Oleh: Ridhazia
PEKIK takbir ” Allahu Akbar” yang dikumandangkan Bung Tomo pada peristiwa penyerangan 10 Nopember 1945 adalah ijazah dari KH Hasyim Asy’ari.
Dengan kata lain, ijazah dan Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 yang dikenang sebagai Hari Santri merupakan pilar spiritual pertempuran heroik pada 10 November 1945 di Surabaya yang disebut Hari Pahlawan.
Bung Tomo
Hubungan historis antara Bung Tomo dan Hadratusyaikh KH Hasyim Asy’ari dilukiskan sebagai salah satu potret sinergi paling kuat antara tokoh nasionalis sekuler dan kekuatan spiritual-pesantren dalam perjuangan bangsa.
Menjelang pecahnya pertempuran Bung Tomo tidak hanya sekali, melainkan berulang kali, dalam kurun waktu 1945 hingga 1947 meminta nasihat untuk menyelaraskan strategi perjuangan militernya kepada KH Hasyim Asy’ari di Pesantren Tebuireng,
Dicatat dalam sejarah, pada 17 September 1945 sebelum Insiden Hotel Yamato Bung Tomo sowan ke Pesantren Tebuireng, Jombang pada 17 September 1945 untuk meminta keteguhan spiritual dan menerima fatwa jihad tertulis
Setelah Resolusi Jihad dicetuskan pada 22 Oktober 1945, Bung Tomo kembali menghadap untuk memohon izin menyebarluaskan seruan jihad tersebut melalui siaran Radio Pemberontakan.
Ditunda
Ketika situasi memuncak pada awal November 1945, Bung Tomo sempat meminta restu untuk menyerbu pertahanan Sekutu pada tanggal 9 November 1945.
Namun, Kiai Hasyim memerintahkannya untuk menunda serangan menunggu kedatangan ulama karismatik dari Jawa Barat, yaitu KH Abbas Abdul Jamil dari Buntet Cirebon.
Dan, Bung Tomo mematuhi instruksi tersebut hingga pecahlah pertempuran besar pada 10 November 1945.*
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.

