salah satu aspek menarik dari “3rd Rubel Competition 2026” ini adalah keberagaman cabangnya. Dengan 21 cabang lomba yang mencakup olimpiade bidang studi, baca puisi, hingga storytelling, kompetisi ini mencoba merangkul spektrum kecerdasan yang luas. Pendidikan modern tidak lagi hanya memuja nilai matematika atau sains di atas kertas, tetapi juga menghargai kecerdasan linguistik dan kemampuan retorika seperti yang saya saksikan di sana.

Lebih dari sekedar mengejar piala, esensi sejati dari perlombaan ini adalah pembentukan karakter. Hal serupa ditegaskan oleh pemerintah daerah, kegiatan positif seperti pelatihan kedisiplinan, kepercayaan diri, dan mentalitas pantang menyerah.

Bagi seorang pelajar, berdiri di depan banyak orang untuk membacakan puisi atau memecahkan soal rumit di bawah tekanan waktu adalah pelajaran tentang keberanian yang tidak selalu ditemukan dalam buku-buku teks di sekolah.

Kesuksesan acara ini juga menyoroti peran penting lembaga non formal seperti Bimbingan Belajar (Bimbel) My Rubel. Sebagai pelopor bimbel berkonsep rumahan di Pasaman Barat sejak 2016, My Rubel di bawah kepemimpinan Lina Syariyenti menunjukkan bahwa sektor swasta dapat menjadi mitra strategis pemerintah.

Setidaknya 15 tenaga pengajar profesional mendampingi proses belajar anak-anak hebat Pasaman Barat dalam kesehariannya. Lembaga ini tidak hanya fokus pada pengayaan materi sekolah, tetapi juga pada persiapan sekolah unggul dan olimpiade.

Eksistensi lembaga bimbingan belajar yang memiliki visi sosial-edukasi seperti ini membantu mengisi kekosongan yang mungkin belum terjangkau sepenuhnya oleh kurikulum formal. Komitmen mereka dalam menyelenggarakan kompetisi tahunan merupakan bentuk investasi jangka panjang terhadap ekosistem pendidikan di Pasaman Barat. Ketika pemerintah menyediakan fasilitas dan dukungan kebijakan, dan sektor swasta menyediakan inovasi serta pelaksanaan teknis, maka yang diuntungkan adalah masyarakat luas.

Syukurlah, Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat kuat komitmennya untuk menyediakan ruang-ruang itu bagi pengembangan bakat anak muda di berbagai bidang, mulai dari seni hingga literasi. Pernyataan ini merupakan angin segar bagi para praktisi pendidikan, pegiat literasi, dan orang tua.

Namun, tantangan ke depan adalah bagaimana menjaga konsistensi ini agar tidak hanya menjadi euforia sesaat. Investasi pada manusia memang tidak memberikan hasil instan seperti pembangunan infrastruktur fisik. Hasilnya akan terlihat baru pada satu atau dua dekade mendatang.

Dan, langkah awal yang diambil melalui My Rubel Competition 2026 ini adalah bukti bahwa Pasaman Barat sedang membangun fondasi yang kokoh.

Generasi yang unggul tidak lahir dari kenyamanan. Mereka lahir dari tantangan dan kesempatan yang diberikan secara terus-menerus.

Di sudut mana pun suatu daerah berada, kemajuan pendidikan adalah kunci utama. Dengan semangat kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat, cita-cita mencetak generasi emas bukan lagi sekedar slogan atau retorika belaka, melainkan kenyataan yang sedang diupayakan dengan penuh kesungguhan. Sukses, Rubelku. Selamat untuk anak-anak hebat Pasaman Barat. ** Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, pendiri Sekolah Menulis elipsis.

Leave a Response